Analisis

Review Laga Final Liga 2 2018: Superior!

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr

Perjalanan PSS di Liga 2 2018 berbuah manis. Super Elja mengakhiri musim ini dengan predikat juara setelah mengalahkan Semen Padang dengan skor  2-0. Stadion Pakansari ini menjadi saksi begitu superiornya Super Elja malam itu.

Kedua tim masuk ke final setelah mengalahkan lawannya di semifinal. Semen Padang mengalahkan Persita Tangerang dengan agregat 3-2, sedangkan PSS menyingkirkan Kalteng Putra dengan agregat 2-0.

Baik Semen Padang maupun PSS turun dengan kekuatan terbaiknya. Adanya pemutihan pemain yang terkena akumulasi dan tidak ada pemain yang cidera membuat Super Elja dan Kabau Sirah menatap laga ini dengan optimistis.

Babak final ini sebenarnya merupakan pengulangan dari permainan kedua tim di babak semifinal. Keduanya tidak melakukan perubahan pada starting line up ataupun pola permainan. Keduanya masih menggunakan pemain yang sama dan bermain dengan cara yang sama seperti saat semifinal.

Coach Rusdiyanto Rusli memasang Rendi Oscario di bawah mistar, Novrianto dan Ngurah Nanak sebagai bek tengah, ditemani Leo Guntara dan sang kapten Hengki Ardiles di posisi bek kanan-kiri. Trio gelandang tengah juga tetap dipercayakan kepada Manda Cingi – Fridolin Yoku – Rudi. Sedangkan 3 pemain yang berposisi asli sebagai penyerang dipasang bersamaan Irsyad Maulana – Riski Novriansyah – Afriansyah.

Di kubu PSS, Seto masih setia dengan winning elevennya, hanya satu perubahan yang dia lakukan. Ikhwan Ciptadi yang sudah bisa main setelah kembali dari akumulasi kartu menggantikan Zamzani. Ega Riski tak tergantikan sebagai penjaga gawang, Gufron – Ikhwan – Bagus Nirwanto – Aditya Putra di belakang. Amarzukih sebagai gelandang bertahan ditemani oleh Dave Mustainee dan Ichsan Pratama. Sedangkan di lini depan, trio Rangga – Lastori – Gonzales masih menjadi andalan Seto.

Seperti yang dikatakan di awal, kedua tim sama sekali tidak melakukan perubahan pola permainan. Semen Padang masih sangat mengandalkan sisi sayapnya untuk mendobrak pertahanan lawan.  Semen Padang masih terlalu bergantung kepada Irsyad Maulana dalam membangun serangan, dan pada pertandingan kali ini jugalah, Irsyad-sentris yang membuat Semen Padang gagal menjadi juara.

Cara bermain Semen Padang ini sudah diantisipasi oleh Seto. Seto telah menyiapkan kontrastrategi untuk meredam kemampuan 3 pemain depan mereka. Tiga pemain depan dengan kelebihannya masing-masing, berhasil diredam oleh pemain belakang PSS.

Untuk Riski Novriansyah, Seto yang telah melatih Riski selama 2 tahun tahu betul bagaimana tipe permainan Riski. Riski yang suka menyamping dan meminta bola daerah. Pergerakan ini sekaligus untuk membuka ruang bagi 2 pemain depan lainnya. Dengan kecepatan dan ball keeping yang baik, Riski akan membuat bek lawan kesulitan menjaganya. Tapi tidak untuk laga final ini, Riski mendapatkan lawan yang tangguh: Gufron.

Gufron mendapatkan instruksi khusus dari Seto untuk menempel ketat Riski. Selama pertandingan, Gufron selalu membayangi Riski, sehingga setiap bola yang mengarah ke Riski selalu bisa dipatahkannya. Kecepatan Riski dalam menerima umpan daerah tidak lagi superior menghadapi lugasnya permainan Gufron.

Untuk Afriansyah, pemain yang ditugaskan untuk menjaganya adalah Aditya Putra Dewa. Di awal pertandingan, beberapa kali Afriansyah lolos dari penjagaannya, dan mampu menciptakan beberapa peluang. Namun setelahnya, Aditya mampu menjaga Afriansyah dengan baik.

Terakhir adalah Irsyad Maulana, PSS sepertinya tau bahwa dengan mematikan Irsyad, sama dengan mematikan lini serang Semen Padang. Hal ini membuat Irsyad mendapatkan pengawalan khusus dari pemain belakang PSS. Setidaknya ada 3 pemain yang diberikan tugas untuk menjaganya. Mereka adalah Bagus Nirwanto, Ikhwan Ciptadi, dan Amarzukih. Hal ini tidak terlepas dari area bermain Irsyad yang luas, kadang dia bergerak di sisi sayap kiri, kadang berpindah di tengah.

Sempat beberapa kali mendapatkan peluang untuk mencetak gol dari kelengahan lini belakang PSS, namun sepanjang pertandingan dia tidak bisa bergerak leluasa karena penjagaan yang begitu rapat.

Melempemnya lini depan Semen Padang tidak lantas membuat lini tengah Semen Padang berusaha untuk memberikan bantuannya ketika melakukan serangan. Manda Cingi, Rudi, dan Yoku tidak bisa mengembangkan permainan dan mengatur tempo. Ketiganya kalah dominan dengan trio gelandang dari PSS.

Apalagi dengan serangan balik yang begitu mematikan dari 3 pemain depan PSS, membuat Manda Cingi dan Yoku tidak bisa leluasa membantu penyerangan. Mereka lebih fokus menjaga kedalaman di lini tengahnya, berjaga – jaga terhadap serangan balik cepat yang bisa kapan saja dilancarkan PSS.

Ditambah lagi dengan tidak maksimalnya peran dari Rudi sebagai gelandang serang malam itu. Rudi tidak terlihat sepanjang pertandingan, fungsinya tidak jelas ketika membantu penyerangan. Mengetahui hal ini, Rusdiyanto segera melakukan pergantian dengan memasukkan Firman Septian dan menarik Rudi.

Hal ini membuat Irsyad beralih fungsi menjadi second striker, dan Firman berada di sisi sayap kiri. Perubahan ini tidak banyak berarti, karena pada perjalanannya Irsyad sering bermain di sisi sayap. Hal ini membuat sayap kiri Semen Padang diisi oleh dua orang, namun keduanya tidak bisa bersinergi dengan baik.

Sama seperti Semen Padang, PSS juga tidak banyak mengubah pola permainannya. Mereka kembali memainkan paten mereka: memulai serangan dari tengah, kemudian dengan cepat mengalirkan bola ke sisi sayap, yang diakhiri dengan umpan kepada Gonzales.

Namun, tampaknya Rusdiyanto Rusli tidak tepat dalam mengantisipasi pola main ini. Lini tengah PSS begitu nyaman dalam memainkan bola dan mengendalikan tempo.

Pada pertandingan ini, Dave berperan penting dalam mengatur tempo permainan saat terjadi transisi positif. Dia bisa menjalankan fungsinya dengan baik: menjadi jembatan lini belakang dengan lini tengah.

Sementara Amarzukih bermain seperti biasanya, menjadi palang pintu tangguh sebelum bola mencaat area bermain pemain belakang. Amarzukih berhasil membuat Rudi dan Yoku tak berdaya ketika berusaha membangun serangan untuk Semen Padang. Dia juga turut membantu melakukan penjagaan terhadap Irsyad Maulana ketika eks timnas itu menguasai bola.

Ichsan, pemain terbaik Liga 2 ini tampil seperti sebelumnya: sebagai gelandang serang. Ichsan diberikan kebebasan memilih area permainannya. Ichsan lebih sering terlihat di area flank di sisi sayap kiri. Bahu membahu bersama Rangga ketika membangun serangan.

Sama seperti lini tengah, lini serang PSS juga tampil sangat dominan. Trio Rangga – Gonzales – Lastori seperti menari – nari di pertahanan Semen Padang. Aliran bola dari kaki ketiganya begitu mengalir. Yang lebih hebat lagi adalah ketiganya begitu fleksibel dalam hal positioning. Tidak ada posisi baku, mereka bebas mengekplorasi area pertahanan lawan.

Jika Semen Padang sering melakukan perubahan posisi pemain sayap (contoh: Irsyad yang biasanya di sayap kiri, terkadang bertukar posisi dengan Riski Novriansyah di penyerang tengah), maka PSS melakukan hal yang sebaliknya. Pemain depan PSS bisa menumpuk di satu tempat dalam satu waktu.

Sepanjang pertandingan, kita bisa menemukan kondisi dimana area kanan pertahanan Semen Padang yang dijaga oleh Hengki Ardiles, digempur habis oleh 3 pemain PSS. Ketiganya adalah Rangga Muslim, Ichsan Pratama, dan Lastori.

Inilah yang saya maksud mereka begitu fleksibel, terutama seorang Lastori. Pemain pinjaman Borneo FC ini bisa berada di area yang seharusnya menjadi kekuasaan Rangga Muslim. Ditambah dengan Ichsan yang memang lebih suka berada di area flank kanan.

3 pemain PSS dalam satu area kecil tentu membuat bek kanan Semen Padang kaget dan keteteran. Hengki Ardiles tidak bisa mengatasi hal ini sehingga membuatnya harus ditarik keluar dan digantikan oleh napas yang lenih muda.

Bukti lain bahwa pergerakan pemain PSS begitu fleksibel adalah di dua gol yang teripta. Rangga yang berposisi asli di sayap kiri, berada di sayap kanan ketika dia mengirimkan umpan crossing manja kepada Gonzales di gol pertama. Kemudian di gol kedua, gantian Lasori yang berada di area kanan ketika dia mencocor bola muntah hasil tendangan Dave.

Di babak kedua, PSS bermain lebih sabar dan memanfaatkan serangan balik. Para pemain menunggu di area pertahanan mereka sendiri, menyisakan 2 pemain di lini depan: pelari cepat di sayap, dan Gonzales yang tinggal menunggu umpan di kotak pinalti.

Di sepanjang 45 menit babak kedua, Semen Padang tidak banyak melakukan perubahan taktik. Mereka sama sekali tidak mengubah cara menyerang, masih mengandalkan lini sayap. Hal ini tentu membuat lini pertahanan PSS nyaman karena memang telah mengantisipasinya sejak awal.

Bola-bola daerah kepada penyerang sayap coba mereka peragakan. Target mereka adalah Firman Septian, Riski Novriansyah, dan Irsyad Maulana. Namun gemilangnya lini pertahanan PSS dalam mengantisipasi aliran bola ini membuat serangan Semen Padang buntu.

PSS lebih memainkan tempo pertandingan di babak kedua. Mereka bermain dengan santai, dari kaki ke kaki dan tidak grusa-grusu. Ketika menguasai bola, aliran bola sangat lancar, Dave menjadi kunci sentral dalam hal ini. Dia tau kapan harus menahan bola, dan kapan harus mengalirkan bola ke depan. Dari kakinya, bola bisa didistribusikan dengan baik ke segala sisi pertahanan Semen Padang. Perannya begitu bagus, sayang harus ternoda dengan tindakan jahilnya yang membuat dia mendapatkan kartu kuning.

PSS beberapa kali mendapatkan peluang untuk menambah keunggulan melalui skema serangan balik cepat, namun gagal menambah gol. Salah satunya adalah ketika Rangga Muslim menerima umpan dari Ega Risky dan lolos dari kejaran bek sayap Semen Padang. Ketika di dalam kotak pinalti, sudah ada Gonzlaes yang menunggu umpan manisnya. Namun sayang umpan yang dikirimkannya masih bisa ditangkap oleh Rendi Oscario.

Taktik yang saya sebut sebagai taktik “memanjakan Gonzales” ini yang membuat Slamet Budiono dan Rosi kesulitan mendapatkan tempat di starting line up. Karena Seto membutuhkan pemain yang suka menyisir area sayap kemudian memberikan umpan ke depan kotak pinalti. Hal itu bisa ditemukan di Rangga dan Lasori. Sedangkan Budi dan Rossi memiliki kecenderungan untuk melakukan tusukan ke kotak pinalti dan melakukan tembakan langsung ke arah gawang.

Bukti nyata adalah 2 kesempatan emas yang didapatkan oleh Budi di akhir babak kedua. Budi lebih memilih untuk melakukan tendangan langsung ke gawang, padahal Gonzales punya posisi yang lebih bagus untuk mencetak gol.

Pada akhirnya, PSS menjadi tim yang lebih superior dalam pertandingan ini. Mereka begitu perkasa di segala lini. Sedangkan Semen Padang gagal dalam melakukan perubahan taktik ketika penyerang sayap mereka dimatikan. Terlebih, Semen Padang kemudian terbawa tempo lambat yang diterapkan lini tengah PSS. Di partai Final ini, Seto menjadi pelatih yang lebih baik dalam mempersiapkan strategi, dan gelar juara adalah hadiahnya. Ini juga menjadi pembuktian Seto, bahwa dia bukanlah Seto yang pernah dipermalukan di Final ISC B, dua tahun lalu.

Selamat PSS! Jangan cepat puas.

Komentar
Ahmad Indra Pranata

Dokter muda yang mencintai sepakbola, bisa kamu hubungi di akun Twitter @mamas_ahmad