Analisis

Review PSS vs Madura FC: Imbas Tak Main Lepas

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr

PSS mendapatkan kemenangan pertamanya di babak perempatfinal Liga 2 setelah mengalahkan Madura FC. PSS harus menunggu lebih dari 80 menit untuk bisa unggul dari tamunya, melalui proses gol bunuh diri pemain belakang Madura FC. Pertandingan berakhir dengan skor 1-0, own goal Choirul Rivan menjadi pembeda sore itu.

Menghadapi pertandingan kandana perdana, tampaknya PSS membawa beban yang sangat berat. Dua pertandingan tanpa kemenangan, dan bayang-bayang kekalahan home-away atas Madura FC tentu menjadi beban tersendiri. Hal itu tampak sekali terlihat dari raut muka para pemain PSS ketika keluar dari lorong pemain menuju ke lapangan.

Pada pertandingan kali ini, Seto melakukan beberapa perubahan dalam line up nya. Yang paling kentara tentu saja dengan mencadangkan Busari dan memasang Dave sejak awal. Selain itu, pada area sayap Seto juga merubah patennya dengan menurunkan Rangga dan Qischil sejak babak pertama.

Di lini belakang, 4 pemain terbaik PSS saat ini kembali dapat diturunkan, mereka adalah Bagus, Gufron, Ciptady, dan Aditya Putra. Untuk posisi gelandang bertahan Amarzukih tidak tergantikan, bersama dengan Ichsan di gelandang serang.

Di awal babak pertama, sangat terlihat permainan canggung yang ditunjukkan oleh pemain PSS. Sangat terlihat mereka bermain dengan beban berat di pundaknya. Super Elja bermain ngotot cenderung keras, menguasai pertandingan tapi minim peluang.

Permainan PSS lebih berkutat di area sayap kanan yang diisi oleh Bagus, Qischil, dan Ichsan. Ketiganya bahu membahu mengeksploitasi sisi tersebut. Ketiganya beberapa kali mendapatkan momen untuk mengalirkan bola ke dalam kotak pinalti namun umpan-umpan mereka tidak menemui sasaran.

Sepeninggalan Busari, Dave bertugas sebagai penghubung antara lini belakang dengan lini depan. Namun hal tersebut tidak berhasil dia perankan dengan baik karena aliran serangan PSS lebih banyak dimulai dari sisi sayap.

Area sisi sayap kiri juga tidak terlalu maksimal karena aliran bola yang lebih sering berada di kanan. Hal ini membuat Rangga bermain lebih masuk ke area tengah.

Banyaknya pelanggaran yang dilakukan oleh pemain Madura FC membuat PSS memilih opsi umpan-umpan langsung ke dalam kotak pinalti saat melakukan tendangan bebas. Namun, tidak akuratnya umpan yang diberikan membuat skema tersebut tidak menghasilkan momen berbahaya di kotak pinalti.

Strategi Madura FC yang menumpuk para pemainnya di area pertahanannya membuat PSS kesulitan mengalirkan bola ke kotak pinalti. Umpan crossing menjadi favorit para pemain PSS walaupun akurasinya jauh dari kata memuaskan.

Selain itu, tim besutan Salahudin ini juga memanfaatkan skema fast break ketika pemain belakangnya berhasil merebut bola. Ada 3 pemain depan cepat yang ditugaskan untuk hal ini, dan ada 2 pemain yang menonjol. Keduanya adalah Gufroni dan Benny Ashar, dengan mengandalkan kecepatan mereka, terkadang mampu merepotkan barisan pertahanan PSS.

Ketenangan dan penguasaan bola para pemain Madura FC juga sangat baik, hal ini terlihat bagaimana mereka mengatasi pressing yang dilakukan oleh para pemain PSS. Walaupun sebenarnya pressing yang dilakukan penggawa PSS juga tidak terlalu baik.

Di babak kedua, Seto melakukan perubahan strategi permainan. PSS diarahkan untuk bermain lebih tenang dan memaksimalkan lini tengahnya. Pergantian Qischil dengan Budi dimaksudkan untuk mendukung strategi ini, karena 2 winger PSS di babak kedua (Budi dan Rangga) punya kecenderungan melakukan cut inside dan masuk ke area tengah pertahanan lawan.

Di awal babak kedua, sebenarnya pertandingan berjalan menarik. Strategi yang diinginkan Seto tampaknya dicerna dengan baik oleh para pemain PSS. Mereka juga memanfaatkan Gonzales sebagai dinding untuk membuka ruang pemain lainnya. Beberapa peluang didapatkan walau belum berhasil mencetak gol.

Namun, memasuki menit ke-60 ketika permainan berubah jadi keras dan kasar membuat pola permainan PSS kembali berantakan. Mengetahui waktu yang semakin mepet mebuat para pemain bermain grusa grusu sehingga terkadang kehilangan bola sebelum sampai ke pertahanan Madura FC. Terkadang bola dari bawah langsung dikirimkan ke depan, walaupun sering gagal dikuasai oleh para penyerang PSS.

Belum lagi strategi mengulur waktu yang mulai diterapkan oleh pemain lawan membuat para pemain terpecah konsentrasi dan ketenangannya. Beberapa kali ketika PSS mendapatkan momentum untuk melakukan serangan, pemain Madura FC tergeletak di lapangan.

Melihat lini tengahnya sudah mulai loyo, Seto melakukan pergantian dengan menarik Ichsan yang sudah kelelahan dan memasukkan Irhaz. Masuknya Irhaz diharapkan bisa menjadi nafas baru untuk lini tengah PSS. Pada menit ke-81, Irhaz menjadi aktor penting terciptanya gol semata wayang PSS. Memanfaatkan umpan Budi, dia langsung mengirimkan umpan tarik ke tengah namun bola mengenai Choirul Rivan dan masuk ke gawang sendiri.

Pada akhirnya, tidak diturunkannya Busari tidak serta merta membuat permainan PSS menjadi lebih hidup. Bedanya, ketika Busari tidak ada aliran bola lebih sering menuju ke area sayap dari kedua bek sayap PSS. Berbeda ketika Busari bermain, yang walaupun bola tetap bergerak ke sayap namun aliran bola selalu berawal dari kakinya.

Secara permainan di lapangan, para pemain PSS memang menunjukkan determinasi yang tinggi. Dengan keinginan yang tinggi untuk bisa meraih kemenangan. Tetapi, secara strategi dan permainan tim, mereka tidak bisa memaksimalkan kemampuannya. Sangat dimungkinkan beban yang ada di pundak mereka terlalu besar.

Pada akhirnya PSS berhasil mengemas poin penuh pertamanya walaupun masih banyak hal yang perlu diperbaiki. Diharapkan setelah mendapatkan 3 poin pertama ini bisa membuat pemain PSS bermain lebih plong dan tenang. Sehingga permainan apik yang beberapa kali ditunjukkan pada fase grup bisa diulang kembali di pertandingan tersisa.

Komentar
Ahmad Indra Pranata

Dokter muda yang mencintai sepakbola, bisa kamu hubungi di akun Twitter @mamas_ahmad