Analisis

Review PSS Sleman vs Persita Tangerang: Kembali Bermain Efektif

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr

PSS melanjutkan perjuangannya di babak 8 besar, pada pertandingan ke 5 PSS menghadapi perlawanan dari Persita Tangerang di Stadion Maguwoharjo. Pada pertandingan ini, PSS mampu memenangkan pertandingan dengan skor 4-1.

Super Elja menurunkan pemain terbaiknya, beberapa pemain yang diistirahatkan kala melawan Madura FC kembali mengisi sebelas pertama. Tercatat hanya Qischil dan Arie Sandy yang menepi karena cedera.

Ega Riski tetap dipercaya sebagai kiper utama, back four diisi oleh Bagus Nirwanto, Gufron, Ciptady, dan Aditya Putra Dewa. Di lini tengah, Amarzukih kembali mengisi posisi gelandang jangkar, bersama Dave Mustainee dan Ichsan Pratama yang melengkapi lini tengah.

Di sisi sayap, Seto memilih menurunkan Rifal Lastori dan Rangga Muslim untuk mengirimkan umpan-umpan matang kepada Gonzales yang didapuk sebagai penyerang tunggal. Dengan komposisi tersebut, Seto menggunakan formasi 1-4-2-3-1 yang menjadi andalannya.

Sementara itu Persita harus datang ke Sleman dengan skuat pincang di lini belakang. Ledi Utomo harus absen dan digantikan oleh Syarif. Bersama Rio Ramandika, Toha, dan Amri, keempatnya mengisi lini belakang Persita. Di lini tengah dan sayap ada Egi Melgiansyah, Ade Jantra, Hari Harbian, Aditia. Sedangkan di depan ada Diego Banowo dan Aldi. Persita menerapkan formasi 4-4-2 yang berubah menjadi 4-5-1 ketika bertahan.

Tidak adanya Ledi Utomo tampaknya sangat berperan terhadap kekalahan Persita. Pelatih Wiganda mengatakan bahwa lini belakangnya bermain sangat buruk dan tidak mampu mengendalikan eksposifitas dari Cristian Gonzales.

Saat menyerang, Persita memanfaatkan Hari Habrian di sisi kiri. Pemain yang sedang on fire tersebut nyatanya tidak bisa memberikan kontribusi maksimal dan berhasil dimatikan oleh Bagus Nirwanto. Diego Banowo yang diplot sebagai target man juga dimatikan oleh Gufron.

Di awal babak pertama, PSS langsung melakukan inisiatif serangan. Sesuai dengan prediksi, Ichsan Pratama kembali menjadi motor serangan PSS. Dia berhasil menjembatani lini tengah dengan lini depan dan sayap PSS. Karena permainan apiknya, salah satu tim Statistik kami menyebut bahwa Ichsan kesurupan David Silva.

Dua gol cepat di 10 menit awal menjadi kunci kemenangan PSS sore itu. Dua gol tersebut membuat mental para pemain Persita langsung down, sehingga taktik yang dipersiapkan oleh pelatih Persita tidak berjalan dengan baik.

Di pertandingan ini, cara main PSS mirip dengan saat mereka menghadapi PSIM beberapa waktu lalu. PSS bermain dengan sangat efektif.

PSS vs PSIM: Sepakbola Efektif vs Sepakbola Indah

Para pemain PSS dengan sabar menunggu dan memberikan kebebasan pemain Persita untuk menguasai bola. Mereka akan membiarkan pemain Persita membawa bola sampai area tengah pertahanan PSS.

Seluruh pemain PSS membentuk blok pertahanan rendah di area kotak penalti sendiri. Saat pemain Persita menguasai bola, hanya ada satu pemain yang melakukan pressing. Yang melakukan tugas pressing ini sebenarnya juga mempunyai tugas untuk menjadi penghubung utama saat PSS melakukan serangan balik, pada pertandingan kemarin diperankan oleh Ichsan Pratama.

Kemudian daripada itu, Seto menaruh 2 pemain di garis tengah. Gonzales di area tengah, satu lagi adalah Rangga atau Lastori yang berada di area flank. Ketika Persita kehilangan bola, bola akan langsung diberikan kepada Rangga atau Lastori di sisi sayap. Di saat yang sama, Gonzales akan langsung berlari dan memposisikan diri di depan gawang lawan, menunggu umpan yang diarahkan kepadanya.

Imbas dari taktik ini, secara statistik PSS kalah dalam segi penguasaan bola. Dari data yang diambil oleh tim statistik Sleman Football, sepanjang pertandingan, Persita mampu menguasai 59% penguasaan bola dibanding PSS yang hanya 41%. Persita berhasil mencatatkan 373 umpan sukses, dibandingkan PSS dengan 253 umpan sukses.

Namun, menguasai pertandingan tidak membuat Persita menciptakan banyak peluang. Sepanjang pertandingan, mereka hanya mampu melakukan 6 tembakan tepat sasaran, salah satunya menjadi gol. Berbanding 8 tembakan tepat sasaran, yang menjadi 4 gol bagi PSS.

Ini membuktikan bahwa PSS bermain efektif, mereka tetap mengontrol pertandingan walaupun tidak banyak menguasai bola. Hal ini adalah efek langsung dari para pemain yang berhasil menjalankan instruksi pelatih dengan tepat. Kesabaran pemain, positioning yang apik, penjagaan ruang yang rapat, dan skema fast break yang sempuna menjadi kunci PSS memenangkan pertandingan.

Taktik seperti inilah yang sebenarnya diinginkan Seto ketika PSS bermain tandang, namun karena satu dua hal membuat taktik tersebut tidak berjalan dengan baik.

Cara para pemain PSS memainkan tempo pertandingan juga sangat baik. Para pemain tampak sangat nyaman membawa bola. Ketika PSS berusaha membangun serangan dari bawah, umpan-umpan pendek diperagakan. Lebih dari itu, Persita juga terbawa tempo. Para pemain Pendekar Cisadane mengikuti permainan lambat yang dimainkan oleh PSS, membuat laga ini terlihat seperti pertandingan yang selaawww.

Kita sebagai penonton umum mungkin melihat para pemain PSS seperti hanya bermain-main dan tidak serius memainkan bola. Namun jika diperhatikan dengan baik, umpan-umpan pemain PSS selalu menghasilkan progresi vertikal yang baik, dan akan diakhiri dengan umpan daerah ke area sayap. Di sana, Rangga atau Lastori sudah bersiap menerima umpan dan menyisir area sayap sebelum mengirimkan umpan ke kotak penalti.

Permainan PSS sore itu bukannya tanpa cela, koordinasi pemain di lini belakang harus jadi perhatian khusus untuk Seto. Ada 3 momen berbahaya yang terjadi akibat koordinasi yang kurang bagus di lini belakang, dan salah satunya berbuah gol tunggal untuk Persita. Aksi Ega Risky doing Neuer adalah aksi yang sebenarnya tidak perlu dilakukan karena sudah ada pemain belakang yang siap mengamankan bola, beruntung pada sat itu tidak berbuah gol untuk Persita.

Pada beberapa kesempatan, ketika melakukan serangan balik, ada situasi 3 vs 3, di mana 3 pemain depan PSS berhadapan dengan 3 pemain belakang Persita. Namun dalam beberapa kesempatan itu juga, peluang tidak bisa dimaksimalkan. Diharapkan tim pelatih bisa memperbaiki hal tersebut, sehingga semua peluang bisa dimaksimalkan menjadi gol.

Komentar
Ahmad Indra Pranata

Dokter muda yang mencintai sepakbola, bisa kamu hubungi di akun Twitter @mamas_ahmad