Analisis

PSS vs PSIM: Sepakbola Efektif vs Sepakbola Indah

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr

Pertandingan Liga 2 minggu ke-21 antara PSS melawan PSIM Jogja telah berakhir. Tim tuan rumah mampu memenangkan derbi DIY ini dengan skor meyakinkan, 4-0. Pada pertandingan yang tidak dihadiri penonton ini, kita menyaksikan 2 tim dengan tipe permainan yang berbeda. Mari kita analisis bersama-sama.

PSIM datang ke Sleman dengan kekuatan penuh. Komposisi pemainnya sama seperti saat mereka menghadapi Kalteng Putra pada pekan sebelumnya. Coach Bona Simanjuntak menerapkan formasi dasar 4-3-2-1 dengan Ismail Haris sebagai ujung tombak.

Posisi penjaga gawang dipercayakan kepada Ivan, yang dijaga oleh kwartet Riskal Susanto – M Arifin – Fandy Edy – Crah Angger. Tiga gelandang tengah dipercayakan kepada Raymond – Yoga Pratama – Hendika Arga. Kemudian di sisi sayap kanan diisi Hendri Satriadi, dan di kiri ada Supriyadi.

Sementara di kubu PSS, seperti beberapa laga sebelumnya mereka masih belum bisa memainkan para pemain terbaiknya. Setidaknya ada 3 pemain inti yang belum bisa main, atau harus bermain dari bangku cadangan. Ketiganya adalah Jodi Kustiawan, Slamet Budiono, dan Dave Mustainee.

Seto Nurdiantoro sepertinya kembali menerapkan formasi 2 gelandang bertahan, setelah pada putaran pertama dia hanya menggunakan 1 gelandang jangkar. Kali ini, Amarzukih didampingi oleh Arie Sandy. Kemudian, posisi Arie Sandy sebelumnya (bek tengah) diisi oleh Zamzani; yang berduet dengan Rian Miziar. Untuk 2 bek sayap, Seto tidak punya pilihan lain selain memasang Bagus Munyeng dan Vandy Prayogo.

Ichsan Pratama mengisi slot yang tak tergantikan di posisi gelandang serang. Untuk posisi sayap, Rival Lastori ada di sisi kanan, dan Rangga di sisi kiri, serta Gonzales dipasang sebagai ujung tombak.

Pada konferensi pers sehari sebelum pertandingan, coach Bona mengatakan bahwa PSIM akan menerapkan sepakbola indah. Jujur pada saat itu saya belum ada bayangan seperti apa konsep sepakbola indah yang dimaksud. Pada saat pertandingan berlangsung, setidaknya 30 menit awal babak pertama, pencerahan itu belum juga datang.

Permainan sepakbola indah baru mulai dipahami setelah memasuki menit ke 35. Pada saat PSIM sudah tertinggal 3-0 dari PSS. PSIM yang setengah jam awal pertama selalu tertekan, mulai bangkit dan mengembangkan permainan.

PSIM memainkan bola-bola pendek satu dua dan melakukan build up serangan yang rapi dari bawah. Para pemain PSIM piawai dalam menerapkan umpan satu dua dan memanfaatkan ruang antar pemain. Hal ini yang belum dimiliki oleh para pemain PSS Sleman.

Di sisa 10 menit babak pertama, penguasaan bola diambil alih oleh PSIM yang bermain tenang dan sabar. Bahkan pada injury time babak pertama mereka mendapatkan hadiah penalti dari wasit, sayang penendang PSIM tidak berhasil mengarahkan bola ke arah yang benar.

Sepanjang babak kedua, permainan bola pendek masih tetap diperagakan oleh PSIM. Mereka begitu nyaman memainkan bola di area tengah lapangan. Namun para pemain PSIM kesulitan ketika memasuki sepertiga akhir pertahanan PSS.

Faktor pemanfaatan double pivot oleh caoch Seto berhasil meredam para pemain PSIM sebelum masuk ke dalam kotak pinalti PSS. Amarzukih dan Arie Sandy yang diplot di posisi itu lebih stagnan dalam penempatan posisi. Mereka berdua tidak terpancing untuk keluar melebih marking zone mereka. Beberapa kali serangan PSIM berhenti di kaki keduanya.

Salah satu alasan mengapa PSIM nyaman memainkan bola di tengah adalah karena pressing yang dilakukan oleh para pemain PSS. PSS tidak menerapkan high pressing, mereka dengan sabar menuggu pemain PSIM untuk masuk ke dalam area pertahanan PSS. Hanya Gonzales, Rangga, dan Lastori adalah 3 pemain yang diberikan tugas untuk memberikan pressing kepada pemain PSIM, sejak mereka melewati tengah lapangan.

Inilah yang membuat PSIM lebih unggul penguasaan bola, terutama di babak kedua. Namun, permasalahan dari para pemain PSIM adalah ketidakmampuan mereka dalam merangsek masuk ke dalam pertahanan PSS. Alhasil beberapa tendangan jarak jauh dan umpan lambung tak terarah dipergakan oleh para pemain PSIM.

High Pressing yang diterapkan oleh pemain PSIM juga menarik, ini membuat PSS kesulitan untuk kembali menguasai pertandingan, terutama di babak kedua. Hal ini terlihat ketika PSS ingin mebangun serangan dari bawah, ada 2-3 pemain yang langsung memberikan tekanan kepada pemain belakang PSS. Sayangnya, pemain PSS tidak memiliki kemampuan pemanfaatan ruang sebaik PSIM, sehingga kecenderungan para pemain PSS adalah langsung memberikan umpan lambung ke depan.

Sementara PSS bermain dengan sepakbola efektif. Sekitar setengah jam babak pertama, memang PSS menguasai pertandingan. Pada waktu tersebut, mereka mengurung pertahanan PSIM. Alur serangan terpusat pada kedua sayapnya, Rangga dan Lastori. Setelah unggul 3 gol, mereka mengendurkan intensitas serangannya.

Selanjutnya, PSS bermain sabar dan menunggu di area pertahannnya sendiri. Hal ini tentu sangat berbeda dengan pola permainan PSS di pertandingan home sebelum-sebelumnya. Biasanya PSS akan mencoba menguasai permainan, walaupun pada akhirnya bola hanya bergulir di area belakang pemainannya sendiri.

Sebagai gambaran, secara statistik yang dihimpun oleh Slemanfootball, PSS tidak pernah kalah dalam hal possession dari tim tamu. Namun pada sore ini, PSS harus mengakui dominasi PSIM dengan possession 48:52.

Kemenangan PSS kali ini, sebenarnya buah kejelian Seto dan para pemain untuk memanfaatkan celah besar yang ada di sisi kiri pertahanan PSIM. Disana ada Crah Angger yang beberapa kali melakukan kesalahan fatal.

Jika kita cermati, 3 dari 4 gol yang dicetak PSS sore itu berawal dari kesalahan Crah Agger. Lastori dengan cermat memanfaatkan hal itu dan melakukan eksploitasi pada zona itu. Sementara Rangga tampak mendapatkan pengawalan ekstra dari para pemain PSIM, sehingga permainannya sedikit sulit berkembang. Raihan satu gol sudah cukup untuk membuktikan dirinya di pertandingan ini.

Kredit khusus harus kita berikan kepada Ichsan Pratama yang ditugaskan menjadi motor serangan PSS. Ichsan memiliki area bermain yang sangat luas, diposisikan sebagai gelandang serang, dia bergerak sampai pada sisi sayap kanan dan kiri. Pergerakannya yang liar dan zonasi yang luas membuat para pemain tengah PSIM bingung untuk melakukan penjagaan. Ini terbukti dari beberapa kali Ichsan bergerak bebas tak terkawal di sisi sayap.

Double Pivot yang dimotori oleh Sandy dan Amarzukih mungkin menjadi kunci bagaimana PSS meraih cleansheet pada pertandingan ini.  Keduanya tampil solid mengawal lini tengah dan pertahanan PSS. Kedisiplinan mereka dalam menghalau setiap serangan membuat para pemain PSIM kesulitan dalam mendekati kotak pinalti.

Penempatan Sandy di posisi Breaker ini sebenarnya adalah perjudian yang diambil oleh Seto. Sebabnya sejak putaran kedua berjalan, posisi Arie Sandy ditarik ke belakang ke posisi bek tengah. Posisinya tidak tergantikan disana, berduet dengan Jodi atau Miziar.

Pada pertandingan sebelumnya, malah Seto memasang Taufiq sebagai breaker bersama dengan Amarzukih. Penampilan yang kurang meyakinkan dari Taufiq di posisi itu kemungkinan besar yang menjadi alasan Seto melakukan perjudian ini.

Arie Sandy ditarik ke atas, kemudian Zamzani masuk berduet dengan Rian Miziar. Zamzani yang selama putaran kedua jarang mendapatkan kepercayaan dari Seto, diberikan kesempatan. Ternyata gambling berhasil dan PSS bisa menorehkan cleansheet-nya sore itu.

Jika kita cermati, PSS terlihat bermain sabar dan cenderung memanfaatkan serangan balik cepat. 3 dari 4 gol yang dicetak PSS sebenarnya adalah buah dari serangan cepat PSS ke area kotak pinalti PSIM.

Itulah 2 tipe permainan yang bisa kita lihat pada pertandingan sore tadi. PSS dengan Sepakbola efektif, dan PSIM dengan sepakbola indahnya. Namun begitu, apapun sepakbola yang dimainkan, hanya hasil akhir yang diperhitungkan.

Pada wawancara beberapa waktu lalu, Seto mengatakan bahwa pertandingan melawan PSIM akan menjadi evaluasi terhadap performa PSS untuk persiapan menghadapi babak 8 besar. Sudah seharusnya Seto memiliki catatan khusus untuk bisa menyempurnakan pola permainan PSS. Sehingga harapannya tidak terjadi antiklimaks di babak selanjutnya.

Komentar
Ahmad Indra Pranata

Dokter muda yang mencintai sepakbola, bisa kamu hubungi di akun Twitter @mamas_ahmad