Opini

Sebuah Siklus 5 tahunan dalam Sepakbola Sleman

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr

“Empat atau Lima tahun lagi, Piala Liga 1 kita boyong ke Lapangan Pemda ini”

Itu adalah kata-kata yang terlontar dari manajer PSS, Sismantoro, ketika melakukan sambutan di perayaan gelar Juara Liga 2 2018.

Empat atau lima tahun? Cuma asal bilang, atau sudah terencana? Pertanyaannya, apakah kalian percaya terhadap sebuah siklus?

Menurut KBBI, siklus adalah putaran waktu yang di dalamnya terdapat rangkaian kejadian yang berulang-ulang secara tetap dan teratur.

Masyarakat Yogyakarta, khususnya masyarakat Sleman selama ini percaya akan sebuah siklus. Dari siklus musim hujan dan kemarau, orang percaya bahwa September adalah kasep-kasepe sumber, dan Desember adalah gede-gedene sumber.

Sampai pada kepercayaan siklus 4 tahunan Gunung Merapi. Mereka percaya bahwa setiap 4 tahun sekali, Gunung Merapi akan kembali bangun dari tidur panjangnya untuk kemudian sekedar batuk atau pilek. Yang paling kentara terutama adalah siklus 2006-2010, dimana pada kedua tahun tersebut Gunung Merapi bergejolak dan mengeluarkan isi perutnya.

Walaupun kebanyakan dari kepercayaan masyarakat Jawa ini, siklus yang dipercayai bukanlah hasil dari dasar sains. Siklus itu lebih berdasarkan kepercayaan dan keyakinan, dan ilmu cocokologi.

Dalam dunia sepakbola, ada satu hal yang saya cermati dan berkaitan dengan sebuah siklus. Hal tersebut adalah adanya siklus 5 tahunan dalam sepakbola di Sleman. Sebuah siklus dengan PSS sebagai pusatnya. Sebuah siklus tentang prestasi yang diraih oleh PSS.

Awal dari siklus tersebut adalah pada tahun 2013. Tahun di mana menjadi tonggak awal kebangkitan sepak bola di Sleman. Tahun ketika PSS mulai merangkak naik dari keterpurukannya selama beberapa tahun ke belakang.

Denyut-denyut nadi gelora sepakbola yang mulai membumbung, diakhiri dengan juara di akhir musim kompetisi. Pada saat itu, PSS berhasil menjadi juara di kompetisi Divisi Utama PT LPIS. Sebuah juara yang tidak dianggap, karena saat itu PSS tidak mendapatkan jatah untuk naik kasta.

Angkat Piala Tanpa Naik Kasta

Sama seperti Gunung Merapi, ketika dia mengakhiri siklusnya dia akan kembali tenang. Walaupun pada kenyataannya di dalam perutnya sedang disiapkan material-material yang siap dikeluarkan pada siklus berikutnya.

Bertahun-tahun kemudian, PSS seperti sedang mempersiapkan semua hal untuk mencapai siklus berikutnya. Tidak akan saya tuliskan apa saja yang dipersiapkan, atau apa saja yang dialami oleh PSS selama itu.

Pada akhirnya, siklus berikutnya ternyata muncul 5 tahun setelah 2013. Pada 4 Desember 2018, menjadi puncak. PSS kembali menjadi juara Liga 2 yang kali ini digagas oleh PT LIB. Untuk kali ini, mereka mendapatkan hak untuk promosi ke Liga 1 2019.

Dari sini, kita bisa menarik sebuah kesimpulan awal bahwa ada sebuah siklus yang akan muncul tiap 5 tahun sekali. Siklus prestasi yang melibatkan PSS.

Kembali menanggapi apa yang dikatakan oleh Pak Sismantoro, bahwa 4 atau 5 tahun lagi piala Liga 1 akan dibawa ke Sleman. Jika dilihat dari siklus itu, maka kita memiliki harapan besar kalau pada 2023 kita bisa kembali mengarak Piala Liga 1 di Sleman.

Perlu digarisbawahi, semoga saja siklus ini bukanlah sesuatu yang tahayul atau hanya sebuah cocokologi, tapi hasil dari sebuah planning matang untuk mencapai prestasi. Manajemen bisa menjadikan siklus 5 tahunan ini  sebagai dasar untuk membuat timeline, tentang target apa yang harus diraih oleh PSS dalam 5 hingga 20 tahun ke depan.

Sehingga harapannya, 5 tahun lagi kita bisa merayakan juara Liga 1, 10 tahun lagi bisa merayakan juara AFC Cup, 15 tahun lagi bisa merayakan Juara Liga Champion Asia, dan pada tahun 2038 kita bisa away ke Jepang dan merayakan Juara Piala Dunia antarklub.

Komentar
Ahmad Indra Pranata

Dokter muda yang mencintai sepakbola, bisa kamu hubungi di akun Twitter @mamas_ahmad

Comments are closed.