Analisis

Review PSS Sleman vs PSCS Cilacap: Sebuah Laga Ulangan

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr

Setelah sepekan yang lalu Liga 1 Gojek Traveloka dibuka di Bandung (15/4), giliran Liga 2 Indofood menggelar partai pembukanya. Partai pembuka mempertemukan antara PSS Sleman melawan PSCS Cilacap yang digelar di Stadion Maguwoharjo, Sleman.

Laga ini bukan laga biasa, karena sebelumnya kedua tim bertemu di partai puncak turnamen ISC B. Pada pertandingan tersebut, PSCS berhasil mengalahkan PSS dalam drama 120 menit, dengan skor akhir 3-4.

Banyak yang mengganggap ini adalah laga balas dendam bagi PSS Sleman, kesempatan untuk mengobati luka lama dengan mengalahkan PSCS Cilacap. Namun ternyata, pertandingan ini tidak lebih dari sekadar laga ulangan; benar; laga ulangan.

Laga ulangan sering kita saksikan di sepakbola Inggris, terutama di Piala FA. Laga yang digelar ketika kedua tim berbagi skor sama kuat di salah satu kandang tim. Pekan berikutnya, laga ulangan dilangsungkan dengan tempat yang berbeda, yaitu di kandang tim satunya.

Dunia sepakbola baru-baru ini juga sempat heboh dengan sebuah petisi tentang “Laga ulangan”. Suporter Real Madrid menuntut laga ulangan perdelapan final Liga Champions Eropa antara Barcelona dengan PSG. Petisi tersebut dibuat karena mereka mengganggap pertandingan tersebut sarat dengan kontroversi.

Kedua contoh di atas adalah sebuah contoh yang benar mengenai “Laga Ulangan”. Laga yang harus diulang dan diharapkan memberikan hasil akhir yang berbeda dari laga sebelumnya.

Tetapi sepertinya PSS mempunyai kamus sendiri untuk mengartikan “Laga Ulangan”. Laga ulangan di pembuka Liga 2 benar-benar diartikan secara harfiah oleh PSS. Mereka mengulang apa yang dilakukan di Final ISC B tahun lalu, dari cara bermain, taktik, dan tentu saja hasil akhir. Mari kita bahas bersama.

PSS memulai pertandingan dengan formasi 4-1-3-2. Bagus, Waluyo, Jodi, dan Tedi Berlian dipasang di lini pertahanan. Coach Freddy Muli memasang Arie Sandy sebagai gelandang bertahan dan mendorong Dirga Lasut ke depan.

Dirga Lasut dipasangkan sejajar dengan Rosi Noprihanis di sayap kiri dan Imam Bagus di sayap kanan. Di lini depan diisi oleh Kito Chandra dan Riski Novriansyah.

Sedangkan PSCS menggunakan formasi 4-3-3, Coach Barnowo memasang M Arifin, Risman Maidullah, Suni Hizbullah, Syaiful di lini belakang. Di lini tengah PSCS mengkombinasikan Jimmy Suparno, M Choiron dengan Galih Akbar.

Di depan Ugiex bahu membahu dengan Saiful Bahri dan Andri Irianto. PSCS bertanding tanpa mendapatkan dukungan dari Lanus Mania ataupun Gladiator1950, mereka harus berjuang sendiri di depan puluhan ribu pendukung PSS Sleman; seperti di final ISC B lalu.

Freddy Muli menginstruksikan kepada para pemainnya untuk tidak over confidence di pertandingan ini, namun tampaknya hal tersebut tidak sesuai dengan fakta yang ada di lapangan.

Para pemain PSS seperti terbebani, tidak bisa bermain dengan lepas, berbeda sekali dengan pertandingan sebelumnya. Malah pemain PSCS yang bermain tenang dan efektif sepanjang pertandingan. Coach Barnowo menyebutkan kunci kesuksesan PSCS adalah karena bermain lepas dan berhasil mengendalikan emosi.

Kondisi lapangan basah menjadi faktor kurang efektifnya permainan PSS. Selama latihan para pemain diberikan arahan untuk bermain cepat dengan bola-bola pendek. Sayangnya, 2 jam sebelum pertandingan hujan deras mengguyur sehingga membuat lapangan tergenang air.

Pada menit-menit awal pertandingan, PSS mencoba memperagakan bola-bola pendek dari kaki ke kaki, namun hal tersebut gagal. Genangan air menyebabkan aliran bola tidak lancar dan memaksa para pemain PSS untuk memainkan bola-bola lambung.

Selain itu, para pemain PSCS menerapkan high pressure, mereka tidak membiarkan para pemain PSS leluasa menguasai bola. Hal ini terlihat jelas ketika pemain belakang PSS menguasai bola, setidaknya ada 3 pemain depan PSCS yang langsung melakukan pressing ketika PSS mulai membangun serangan.

Taktik ini sama persis dengan yang mereka lakukan di Final ISC B tahun lalu. Hampir sepanjang laga Waluyo dan Jodi mengirimkan umpan lambung ke depan, dengan sesekali mencoba bermain lewat sayap.

Bola lambung acap kali langsung diarahkan kepada kedua penyerang PSS, Kito dan Riski. Hal ini tampaknya sudah diantisipasi oleh coach Barnowo, dengan menumpuk pemainnya di sekitar kotak Pinalti. Dua orang ditugaskan secara khusus untuk mengawal pergerakan Riski Novriansyah, membuatnya tidak bisa berbuat banyak di pertandingan ini.

Terisolirnya lini tengah PSS menjadi alasan selanjutnya mengapa PSS sering melambungkan bola ke depan. Para pemain belakang kebingungan untuk memulai proses build up, karena jauhnya jarak antara pemain belakang dengan gelandang.

Hilangnya Busari tampak begitu terasa di lini tengah PSS, tidak ada pemain yang menjadi penghubung serangan dari belakang kepada penyerang atau pemain sayap. Memasang Arie Sandy sejak awal adalah salah satu keputusan yang patut dipertanyakan.

Arie Sandy bermain apik di Piala Presiden lalu, namun yang perlu digaris bawahi adalah dia bermain bagus ketika PSS tertekan sepanjang laga, bukan ketika dia ditugaskan untuk membangun serangan.

Atributnya lebih dominan dalam bertahan dibandingkan menyerang, Arie bukan tipe gelandang yang bisa membangun serangan dari bawah. Arie menjadi “missing link”, menyisakan space yang begitu lebar antara dirinya dengan Dirga Lasut. Dirga kesulitan mendapat suplai bola, karena terjadi keadaan unggul jumlah pemain (Natural Overload) PSCS di lini tengah.

Pada beberapa kesempatan PSS bisa bermain dengan formasi 5-3-2. Arie Sandy turun terlalu jauh ke bawah bahkan bisa sejajar dengan back four, sedangkan Dirga yang lebih fokus menyerang.

Hal ini membuat pemain tengah PSCS unggul jumlah pemain dibandingkan pemain tengah PSS. Overload yang terjadi di lini tengah membuat PSS kesulitan membangun serangan dari sisi tengah. Sering terjadi situasi 3 vs 1 saat PSS menyerang, atau saat para pemain PSCS melakukan recovery di lini pertahanannya.

Dirga Lasut tidak bisa berbuat banyak di lini tengah, “dikerumuni” oleh pemain tengah PSCS. Keunggulan jumlah pemain ini menjadi awal terciptanya gol semata wayang PSCS.

Bermula salah satu pemain Super Elang Jawa kehilangan bola, membuat situasi 1 vs 3 di lini tengah. Pemain PSCS mendapatkan bola dan langsung memberikan umpan, Galih Akbar yang lolos dari jebakan offside kemudian berhasil menceploskan bola ke gawang Try Hamdani.

Ada 2 hal yang terjadi karena kalahnya jumlah pemain PSS di lini tengah: Mencoba eksploitasi sayap dan bebasnya Jemmy Suparno.

Eksploitasi dari sayap coba dilakukan PSS untuk mengakali kalahnya jumlah pemain di lini tengah. Aliran bola lebih sering berada di sisi kiri permainan PSS Sleman, yang dihuni oleh Tedi Berlian dan Rosi Noprihanis.

Rossi Noprihanis yang merupakan pemain pinjaman dari Madura United ini tampak belum terlalu padu dengan pemain depan PSS. Sering kali pemain ini kehilangan bola dan salah paham dengan Riski atau Kito.

Sedangkan Imam Bagus di sisi kanan jarang mendapatkan suplai bola, padahal Imam adalah pemain dengan rate crossing sukses terbesar di skuat PSS.

Membiarkan Jimmy Suparno bebas tanpa pengawalan adalah kesalahan terbesar PSS dalam pertandingan ini. Jimmy Suparno menjadi pemain terbaik di pertandingan malam itu, peran sebagai deep lying playmaker berhasil dia lakukan dengan sempurna. Pemain ini jugalah yang membuat lini tengah PSS kewalahan di final ISC B yang lalu. Sepanjang pertandingan, Jimmy diberikan kebebasan bermain oleh para pemain PSS.

Tidak ada satu pemain PSS yang melakukan pengawalan khusus kepadanya. Arie Sandy jauh di belakang, Dirga Lasut yang meng cover area yang terlalu luas, dan kedua pemain depan PSS tidak mendapat intruksi untuk memberikan pengawalan.

Semua serangan PSCS selalu berawal dari kaki sang kapten kesebelasan. Jimmy mempunyai keunggulan dalam mengirimkan umpan-umpan panjang dan membaca arah permainan.

Jimmy dengan nyaman mengatur ritme permainan, men-delay bola atau mengirimkan umpan jauh ke barisan depan PSCS. Area bermain Jimmy juga sangat luas, mulai dari area pertahanan sendiri sampai sepertiga akhir pertahanan yang digalang Waluyo.

Di sisa waktu pertandingan, PSS tidak bisa berbuat banyak untuk mengejar ketertinggalan. PSCS menumpuk pemain di area pertahanannya, membuat PSS kesulitan menembus kotak pinalti.

Perubahan coba dilakukan dengan memasukkan Tony Yuliandri menggantikan Kito Candra, beberapa peluang juga sempat diperoleh namun tidak satupun gol tercipta. Peluit tanda pertandingan berakhir berbunyi, kemenangan untuk tim tamu PSCS, 0-1.

Pada akhirnya, PSCS bermain efektif dan memanfaatkan peluang dengan baik. Lagi-lagi PSS harus dipermalukan oleh PSCS, dan yang lebih malu lagi, PSS dikalahkan dengan cara yang sama seperti sebelumnya.

Kekalahan ini menjadi tamparan keras untuk PSS dan pendukungnya, bahwa terlalu jumawa itu tidak ada gunanya.

 

Komentar
Ahmad Indra Pranata

Dokter muda yang mencintai sepakbola, bisa kamu hubungi di akun Twitter @mamas_ahmad