Opini

Review Coppa Sleman 2018: Masih Banyak Lubang

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr

Coppa Sleman 2018 telah berakhir dengan menasbihkan PSS Sleman sebagai juara. Dengan mengoleksi 7 poin dari tiga laga, Super Elja berhasil mengungguli Kuala Lumpur FA yang berada pada peringkat kedua dengan selisih 2 poin.

Secara perhitungan poin memang PSS Sleman layak mengangkat tropi, namun secara permainan apakah sudah pantas untuk juara? Sayang sekali belum. Mashi ada banyak faktor yang menjadi lubang dalam tim Laskar Sembada.

Permainan Tanpa Pola

Satu kata untuk permainan PSS Sleman; kacau. Dari tiga laga yang sudah dijalani, PSS belum terlihat bermain dengan pola. Serangan masih mengandalkan beberapa pemain saja terutama kedua sayap. Sayang sekali umpan silang yang sukses diberikan oleh kedua sayap juga dapat dihitung jari.

Saat melakukan build-up kerap terjadi kebingungan dan macet di lini tengah. Bahkan ketika menghadapi pressing tinggi pemain Kuala Lumpur FA di awal babak pertama, bola sudah macet di lini belakang. Belum ada pengertian antar pemain untuk menjadi opsi umpan pemain yang terkena pressing. Kurangnya pengertian antar pemaun juga menjadi salah satu sebab salah umpan juga kali terjadi.

Satu-satunya penampilan PSS yang cukup apik adalah ketika pertandingan melawan PDRM FA di babak pertama. Performa PSS tertolong oleh permainan individu dari Thaufan Hidayat dan Slamet Budiono. Juga tampil apiknya Adi Nugroho dan Ilham Irhas yang cukup kompak walaupun baru beberapa minggu bertemu.

PDRM FA yang memiliki kualitas tidak terlalu baik mungkin juga suatu faktor yang membuat PSS terlihat dominan. Namun, ketika melawan Kuala Lumpur FA bahkan PSS kesulitan menghadapi 9 pemain mereka. Walaupun unggul jumlah pemain, Super Elja tetap saja bingung bagaimana cara mengepakkan sayapnya.

Kebugaran Masih Kurang

Terlihat jelas perbedaan permainan babak pertama dan babak kedua. Intensitas permainan semakin menurun seiring menit berlalu. Kesimpulan paling sederhana: fisik pemain tak mampu menopang permainan. Menuju menit akhir pertandingan, pemain terlihat sangat lelah.

Selain kebugaran fisik yang belum sempurna, tidak adanya pola permainan juga ikut andil dalam lelahnya pemain di menit akhir pertandingan. Bermain tanpa pola tentu lebih menguras tenaga daripada bermain dangan pakem yang pasti.

Banyaknya pelanggaran yang terjadi juga menunjukkan dua hal tersebut: sistem tidak berjalan baik dan fisik menurun akibat kelelahan. Pada dua pertandingan awal, pelanggaran yang dilakukan pemain PSS di babak kedua selalu lebih banyak dari paruh pertama. Situasi yang kerap menyebabkan pelanggaran di menit akhir pertandingan adalah keteteran mengadapi penetrasi lawan sehinga mau tidak mau harus dilanggar.

Kedewasaan Ikut Menjadi Pekerjaan Rumah

Kedewasaan pemain diuji terutama pada pertandingan melawan dua klub Malaysia. Pada pertandingan pertama, pemain dapat mengendalikan emosi walaupun pemain PDRM FA menampilkan permainan keras. Saat salah satu pemain meraka marah-marah dan membanting bola pun tak digubris oleh pemain PSS.

Namun, di pertandingan terakhir kemarahan beberapa pemain tak terbendung. Ada dua insiden yang semestinya tak terjadi. Pertama, saat Hisyam Tolle tak terima rekannya didorong pemain Kuala Lumpur FA. Keributan di akhiri dengan dua kartu kuning dikeluarkan dari saku wasit untuk masing-masing pemain.

Satu lagi keributan terjadi di sisi kiri pertahanan Kuala Lumpur FA ketika paruh kedua berlangsung. Slamet Budiono memukul Junior Guimaro akibat tersulut provokasi pemain asing tersebut. Dua kartu merah diberikan wasit kepada kedua pemain.

Tak seharusnya dua insiden tersebut terjadi. Pemain kedua tim belum sepenuhnya sadar laga ini hanyalah uji tanding yang tujuannya untuk menakar kemampuan tim. Jika ada pemain yang sampai harus dikeluarkan, permainan tak lagi ideal. Tujuan utama laga ini jadi terganggu.

Mungkin salah satu faktor yang membuat pemain mudah tersulut emosinya adalah tekanan untuk juara. Padahal, apa artinya juara turnamen pramusim jika tujuan utama laga untuk mengukur kemampuan tim tidak tercapai.

Tiga Pertandingan, Dua Kebijakan Rotasi

Pada pertandingan pertama, kebijakan Herkis sangatlah bagus dengan memberikan kesempatan bagi enam pemain untuk masuk sebagai pengganti. Pun pada laga kedua, hanya Ilham Irhas yang diturunkan lagi sebagai starting eleven. Sepuluh pemain lain sisanya merupakan pemain yang belum dapat kesempatan turun sejak menit pertama pada pertandingan melawan PDRM FA.

Kebijakan apik pada dua laga awal ternyata berbanding terbalik dengan yang terjadi di pertandingan terakhir. Tercatat hanya Rangga Muslim yang masuk sebagai pemain pengganti. Pada laga tersebut PSS seolah-olah diajari olah Kuala Lumpur FA bagaimana cara memanfaatkan laga pramusim untuk menjajal seluruh pemain. Tujuh pergantian mereka lakukan dan tersisa dua pemain yang masih melakukan pemanasan ketika peluit panjang dibunyikan.

Saatnya Evaluasi

Setelah melihat anak asuhnya bermain dalam tiga laga, tentu coach Herkis membawa pulang banyak catatan. Tugas yang kudu diselesaikan sebelum kompetisi dimulai. Kabarnya menu taktik belum menjadi porsi utama latihan yang diberikan coach Heri Kiswanto. Wajar saja permainan PSS semrawut. Sekarang saatnya porsi taktik ditambah untuk membentuk pola permainan.

Sementara Komarudin juga mendapat pekerjaan rumah yang untuk meningkatkan lagi kebugaran pemain. Melihat para pemain yang staminanya sudah habis sebelum peluit panjang pasti membuat dosen UNY tersebut geregetan. Naluri sebagai pelatih fisik tentu akan menuntunnya kepada rancangan jadwal latihan untuk meningkatkan kebugaran pemain.

Sementara untuk Sleman Fans, harap bersabar. Progres sudah ada. Selanjutnya kita kawal lagi proses menuju tangga juara liga.

Komentar
Andhika Gilang

Perintis @tapakbola. Dapat dihubungi secara personal melalui akun @AndhikaGila_ng