Cerita

PSS Sleman di Mata Mereka

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr

Sebelum saya masuk ke first impression teman-teman bule saya, baiknya saya ceritakan awal mula pertemuan saya dengan mereka. Pada tahun 2013, saya sempat kenal dengan salah satu mahasiswi Australia yang kebetulan sedang melakukan pertukaran pelajar di salah satu universitas negeri di Jogja.

Kebetulan waktu itu saya masih kuliah dan kenal dekat dengan orang ini, sebut saja LR. Nah, kemudian saya dikenalkan oleh LR kepada salah satu pengurus program pertukaran pelajar ini. Nama programnya adalah ACICIS (Australian Consortium for ‘In-Country’ Indonesian Studies). Setiap semester, akan ada puluhan mahasiswa asal Australia yang bakal datang ke Jogja untuk melakukan pertukaran pelajar.

Oh iya, sebelumnya saya tidak akan menyebutkan nama-nama teman saya dengan nama panjang, tetapi cukup dengan inisial untuk menjaga privacy mereka. Nah, cerita dimulai ketika saya mendaftarkan diri sebagai volunteer di program ACICIS tersebut. Garis besar tugasnya sih membantu mahasiswa asing tersebut mencari tempat tinggal (kos-kosan), menjelaskan tentang kehidupan di Jogja, dan menemani kemanapun mereka pergi selama masa orientasi.

Pada kesempatan yang pertama, saya mendapatkan mahasiswa asing berinisial ZL asal Australia Barat. Kemudian saya dikenalkan oleh teman dekatnya bernama KF yang juga berasal dari kota yang sama. Di sisi lain, saya kebetulan juga memiliki kenalan bernama AAK yang berasal dari Norwegia. Perkenalan dengan AAK dimulai ketika saya mengikuti diskusi akademik di fakultas.

Dari kiri ada KF, ZL, dan AAK seusai pertandingan PSS Sleman vs Persitara Jakarta Utara (Source: Author)

Waktu saya bertemu dengan ZL, KF, dan AAK, saya tidak pernah menonton PSS Sleman. Terakhir kali saya nonton langsung di Maguwoharjo International Stadium (MIS) sekitar tahun 2010 dimana prestasi PSS Sleman waktu itu tidak terlalu menonjol. Ingatan saya tentang PSS Sleman muncul ketika banyak teman saya yang menyebut nama Brigata Curva Sud (BCS), sebuah wadah suporter yang ramai dibicarakan pada tahun 2013.

Oleh karena itu, saya ‘iseng’ mengajak ZL, KF, dan AAK menonton pertandingan PSS Sleman di MIS ketika saat itu berhadapan dengan Persitara Jakarta Utara kalau tidak salah. Saya duduk di tribun merah bersama ketiga orang tersebut. Daaar! Mood saya kacau ketika melihat suasana stadion yang berubah drastis. Suasana stadion yang riuh, ramai, dan hadirnya koreo oleh BCS dan Slemania membuat saya langsung berfikir ‘besok harus selalu datang ke sini lagi!’

Kegilaan tentang PSS Sleman berlanjut tidak hanya dari dalam diri saya, tetapi juga teman-teman bule saya. Mereka sangat sangat girang melihat suasana stadion yang jarang mereka temui di Australia ataupun di Norwegia. Tidak heran apabila setelah pulang menonton pertandingan, mereka semua membeli merchandise PSS Sleman berupa kaos dan syal di luar stadion.

Lucunya, ketika kami keluar stadion (kebetulan kami naik mobil), AAK terlihat kegirangan dengan membuka kaca mobil dan berteriak ‘PSS Sleman’ berkali-kali kepada Sleman Fans yang waktu itu mengendarai motor. Sontak teriakan bule ini disambut tawa hangat teman-teman Sleman Fans yang ada di jalan.

Malam itu kami cukup terhibur karena PSS Sleman menang telak atas lawannya. Menariknya, ketika PSS Sleman berhadapan dengan Lampung FC di final, saya tidak bisa hadir ke stadion karena suatu hal yang tidak bisa ditinggalkan. Alhasil, AAK ‘nekat’ datang sendiri ke MIS dengan menggunakan ojek. Setelah pertandingan selesai, dia langsung bercerita kepada saya tentang pertandingan malam itu. Mungkin PSS Sleman mulai jadi magnet baginya.

EZ sesaat setelah ikut meramaikan koreo pada pertandingan perdana PSS Sleman (Source: Author)

Next, karena sifatnya yang hanya sementara, kedua teman saya harus pulang ke Australia dan AAK meninggalkan Jogja karena sebuah pekerjaan. Pada semester berikutnya, saya ikut program ACICIS kembali dan kali ini menemani bule asal Adelaide. Cerita tentang PSS Sleman menjadi bahan wajib yang harus saya ceritakan kepadanya.

Sontak ketika ada pertandingan, saya dan EZ ini langsung berangkat ke MIS menonton pertandingan. Kesan yang muncul serupa dengan teman-teman saya sebelumnya. EZ ini penggemar bola juga di Australia, tetapi kesan dia terhadap PSS Sleman luar biasa. Dia tidak pernah menemukan atmosfer seramai MIS di Australia sana. Hingga akhirnya, ketika kami berpisah, saya memberikan syal PSS ke EZ sebagai kenang-kenangan.

Secara singkat, ada 4 hal menarik yang menjadi memori luar biasa bagi mereka yaitu atmosfer stadion yang luar biasa riuh, suporter yang penuh dengan kreativitas, kembang api yang gila-gilaan (pyro show), dan adanya koreo dari dua kelompok suporter. Lebih jauh, ini adalah kesan mereka terhadap pertandingan PSS Sleman di Maguwoharjo International Stadium (MIS).

Good mornning Bastian, I am not in Jogja now, I am in Palangkaraya. And of course I cannot forget PSS SLEMAN. Their supporters, particularly Brigata Curva Sud are amazing. The team itself, they are ok – I like the Dutch man, but of course the football they play sometimes lack in finesse. Their kits are really cool, I like the green color. The stadium is modern and nice – no complaints. But yeah, the biggest impression left with me is the fireworks and many songs of Brigata Curva Sud. It is seldom that the ultras are more in numbers than the official supporter club.” (AAK)

AAK, pria asal Norwegia yang nekat datang ke MIS sendiri demi menonton pertandingan final PSS Sleman vs Lampung FC (Source: Author)

Dua hal yang berkesan bagi dia adalah penampilan BCS, termasuk pertunjukkan kembang api dan lagu-lagu (chants) dari BCS itu sendiri. Secara permainan, Adelmund masih menjadi idola, tidak hanya oleh publik Sleman, tetapi juga oleh orang asal Norwegia ini.

Oke, kita berlanjut ke yang lain.

I regularly attend football games in Australia where I’m from. When I attended my first PSS Sleman game in Jogja I was astounded by the atmosphere of the game. The crowd was the most vocal supporters I’ve ever heard. It was incredible to witness the roaring chants and choruses lead by the crowd. When the teams eventually entered the playing field the sky erupted in fireworks and flying streamers. The fans not only had a passion for the game and their team, but it’s obvious PSS fans are crazy about their city and the club. Throughout the game the atmosphere was electric, buzzing everytime there was exciting play, and of course going crazy when there was a goal. Never before did I think fans could be such a significant part of the game. But for me the experience was the wild atmosphere led by the crowd.” (KF)

KF (paling kiri) yang juga merupakan penggila bola di Australia. He was very excited watching Brigata Curva Sud’s performance. (Source: Author)

Nah, si KF ini juga merupakan teman dekat saya asal Australia yang gemar juga nonton bola di sana. Banyak bercerita kalau biasanya dia harus beli beer dulu sebelum nonton bola di stadion (di Australia). Tetapi dia tidak menemukan hal tersebut di MIS, justru dia makan angkringan dulu di sekitar stadion sebelum nonton PSS Sleman berlaga. Yang dia tanyakan waktu itu adalah tidak adanya screen di stadion seperti halnya di Australia yang bisa melihat proses terjadinya gol kembali.

Sama seperti KF, si ZL ini juga tidak ketinggalan untuk membeli kaos PSS Sleman ketika dia menonton PSS Sleman untuk yang kedua kalinya. Satu hal pasti yang saya ingat adalah kecintaan dia terhadap salah satu chant BCS. Ketika BCS menyanyi “Hey Super Elja Super Super Elja, Hey Super Elja Super Super Elja, dst”, si ZL ini juga ikut bernyanyi dengan menggunakan nada tersebut. Kayaknya dia suka sama chant yang satu ini. Ketika di mobil pun, dia juga suka bersiul-siul dengan nada dari chant tersebut. Kalau dites, mungkin dia masih ingat nadanya sampai hari ini.

Hmm ok… well in my opinion it was a very memorable experience one that I tell my friends about in Australia. It wasn’t what I was expecting the crowd was huge, loud, super energetic and passionate about their team. It was great to watch!” (ZL)

Terakhir adalah teman saya yang berasal dari Adelaide yaitu EZ. Orangnya sangat baik dan ramah. Suatu ketika saya ajak nonton PSS Sleman ketika pembukaan liga dimana semua penonton ikut membuat koreo. Beruntungnya, dia juga bisa merasakan koreo itu. Karena orang ini cukup spesial, saya memberikan syal saya kepada dia.

Syal itu sebenarnya cukup bersejarah bagi saya karena sudah saya beli sejak jaman SMA (hampir 7 tahun yang lalu).  Lucunya, setiap dia nonton pertandingan bola di Australia, dia selalu memakai syal itu dan dia selalu menceritakan hal tersebut kepada saya via Facebook. Dia bilang kalau syalnya membawa keberuntungan karena tim yang didukungnya jadi juara. Menarik ya! Ini dia komentar dia tentang PSS Sleman.

As a football fan I was stunned by the atmosphere created by the PSS Sleman fans when I was lucky enough to see the team play in Yogya. The energy, the coordination, the fireworks, the flags and the overwhelming sound inside the stadium was absolutely enough to rival the stadiums of Brazil during the 2014 World Cup. I now carry my treasured PSS Sleman scarf to every soccer match I can, as a reminder of how much love and support was shown for the sport and the team in those unforgettable games.”(EZ)

EZ sampai sekarang masih sering membawa syal asal Sleman itu untuk mendukung tim sepakbola favoritnya di Adelaide. Bagi dia, syal itu membawa keberuntungan! (Source: EZ)

Nah, itu setidaknya cerita menarik yang bisa saya bagikan. Saya juga ingin menyampaikan, mungkin bagi kita (Sleman Fans), apa yang ada di MIS menjadi hal yang biasa, tetapi bagi mereka, menonton PSS Sleman bisa menjadi ‘souvenir’ terindah yang bisa mereka dapatkan dari Jogja.

Hal itu wajar karena sampai sekarang mereka masih mengingat momen-momen itu yang mungkin tidak akan mereka dapatkan di negara asalnya. Saya juga berharap Sleman Fans juga bisa menjadi duta-duta sepakbola Sleman yang dapat menebarkan virus kecintaan terhadap sepakbola Sleman. Sekian dulu dari saya, semoga tulisan ini semakin membuat kita semakin bangga dan dewasa mengawal sang kebanggaan.

Komentar

Master Student in Department of Public Policy and Leadership Yeungnam University, South Korea