Analisis

Review Persiba vs PSS: Efektivitas Serangan Balik

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr

Setelah libur kompetisi lebih dari satu bulan, Super Elja kembali melanjutkan perjuangannya di Liga 2. Mengawali perjuangannya, PSS harus bertandang ke Stadion Batakan, kandang dari Persiba Balikpapan. Pada pertandingan tersebut PSS berhasil mempencundangi tuan rumah dengan skor telak 1-4.

PSS membawa skuat pincang ke Kalimantan, pasca masalah legalitas Cristian Gonzales dan cederanya I Made Wirahadi serta Ilhamul Irhaz. Coach Seto menurunkan skuat yang hampir sama seperti saat melawan Martapura FC. Mengusung formasi dasar 4-3-3, Ega Rizky di posisi penjaga gawang, Bagus Nirwanto, Zamzani, Tole, dan Vandy Prayogo di posisi back four.

Arie Sandy tidak tergantikan di posisi DMF, menopang Ichsan Pratama dan Dave Mustainee yang diplot sebagai motor serangan. Tiga pemain depan dipercayakan kepada Tambun, Lastori, dan Slamet Budiono.

Persiba pun tidak bermain dengan kekuatan penuh, nama seperti Suni Hisbullah dan Yus Arfandi tidak ada di sebelas pertama. Sebagai gantinya, coach Wanderley memasang Rokani dan Heri. Di lini tengah, Brian Cesar berduet dengan Yosef dan Dwi. Ketiganya menopang Dimas, Siswanto, dan Frengky di lini depan.

Babak Pertama

Di awal babak pertama, PSS mengambil inisiatif untuk meguasai permainan. Umpan-umpan pendek antar pemain diperagakan. Pemain PSS terlihat sangat tenang ketika menguasai bola, terutama saat mendapat pressing dari pemain Persiba. Umpan-umpan lambung bingung dari belakang ke depan tidak terlihat sepanjang pertandingan (kecuali clearance). Umpan satu dua dipadukan dengan umpan terobosan terukur ke arah sayap diperagakan PSS di sepuluh menit awal babak pertama.

Gol pertama PSS bermula dari pelanggaran pemain Persiba terhadap gelandang PSS. Dave Mustaine berniat mengarahkan bola ke tiang dekat, namun mengenai kepala salah satu pagar hidup Persiba. Bola yang berubah arah mengenai mistar gawang kemudian disosor oleh Bagus Nirwanto, 0-1 untuk keunggulan PSS.

Selepas gol pertama, Persiba beralih menguasai permainan. Sementara itu pemain PSS terlihat bersabar, mengunggu para pemain Persiba memasuki sepertiga akhir pertahanan mereka. Persiba mencoba memanfaat samping lapangan untuk menembus pertahanan PSS. Siswanto dan Frengky Tornado beberapa kali berhasil mengelabuhi Bagus Nirwanto dan Vandy prayogo. Dari skema tersebut, Persiba berhasil mencuri satu gol. Berawal dari Fengky Tornado yang berhasil merangsek dari sisi kanan pertahanan PSS, mengirimkan umpan ke kotak penalti dan dieksekusi dengan baik oleh Siswanto.

Sepanjang babak pertama, PSS menerapkan baris pertahanan rendah. Dengan strategi tersebut, membuat Persiba kesulitan menembus pertahanan PSS. Super Elja tampaknya sengaja untuk menunggu kesalahan yang dilakukan oleh pemain Persiba dan segera melancarkan serangan balik cepat.

Taktik ini seperti meniru yang dilakukan oleh PSS di Piala Presiden tahun 2017, saat PSS dilatih oleh Fredy Muli. Kala itu, PSS juga menerapkan garis pertahanan rendah (saat melawan Persipura dan Mitra Kukar), menunggu pemain lawan kehilangan bola. Ketika bola berhasil direbut, pemain belakang (Waluyo saat itu) akan langsung mengirimkannya kepada Chandra Waskito atau Riski Novriansyah yang sudah menunggu di belakang garis tengah.

Tapi yang diterapkan PSS saat melawan Persiba adalah versi upgrade dari Pilpres lalu. Saya berani bilang seperti itu karena saat ini para pemain terlihat lebih dewasa dan terstruktur saat melakukan serangan balik. Para pemain tidak terburu-buru mengirimkan umpan kepada pemain depan. Skema fast break selalu diawali oleh 2 pemain: Dave dan Ichsan Pratama.

Setelah pemain belakang berhasil merebut bola, bola akan langsung diberikan kepada Dave atau Ichsan. Dari kaki keduanya, bola akan dikirimkan kepada kedua sayap PSS yang sudah bersiap menerima bola. Sebagai pengganti Kito dan Riski, PSS memiliki pelari dan finisher: Slamet Budiono dan Lastori. Di bangku cadangan juga masih ada Rangga, Thaufan, dan Mila. Ini adalah versi upgrade dan final patch.

Peran Dave Mustaine di lini tengah pasca Seto menjadi pelatih memang sangat vital. Dave diberi tugas untuk menjadi inisiator serangan. Bertugas menahan dan membagi bola untuk pemain-pemain lainnya.

Peran ini terlihat saat pertandingan melawan Persiba, saat pemain belakang berhasil merebut bola dari pemain lawan, mereka tidak langsung mengirimkan umpan ke depan namun akan memberikannya kepada Dave. Dave yang kemudian meneruskannya kepada ketiga pemain depan PSS yang sudah bersiap di posisinya masing – masing.

Gol kedua dari Rifal Lastori berawal ketika Dave mendapatkan bola di pertahanan PSS, kemudian dia mengirimkan umpan jauh ke depan kepada Slamet Budiono yang sudah bersiap menerima umpan. Budi yang bebas dari pengawalan kemudian mengirimkan umpan mendatar ke dalam kotak pinalti dan diselesaikan dengan brilian oleh Lastori.

Babak Kedua

Babak kedua berjalan menarik, setidaknya pada dua puluh menit awal. Kedua tim saling berbalas serangan. Pertandingan berjalan menarik, Persiba memiliki banyak peluang emas, buah dari koordinasi yang buruk di lini belakang PSS. Namun semua peluang tersebut digagalkan oleh Ega Rizki bermain cemerlang (walaupun juga sempat melakukan beberapa blunder).

Hampir semua peluang yang dimiliki oleh Persiba berawal dari bola -bola atas. Pemain belakang PSS sering gagal mengantisipasi bola-bola atas dan juga bola pantul. Zamzani dan Tole bergiliran melakukan kesalahan melakukan antisipasi lob yang diarahkan oleh pemain belakang Persiba ke pertahanan PSS.

Mereka tidak langsung mengambil bola pada kesempatan pertama, namun memilih menunggu bola jatuh ke tanah dan memantul. Yang menjadi permasalahan adalah beberapa kali mereka salah antisipasi bola pantul (2nd ball) tersebut. Keadaan ini yang beberapa kali dimanfaatkan oleh Dimas Galih dan Siswanto untuk menerobos pertahanan PSS.

Dua puluh menit awal babak kedua, Persiba bermain lebih dominan. Mereka berusaha mengejar ketertinggalan dan terus menggempur pertahanan PSS. Sementara PSS tetap memasang pertahanan rendah dan menunggu saat tepat untuk melakukan serangan balik. Yang menjadi dari kedua tim adalah efektifitas serangan.

Persiba lebih banyak menguasai bola, namun tidak bisa menjebol gawang PSS. Sedangkan Super Elja bermain efektif, dua gol berhasil diciptakan dari serangan balik memanfaatkan kelengahan barisan belakang Persiba.

Selepas menit ke-66, PSS mengambil alih jalannya pertandingan. Para pemain sangat percaya diri setelah unggul 1-4 atas tuan rumah. Ditambah, fisik para pemain Persiba yang sudah kedodoran. Berbeda dengan fisik pemain PSS, yang terlihat lebih bugar. Otomatis para pemain PSS leluasa memainkan bola tanpa adanya pressing berarti dari lawan.

Di pertengahan babak kedua, Seto memasukkan Samsul dan menginstruksikan para pemainnya untuk bermain lebih enjoy dan menjaga tempo. Hal tersebut wajar dilakukan karena PSS sudah unggul jauh dan menjaga kondisi untuk pertandingan melawan Kalteng Putra. Sampai peluit akhir dibunyikan, tidak ada tambahan gol yang tercipta dan PSS berhasil mencatat kemenangan tandang kedua musim ini.

Setelah ditangani Seto, PSS Sleman makin menunjukkan karakter bermainnya. Proses build up rapi dengan umpan -umpan pendek dari belakang diperlihatkan para punggawa Super Elja. Serangan balik cepat menjadi “Deadly Weapon” PSS ketika bermain tandang. Passion dan keinginan untuk menang terlihat dari seluruh pemain yang berada di lapangan. Kita harapkan atmosfer seperti ini tetap terjaga sampai akhir kompetisi.

Komentar
Ahmad Indra Pranata

Dokter muda yang mencintai sepakbola, bisa kamu hubungi di akun Twitter @mamas_ahmad