Cerita

PSS Sleman di Mata Mereka (2)

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr

After standing with the BCS once, I don’t think I would watch from anywhere else when I go to my next game” – cuplikan percakapan dengan Kenaan Fitch alias KF di awal tahun 2018.

Sebelum masuk ke inti dari tulisan ini, saya ingin menggali ingatan di tulisan yang pertama tentang first impression teman-teman bule saya. Mungkin beberapa dari kalian ingat, ada 4 orang bule yang saya ‘wawancarai’ terkait dengan kesan mereka menonton PSS Sleman untuk pertama kalinya dalam sejarah hidup mereka. Nah, tulisan ini sebenarnya merupakan kelanjutan dari tulisan yang pertama dengan pertanyaan yang hampir sama “Apa kesan pertamamu melihat pertandingan PSS Sleman?” Ceileh kayak drama percintaan aja bahasanya!

Iven, Matt Shaw, dan Keenan (dari kanan ke kiri) yang pendapatnya akan dikupas dalam tulisan ini (source: www.instagram.com/keenanfitch)

Sejujurnya, tulisan ini ingin menggali pendapat lebih dalam dari salah satu teman bule saya yang sebelumnya sudah ada di tulisan yang pertama yaitu Kenaan Fitch alias KF. Kali ini, saya akan nge-mention langsung namanya tanpa pakai inisial-inisialan karena yang bersangkutan justru meminta namanya ditulis. Selebihnya, saya akan mengupas first impression dari 2 orang bule Australia yang tak lain adalah temannya si Keenan ini. Sayangnya, saya justru belum pernah ketemu dengan 2 orang ini. Mereka adalah Iven dan Matt Shaw. Beruntunglah kalian yang sudah pernah bertemu dan nyanyi bareng satu tribun dengan mereka hehehe.

Di tulisan pertama, kalian ingat betul bahwa saya membawa teman-teman bule saya pada tahun 2013 atau sekitar 5 tahun yang lalu. Time flies! Banyak hal yang terjadi, termasuk dalam hidup saya sendiri yang harus merantau ke Negeri Gingseng selama 18 bulan. Lama tak berkabar satu sama lain, saya tidak sengaja mengetahui bahwa Keenan bersama teman-temannya menonton pertandingan PSS Sleman secara langsung di MIS kala menjamu Persip Pekalongan tahun 2017 silam. Pada saat itu, saya ingat betul kalau saya hanya bisa nonton dari layar kaca. I envied them so much! Yep, Keenan balik lagi ke Jogja. Kenapa? Ini kata dia selengkapnya.

“I studied for a Semester in Jogja in 2013. Four years later I only had one semester of university left in my degree, and I wanted to spend this time in Jogja. I’m constantly asked why I chose Jogja, and in general I find the city to be such a liveable place because it’s santai, indah dan ramai. I’ve always got along with the Javanese people; I loved the fact the culture is so different to mine back home and as a ‘bule’ I’ve always been treated like a guest by the locals. Because of this I met some incredible people through kelas at UGM, playing futsal and of course PSS. As a result my friends and I were invited to many PSS games, one time sitting with the BCS” – ujar Keenan.

Setuju bangetlah dengan pendapat Keenan yang bilang Jogja ini santai, indah, dan ramai. Apalagi dengan cara orang Jawa memperlakukan orang asing dengan sangat ramah. Dan beruntungnya, teman-teman Indonesianya Keenan ini juga Sleman Fans. Tentu otomatis Keenan akan selalu diajak nonton pertandingan PSS Sleman, meskipun sebenarnya dia akan berangkat sendiri tanpa diajak siapapun J Bahkan sewaktu PSS Sleman menjamu Persip Pekalongan, dia berdiri di tribun selatan bersama rekan-rekan BCS. Hayo ada yang sadar ngga?? Terus gimana kesan dia ketika berdiri bersama rekan-rekan BCS di tribun selatan? Nih jawabannya!

“The last game I went to was in May 2017. We played Persip Pekalongan and won 4 – 0. It was a memorable game because this was the first time I stood with the BCS behind the goals. The amount of effort members of the BCS put in for each game is remarkable, we don’t have fans like this back in Australia even for our most popular sports (Australian Football & Cricket). They organized 3D Koreo that day, and there was also heaps of pyro happening all around us. Flares, fireworks and rokok-rokok filled the air with smoke, at times making it hard to see the game. But this is the part of the game I enjoy the most, when the fans get involved. Of course we took part in the choruses lead by the BCS; ‘Hey Super Ellja,’ ‘PSS Sleman Ale,’ ‘Sampai Kau Bisa’ and all the rest” – terang Keenan.

Nic, salah satu teman Keenan yang berasal dari Sydney, berdiri di tribun selatan bersama rekan-rekan BCS (source: www.instagram.com/keenanfitch)

Yep, perlu digarisbawahi bahwa Keenan tidak pernah merasakan atmosfer sepakbola ‘segila’ itu di Australia. Pertandingan PSS Sleman saat menjamu Persip Pekalongan bisa menjadi salah satu memori terindah Keenan karena dirinya mengambil bagian dari koreo yang dibuat oleh BCS. Absolutely, he was so proud to be part of them!

Alhamdulilah, Tuhan masih memberikan kesempatan kepada Keenan dan saya untuk bertemu di awal tahun 2017, tepatnya di gelaran Piala Presiden saat PSS Sleman berhadapan dengan Mitra Kukar. Bisa ketemu karena kebetulan Keenan ada di Jogja dan saya sedang menghabiskan liburan musim dingin juga di Jogja. Saat itu tentu menjadi ajang reuni bagi kita berdua. Ceilah! Setelah obrolan panjang, ternyata Keenan ini juga ‘rajin’ bercerita tentang PSS Sleman ke teman-teman Australia lainnya yang kebetulan ada di Jogja. Lalu, bagaimana tanggapan rekan-rekan senegara Keenan ketika mendapatkan kesempatan untuk menonton pertandingan PSS Sleman di MIS secara langsung?

Iven dan salah satu temannya sedang menonton gelaran Piala Presiden tahun 2017 dari tribun barat (source: Keenan’s documentation)

For the first game, we arrived at the stadium slightly late and it was so overcrowded that we could not find our seats (even though we had brought VIP tickets!). There was an amazing atmosphere full of energy that I have not experienced at any other football games in my life. The hardcore Sleman fans were sitting on the opposite stand; they had formed a giant human Garuda (mungkin maksudnya kepala elang jawa) which was really impressive. All the Indonesian fans were very welcoming and excited to see us wearing PSS Selman scarves.” – jelas Matt Shaw

Nah, mungkin pengalaman Matt Shaw ini juga menarik karena dia datang ke stadion pas waktunya agak mepet (menjelang kick off). Kata dia, “untung kita bule tinggi, jadi ga dapet tempat duduk juga oke oke aja masih bisa nonton dengan jelas”. Wajar saja karena mereka datang terlambat di pertandingan pembukaan Piala Presiden 2017.

Hampir sama dengan Matt Shaw, Iven yang tidak lain adalah teman Keenan juga kagum dan takjub dengan atmosfer pembukaan Piala Presiden 2017. Sebenarnya dia tercengang dengan koreo 4D kepala elang yang saat itu ditampilkan oleh rekan-rekan BCS. Tidak hanya itu, dia juga merinding dengan anthem Sampai Kau Bisa yang selalu dinyanyikan di akhir laga. Ini kata Iven selengkapnya!

My favorite is the anthem Sampai Kau Bisa, it is spine-tingling when the whole stadium sings it together after a win. Apart from Sampai Kau Bisa, my favorite chant is seiring jejak langkahku/mendukung super eljaku / jangan kau pernah ragu / kamilah pendukungmu….juossss” – ungkap Iven sambil nambahi kata-kata ‘juossss’ hahaha

Disamping menanyakan perihal kesan mereka tentang PSS Sleman, saya sedikit menyelipkan pendapat mereka tentang fasilitas yang ada di MIS. Overall, fasilitas di MIS sudah cukup OK kok. Kata Iven, selama ada BCS di MIS, dia akan selalu happy! Sa ae mas satu ini. Tapi Matt Shaw punya pandangan yang lain. Dia menjelaskan bahwa sejujurnya dia agak riskan melihat kapasitas stadion yang terbatas dengan puluhan ribu orang yang datang memadati stadion.  “The facilities looked quite dated and with such large crowds jumping with excitement I did wonder whether the stadium could collapse”, katanya. Singkatnya, Matt takut kalau tribunnya ambruk karena ribuan orang loncat-loncat waktu nge-chants hehehe.

Sebelum saya menutup tulisan ini, terlintas di benak saya untuk menanyakan perbandingan atmosfer di tahun 2013 dan 2017 kepada Keenan. Mengapa? Karena dia adalah salah satu bule yang pernah menonton pertandingan PSS Sleman secara langsung pada dua musim yang berbeda, terlebih setelah 4 tahun dia kembali ke Australia. Menurutnya, tidak ada perubahan yang signifikan. Kalaupun ada, trennya justru semakin bagus. Begini respon lebih lengkapnya!

It was a long time since my last PSS game, about four years. One thing I noticed is the new chants, there’s a couple songs in English too, which is great. It’s hard to remember the size of crowds in 2013, but it seems to me the fan base for PSS is growing, and there are fans of all ages from small kids to old men and women. When I first arrived in Jogja I made it a priority to get to a PSS game as soon as possible. I convinced a couple other foreign students to come along with me, and I could tell they really enjoyed it. I look forward to returning to Jogja soon, and standing with the BCS once again, singing the same chants and seeing familiar faces as well as some new ones. Although right now I’m back home in Australia and it’s hard to show support from here, I will continue to support PSS wherever I am in Indonesia, and stay apart of kelompok penggemar sepak bola yang terbaik di Indonesia” – terang Keenan dengan bangga.

Keenan Fitch saat sedang menikmati pembukaan Piala Presiden 2017(source: www.instagram.com/keenanfitch)

Nah, saya pikir semua sepakat bahwa closing statement dari Keenan di atas menyadarkan kita bahwa jarak tidak akan pernah menghalangi kita untuk tetap mendukung PSS Sleman. Tahun 2013 adalah pertama kalinya dia mengenal dan jatuh cinta dengan PSS Sleman. Hingga detik ini, rasa bangga dan cintanya tidak mengendur meskipun terhalang oleh letak geografis. Dari statement-nya, saya yakin bahwa hal pertama kali yang dicarinya ketika mendarat di Jogja adalah jadwal PSS Sleman berlaga di MIS hehehehe. Selama dia sempat, pasti dia akan datang! In the end, saya pikir, dia pantas dijadikan duta PSS Sleman yang dengan positif menyebarkan virus-virus cinta Sepakbola Sleman. Lantas, sudahkah kalian menjadi duta PSS untuk Sepakbola Sleman yang lebih baik?

Komentar

Master Student in Department of Public Policy and Leadership Yeungnam University, South Korea