Analisis

PSS vs Persijap: Buah Kedisplinan Pemain Persijap

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr

PSS kembali meraih kemenangan di Stadion Maguwoharjo, mengalahkan Persijap dengan susah payah. PSS harus menunggu sampai menit 89, sebelum akhirnya wasit menghadiahkan pinalti setelah Dave Mustaine dilanggar di kotak terlarang. PSS semakin nyaman di puncak, dan memastikan menjadi Capolista grup 3 sampai akhir fase penyisihan. Pada tulisan ini kita akan membahas tentang taktik yang digunakan oleh PSS dan Persijap, terutama cara Persijap meredam serangan PSS Sleman.

Gambar 1. Formasi kedua tim

PSS memulai pertandingan dengan formasi 4-3-3, berbeda dengan saat melawan Timnas U19 akhir pekan lalu yang menggunakan skema 3 bek. Syahrul kembali dipercaya sebagai penjaga gawang sekaligus kapten tim, posisi 4 bek diisi oleh Waluyo, Jodi K, Bagus Nirwanto, dan Ardi Idrus. Sembuhnya Jodi dari cidera membuat coach FM punya banyak pilihan di lini belakang. Absennya El Capitano Busari membuat perubahan di lini tengah, Arie Sandy dipasang bersama dengan Dirga Lasut dan Dave Mustaine. Di lini depan, Riski Novriansyah dibantu oleh Mardiono dan Imam Bagus Kurnia.

Bertanding di kandang lawan, Persijap menggunakan formasi 4-5-1. Amirul di posisi kiper dijaga oleh Lucky, Jufri, Fasta, dan Fauzan di depannya. Persijap memasang 5 gelandang secara langsung, yaitu Latif, Yudha, Adit, Rafi, dan Redo. Sedangkan striker tunggal dipercayakan kepada Oropka.

Jalannya pertandingan

Secara keseluruhan, jalannya pertandingan ini sangat monoton. Persijap menerapkan negatif football, pun dengan PSS yang tidak bermainseperti biasanya.Pada awal babak pertama, PSS Sleman langsung mengambil inisiatif penyerangan. Hampir semua serangan PSS dimulai dari sayap, terutama sayap kiri yang diisi oleh Nono dan Ardi Idrus.

Eksploitasi sayap ini memang satu-satunya jalan yang bisa dilakukan setelah Persijap berhasil “memblokade” area tengah. Dengan formasi 3 gelandang, Dirga-Dave-Arie, secara otomatis Dave akan ditempatkan lebih ke depan. Dirga bergeser ke belakang untuk menjaga kedalaman, peran yang hampir mirip seperti di ISC B lalu, namun berbeda dengan perannya di Liga 2.

Gambar 2. Proses Build Up PSS

Permasalahannya adalah, saat melakukan build up Dirga terlalu mundur ke belakang dan menyisakan gap yang lebar antara dirinya dengan Dave. Saat PSS Dirga atau Arie Sandy menguasai bola, pemain depan Persijap, Tomi Oropka, langsung melakukan pressing, sedangkan pemain persijap lainnya akan menunggu di area pertahanannya. Dengan area tengah yang sudah dipenuhi pemain Persijap, maka satu-satunya opsi yang dimiliki PSS adalah mengalirkan bola ke sayap.Keadaan di atas sekaligus menjadi jawaban mengapa PSS lebih dominan menyerang melalui sayap, dibandingkan lini tengah (Gambar 2).

Pada Gambar 2 bisa kita lihat, bagaimana natural overload yang ada di central permainan kedua tim. Pada saat PSS menyerang, Dave yang ditugaskan berada di belakang striker akan langsung berhadapan dengan 2-3 pemain tengah Persijap. Hal ini menyulitkannya untuk mendapat suplai bola dari Dirga Lasut. Ketika dia berhasil membawa bola, semua ruang gerak akan langsung ditutup, sehingga opsi yang dia miliki hanyalah mengembalikan bola ke belakang.

Fakta bahwa PSS lebih sering menyerang melalui kedua sayapnya juga tidak menghasilkan permainan yang memuaskan. Kombinasi Ardi Idrus dan Nono juga belum terlihat maksimal, banyak miss komunikasi di antara keduanya. Nono terlalu terbawa diri untuk cenderung menggocek bola sehingga pada beberapa kesempatan membuat kehilangan momen. Imam Bagus tidak bermain dengan baik sehingga langsung diganti di menit ke 30.

Dengan formasi 4-5-1, Persijap memiliki keuntungan jumlah pemain di tengah. Natural overload ini dimanfaatkan dengan baik untuk meredam serangan PSS Sleman. Ditambah dengan marking yang ciamik dari lini tengahnya. Membuat PSS kesulitan menyentuh area sepertiga akhir Persijap.

Persijap sendiri menerapkan zonal marking di sepanjang pertandingan, para pemain (terutama pemain tengah) cenderung statis di area pertahanan. Sangat disiplin untuk menjaga areanya dan tidak tertarik ketika pemain PSS memainkan bola di daerah pertahanan PSS. Mereka baru akan bergerak dan memberikan pressing ketika pemain lawan memasuki area yang dijaganya. 2-3 orang akan langsung mengepung pemain yang membawa bola, sehingga akan kesulitan.

Di gambar 3 kita bisa melihat bagaimana para pemain PSS seperti dikerubungi oleh pemain-pemain Persijap. Baik di tengah maupun kedua sayap. Saat Dirga dan Dave berusaha mengontrol permainan dari sisi tengah, mereka berdua akan langusng berhadapan dengan 4 pemain tengah Persijap. Kondisi yang menyulitkan keduanya untuk mengembangkan permainan.

Absennya Busari sangat dirasakan pada pertandingan kali ini. Busari sering ditugaskan untuk menjadi penghubung lini belakang dan lini tengah, biasanya akan beroperasi di antara Arie Sandy dan Dirga Lasut. Peran yang tidak ditemukan pada pertandingan melawan Persijap Jepara malam tadi. Dirga yang digeser ke belakang, sering berdiri sejajar dengan Arie Sandy membuat formasi pivot ganda. Keadaan yang menyebabkan Dave Mustaine terisolir di lini tengah, tidak mendapatkan suplai bola yang mencukupi.

Ketika PSS menyerang lewat sayap, masalah yang sama juga muncul. Saat bola diberikan kepada Nono atau Imam Bagus, akan ada 2 pemain Persijap yang membayanginya. Hal tersebut membuat sayap PSS sangat sering kehilangan bola. Di saat yang sama, pemain PSS di tengah juga kalah jumlah, membuat pemain sayap kesulitan mengalirkan bola ke tengah. Jarang pemain sayap PSS bisa melakukan cutting insdie ke dalam kotak pinalti Persijap, sehingga opsi yang bisa dilakukan adalah mengembalikan bola ke belakang atau langsung melakukan crossing.

Gambar 3. Natural Overload di pertahanan Persijap

Satu hal positif yang bisa dilihat dari skema 3 penyerang yang dimainkan PSS adalah ketiga pemain bisa bertukar posisi dengan bebas. Di awal pertandingan, Mardiono ditempatkan di sisi kiri, Imam/Rossi di sisi kanan, dan Riski Novriansyah di tengah. Sepanjang pertandingan, kita bisa melihat beberapa kali ketiganya melakukan swap position. Sebuah hal yang positif bagi tim PSS memiliki pemain yang versatile, bisa bermain di beberapa posisi.

Kunci Persijap dapat meredam PSS sepanjang pertandingan adalah kedisiplinan para pemain. Disiplin dalam menerapkan taktik yang diinstruksikan oleh pelatih mereka. Kedisiplinan yang membuat pemain-pemain PSS kebingungan untuk membobol pertahanan Persijap. Perbedaan yang ada malam itu hanyalah tendangan 12 pas di penghujung akhir pertandingan.

Sebenarnya penulis mengharapkan di babak kedua PSS bisa melakukan perubahan formasi dengan memperkuat lini tengah. Seperti melakukan mirroring menjadi 4-5-1, ataupun kembali memakai 3-4-3. Dengan lebih banyak pemain di lini tengah, diharapkan PSS bisa melakukan eksploitasi melalui daerah tengah. Hal ini didasarkan bahwa PSS memiliki pemain yang lebih baik dari segi skill maupun stamina.

Semoga pertandingan ini menjadi pelajaran berharga untuk coach Freddy Mulli untuk bisa mengantisipasi lawan yang menggunakan skema mirip dengan yang dimainkan Persijap. Saya pribadi juga memberikan apresiasi kepada semua elemen Persijap yang bermain apik dan legowo.

Never Give Up!

 

Komentar
Ahmad Indra Pranata

Dokter muda yang mencintai sepakbola, bisa kamu hubungi di akun Twitter @mamas_ahmad