Analisis

Persibas Banyumas Vs PSS Sleman: Tiga Tanpa Balas

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr

PSS memulai putaran kedua dengan bertandang ke Stadion Satria, kandang dari Persibas Banyumas. PSS datang ke Purwokerto dengan target meraih kemenangan untuk menjaga jarak dengan pesaing terdekatnya. PSS datang dengan waspada karena pada pertemuan sebelumnya sempat dibuat repot oleh permainan cantik yang diperagakan oleh Persibas. Namun secara mengejutkan PSS meraih kemenangan meyakinkan sore itu, dengan membantai tuan rumah Persibas dengan skor 0-3. Gol dicetak oleh Dirga Lasut, Hisyam Tolle, dan Rossi Noprihanis. Dengan kemenangan ini PSS semakin nyaman di puncak klasemen grup 3 dengan poin 19, berjarak 4 poin dari PSCS Cilacap.

Formasi

Persibas turun dengan formasi 4-2-3-1, berbeda dengan saat bertandang ke Maguwoharjo pekan sebelumnya. Persibas nampaknya ingin bermain menyerang dan mengincar kemenangan di laga sore itu. Persibas langsung memasang Andik Rahmat, dan secara mengejutkan mencadangkan Apriyogi.

Di belakang, Persibas tidak diperkuat oleh bek andalan mereka Triyan. Posisinya digantikan oleh Didi, yang bahu membahu dengan Alan, Koirul dan Asep. Andesi masih menjadi andalan di lini tengah Persibas, ditemani oleh Nanto, Tedi dan Irkham.  Andik Rahmat ditempatkan di belakang striker tunggal mereka, Solikul Islam. Keputusan pelatih untuk membangkucadangkan Apriyogi patut dipertanyakan karena di pertemuan sebelumnya, pemain ini berhasil membuat lini belakang PSS kewalahan.

PSS sendiri menurunkan formasi yang tidak seperti biasanya. Di awal laga, ketika akun twitter PSS mengumumkan starting line up, banyak pihak yang mengira-ira PSS memainkan formasi 4-4-2 diamond. Menempatkan Tole sebagai DMF dan Dave Mustaine sebagai AMF.

Gambar 1. Formasi awal kedua tim

Setelah sepak mula babak pertama, secara mengejutkan FM menggunakan skema 3 bek, dengan memasangkan Zamzani – Waluyo – Tolle. Tedi Berlian dan Bagus Nirwanto yang sebelumnya di posisikan sebagai bek kanan dan kiri, ditarik maju ke depan menjadi wing back.  Absennya Arie Sandy, membuat FM mau tidak mau memasangkan Dirga dan Busari sebagai 2 poros di lini tengah. Untuk 3 pemain depan, dipercayakan kepada Rossi, Dave Mustaine dan Rizki N. Dengan penempatan seperti itu, coach FM mempergunakan formasi 3-4-3. Untuk pertama kalinya PSS menggunakan skema 3 bek selepas kepelatihan coach Sartono Anwar.

Keputusan memakai 3 bek dan 2 wingback oleh coach FM terbilang berani. Karena secara taktikal, tugas dari 2 wingback adalah membantu penyerangan dan pertahanan. Seorang wingback dituntut untuk memiliki stamina baik, supaya mampu naik turun sepanjang pertandingan. Tantangan lain adalah, tidak banyak pemain Indonesia yang bisa memahami  tugasnya saat dipasangkan menjadi wingback. Dibutuhkan pemahaman taktik yang baik tentang penempatan posisi seorang wingback, baik saat menyerang atau bertahan.

2 wingback harus secara cepat dan tepat mundur ke belakang menutup ruang gerak lawan ketika tim dalam keadaan tertekan. Keduanya akan mundur, membentuk 5 bek sejajar di belakang. Jika hal ini dilakukan dengan tepat, maka tim akan memiliki pertahanan yang begitu kokoh. Sebaliknya, jika wingback terlambat melakukan cover atau trackback, maka ruang yang terbuka di area sayap akan dimanfaatkan oleh lawan untuk melakukan serangan.Gambar 2. Perubahan Formasi PSS saat tertekan.

Gambar 2 menunjukkan transisi formasi PSS saat menyerang menjadi bertahan. Tedi Berlian dan Bagus Nirwanto harus cepat bergerak turun sejajar dengan 3 bek di belakang, membentuk 5 pemain dengan posisi sejajar. Tidak hanya itu, dua penyerang sayap juga diberikan tugas untuk membantu pertahanan. Rossi dan Dave akan turun ke belakang, membantu Dirga dan Busari untuk menetralkan lini tengah PSS Sleman. Dengan perubahan ini, formasi dasar 3-4-3 akan berubah menjadi 5-4-1.

Formasi 3-4-3 sendiri diperkenalkan (kembali) kepada dunia oleh Antonio Conte, saat membawa Chelsea menjuarai Liga Inggris 2016/2017. Mungkin bagi penikmat Liga Italia, sudah tidak asing dengan skema 3 bek yang diadposi oleh beberapa tim. Perbedaan 3-4-3 ala Conte dan coach FM menurut saya ada di pemilihan 2 gelandang di depan 3 bek. Di Chelsea, Conte mempercayakan posisi tersebut kepada para gelandang tipe breaker dan fisik mumpuni: Nemanja Matic dan N’golo Kante. Hal itu dilakukan untuk mengantisipasi serangan cepat oleh lawan. Sedangkan, coach FM memilih Busari dan Dirga, kedua gelandang ini lebih stylish dan memiliki kecenderungan untuk menyerang dibandingkan bertahan.

Namun, pada pertandingan ini pemilihan keduanya bukan suatu kesalahan. Karena Dirga dan Busari dapat mempertahankan tempo permainan sekaligus menetralisir setiap serangan yang dibangun Persibas.

Jalannya pertandingan

DI babak pertama, PSS langsung menguasai pertandingan. Serangan-serangan PSS dimulai dari belakang, terutama dari kaki Tolle. Hal ini agak berbeda dengan pertandingan-pertandingan sebelumnya, ketika Waluyo yang memainkan peran ini. Umpan-umpan lambung yang mengarah kepada penyerang sayap atau wingback kerap diunjukkan oleh barisan belakang PSS Sleman. Tolle dapat menjalankan peran dengan baik, dia menjadi bek yang paling banyak melakukan operan. Sepanjang pertandingan Tolle melakukan 25x operan, dengan presentase keberhasilan 89%.

Build up tidak melulu dilakukan dengan umpan-umpan lambung dari belakang. Merujuk dari keterangan yang dikeluarkan coach FM, PSS akan bermain menyesuaikan dengan kondisi lapangan. Dirga dan Busari masih mendominasi jumlah passing dibandingkan pemain lainnya. Busari berhasil mencatat 49 kali umpan, sedangkan Dirga Lasut 43 kali umpan. Peran keduanya lebih ditekankan kepada menjaga tempo permainan tim. Keduanya lebih sering mengirimkan umpan ke area samping, dibanding mencoba untuk eksploitasi lini tengah. Namun pada kenyataannya, Dirga stealing the show dengan mencetak 1 gol setelah memanfaatkan ruang kosong yang ditinggalkan lini tengah Persibas (Gambar 5).

Busari dan Dirga Lasut juga berperan dalam proses build up melalui area tengah, terutama Dirga Lasut. Umpan-umpan daerah sering diberikan dari tengah lapangan menuju area half space, yang diisi oleh Rossi dan Dave Mustaine. Dengan diplotnya Tedi Berlian dan Bagus Nirwanto sebagai wingback, membuat keduanya menguasai area flank saat PSS melakukan penyerangan. Membuat Rossi dan Dave tergeser dan mengisi area half space (Gambar 3).

Gambar 3. Penempatan tiap pemain PSS

Permainan apik ditunjukkan kedua wingback sekaligus menyangkal ketakutan saya terhadap skema 3 bek. Beruntung sore itu Persibas tidak bisa mengeksploitasi area sayap PSS, seperti pada pertemuan sebelumnya. Apriyogi yang sebelumnya membuat Bagus Nirwanto kewalahan tidak berada di lapangan di sepanjang babak pertama. Mungkin jika pemain ini dipasang sejak awal, jalannya pertandingan akan sedikit berbeda. Dimana Bagus tidak akan leluasa dalam membantu penyerangan. Tanpa adanya tekanan berarti di area sayap, membuat keduanya mampu membantu penyerangan.

Untuk masalah stamina, Tedi dan Bagus tampak sudah siap memerankan peran barunya yang membutuhkan tenaga ekstra. Terbukti mereka mampu bermain sepanjang 90 menit, tanpa tanda-tanda kelelahan.

Bahkan, saya berani bilang bahwa kemenangan PSS sore itu adalah hasil dari cemerlangnya kedua pemain ini. Pada gol pertama, pergerakan Tedi Berlian di sisi kanan berhasil membuat pertahanan Persibas kebingungan. Tedi mengirimkan umpan kepada Dave, yang selanjutnya memberikan assist kepada Dirga Lasut. Gol kedua berawal dari pergerakan Bagus Nirwanto di area flank Persibas yang kosong. Hal ini memaksa pemain Persibas melakukan pelanggaran. Dirga yang menjadi eksekutor mampu mengirimkan umpan manis kepada Tolle, yang dengan tenang menyundul bola ke sudut kanan gawang yang dijaga Wendra.

Secara statistik, permainan dua pemain ini (Tedi dan Bagus) begitu dominan dibandingkan dengan dengan pertandingan mereka di putaran pertama. DI pertandingan melawan Persibas, Tedi berhasil mencatatkan 7 kali crossing, dengan tingkat keberhasilan 42%. Bagus Nirwanto juga berhasil melakukan 7 kali crossing dengan tingkat keberhasilan 57%. Catatan keduanya ini sangat berbading terbalik ketika mereka dimainkan sebagai bek kanan dan kiri. Sebagai catatan, di putaran pertama (& pertandingan), Tedi “hanya” mengirimkan 23 umpan tarik  (3,2 crossing per match) ; Bagus Nirwanto mengirimkan 19 umpan tarik (2,7 crossing per match).

Tidak hanya itu, peran keduanya dalam proses pembuatan peluang juga terekam nyata di catatan statistik yang dirangkum oleh tim Sleman-Football.  Selama putaran pertama, Bagus Nirwanto berhasil mencatatkan 3x chance created. Pada pertandingan melawan Persibas Banyumas ini, selama 90 menit Bagus Nirwanto berhasil menyamai catatan selama putaran pertama, dengan 3 chance created. Superb!!

Pembagian area antara kedua wingback dan penyerang sayap PSS adalah hal penting, bagaimana kedua wingback PSS leluasa melakukan eksploitasi di area flank. Para pemain Persibas terpancing oleh dua penyerang sayap (Rossi dan Dave) yang begitu aktif bergerak. Sehingga meninggalkan area mereka. Hal ini sering disebut dengan istilah Third man run. Skema tersebut membuat wingback PSS leluasa dan mendapatkan ruang yang cukup untuk melakukan crossing (Gambar 4).

Gambar 4. Skema Third Run oleh Wingback PSS Sleman

Di babak pertama, kombinasi yang baik ditunjukkan oleh pergerakan wingback dan penyerang sayap, terutama di area flank dan Half space. Beberapa kali mereka memainkan bola di samping dan menarik para pemain Persibas untuk meninggalkan area tengah. Di saat itu, dua gelandang PSS (yang memang bertipe menyerang) mendapatkan ruang kosong yang kemudian dimanfaatkan untuk melakukan shooting. Dari skema ini, baik Dirga Lasut juga Busari berhasil mencatatkan 3x shoots on target yang salah satunya berbuah gol pertama untuk PSS Sleman (Gambar 5).

Gambar 5. Ruang kosong yang dimanfaatkan gelandang PSS untuk melakukan shooting jarak jauh

Kombinasi DBD yang ditunggu-tunggu oleh Sleman Fans tampaknya belum bisa disaksikan sore itu. Hal ini dikarenakan taktik yang dipakai oleh coach FM berbeda dengan coach Seto tahun lalu. Tahun lalu, dengan formasi 4-2-3-1 coach Seto benar-benar mengeksploitasi ketiganya (DBD), sehingga banyak kombinasi yang dapat kita saksikan. Sore itu, FM menggunakan 3-4-3 yang lebih menekankan area sayap. Dengan formasi ini, Dave lebih sering bertukar umpan dengan kedua wingback PSS Sleman. Namun, kita juga bisa menyaksikan kontribusi Dave saat memberikan assist kepada Dirga di babak pertama.

Di lini depan, trisula yang dipilih oleh coach FM tampaknya bermain dengan fleksibel. Sesuai dengan keterangan yang diberikan oleh coach FM, bahwa di lapangan, taktik yang diterapkan sangat fleksibel. Rossi – Rizki – Dave, ketiganya diberikan kebebasan oleh coach FM untuk bergerak dan saling bertukar posisi.

Pergerakan ini bisa kita pahami dengan melihat gambar 2. Bagaimana ketiga pemain depan PSS ini sangat nyaman bergerak, bertukar posisi untuk membuka ruang. Dengan kecenderungan Rizki yang sering turun memancing pemain lain, otomatis PSS bermain tanpa target man murni. Dengan kebebasan yang diberikan, Rossi dan Dave bisa mengisi nomor 9 saat PSS menyerang.

Pergerakan lini depan PSS ini tentu saja membuat lini belakang Persibas kebingungan. Dave yang seyogyanya dipasang di area sayap, bisa mencatatkan 3 shoots (2 mengenai mistar, 1 di blok) saat dia beralih fungsi menjadi seorang penyerang tengah. Pun begitu saat Rossi mencetak gol, dia beralih fungsi menjadi pemain nomor 9, bertukar posisi dengan Rizki yang memberikan keypass kepada Imam dari area half space.

Sangat menarik untuk ditunggu bagaimana kolaborasi lini depan PSS ke depannya, ketika mereka sudah diberikan porsi latihan khusus oleh coach FM. Semoga dengan latihan dan pemahaman taktik yang lebih mendalam, kolaborasi tiga pemain depan PSS akan makin menakutkan dan bisa mencetak lebih banyak gol. Belum lagi di bangku cadangan, PSS masih memiliki Kito, Tony, dan Mardiono yang bisa memberikan lebih banyak opsi serangan.

Catatan Dave dan Tolle

Dave dan Ahmad Hisyam Tolle adalah 2 pemain baru yang langsung dimainkan coach FM di pertandingan melawan Persibas Banyumas. Keduanya berhasil mencuri perhatian Sleman Fans setelah masing-masing mencetak 1 Gol (Tolle) dan 1 Assist (Dave). Secara keseluruhan, menurut penulis, keduanya memang bermain sangat baik dan layak mendapatkan apresiasi.

Tolle yang dipasang menjadi bek kiri dalam skema 3 bek bermain sangat kokoh di lini pertahanan. Catatan statistiknya mengungguli dua bek tengah lain. Tolle mencatat 89% umpan berhasil dari total 28 umpan yang dia lakukan. Umpan-umpan yang dia berikan terutama mengarah menuju kedua wingback PSS, seringnya kepada Tedi Berlian. Membuat beberapa kali peluang terbuka untuk para pemain depan PSS. Dalam hal bertahan, Tolle berhasil melakukan 7x tekel, 5 diantaranya berhasil. 10x clearance sepanjang pertandingan. Tolle menjadi pemain PSS yang paling kuat dalam duel udara, 4x duel udara berhasil dimenangkannya saat menjaga lini pertahanan PSS. Bahkan, satu gol yang dia ciptakan juga berasal dari sundulan kepalanya. Tower.

Dave kembali bermain untuk PSS dengan posisi yang berbeda dibanding musim lalu. Musim lalu Dave dipasangkan di belakang Rizki Novriansyah, namun kali ini Dave dipasangkan sejajar dengan Rizki. Dengan formasi 3-4-3 Dave diplot menjadi penyerang sayap, bahu membahu dengan Rizki dan Rossi untuk meneror gawang lawan. Dave sendiri lebih sering bergerak di area half space dan center. Tiga percobaan tendangan berhasil dilakukan oleh Dave, 2 diantaranya harus mencium tiang gawang. Tidak hanya itu, 2 chance created berhasil dia buat, yang salah satunya berbuah assist untuk gol pertama PSS.

Kesimpulan

Pada akhirnya, sore itu PSS memainkan sepak bola yang sangat menarik. Bermain dengan penuh semangat dan berhasil membawa pulang poin penuh. Walaupun begitu, para pemain PSS tidak boleh terlena dan jumawa. Perjalanan masih sangat panjang dan tim-tim yang akan dihadapi ke depannya pasti akan lebih baik.

Dengan aktivitasnya di bursa transfer, membuat PSS memiliki kedalaman skuat yang sangat baik. Tambahan 2 pemain lagi; Mardiono dan Ardi Idrus diharapkan bisa memberikan coach FM banyak pilihan dalam menentukan starting line up. Kedalaman skuat yang baik juga bisa menjadi solusi ketika salah satu pemain cidera atau terkena akumulasi kartu, sehingga tidak mempengaruhi performa tim.

Saya sendiri berharap coach FM mematangkan formasi 3-4-3 ini, terutama di posisi 2 gelandang. Akan menjadi tantangan bagi coach FM untuk menentukan siapa yang berhak mengisi dua gelandang tengah PSS (jika PSS memainkan formasi 3-4-3). Apakah Dirga dan Busari akan tetap dipasangkan sebagai duet, atau coach FM memberikan satu slotnya untuk pemain terbaik PSS di putaran pertama lalu: Arie Sandy.

Menurut pandangan saya, coach FM harus berani untuk mencadangkan salah satu dari dua gelandang senior ini, untuk memberi tempat untuk Arie Sandy. Terutama saat menghadapi tim yang memiliki pemain-pemain yang cepat dan lini tengah yang dominan. Arie Sandy selama ini diplot sebagai seorang breaker. Diharapkan dengan adanya pemain tipe breaker bisa menghambat serangan balik lawan, atau paling tidak memutus dominasi lini tengah lawan.

Permainan apiknya dalam menghalau setiap serangan lawan dibuktikan dengan minimnya gol yang bersarang di gawang PSS. PSS sendiri hanya kebobolan 2 gol dalam 7 pertandingan putaran pertama. Diharapkan dengan adanya Arie Sandy, pertahanan PSS saat menghadapi serangan balik akan lebih baik. Mengingat lawan di fase berikutnya tentu memiliki skuat yang lebih baik.

Sebagai penutup, saya berharap para pemain PSS bisa mempertahankan peak performance nya. Sekali lagi, jangan sampai terlena dengan posisi PSS saat ini, dan jangan sekali-kali meremehkan lawan yang dihadapi. Semua pertandingan adalah final, Ayo Super Elja!!

Komentar
Ahmad Indra Pranata

Dokter muda yang mencintai sepakbola, bisa kamu hubungi di akun Twitter @mamas_ahmad