Analisis

Review PSS vs Persip: Memanfaatkan Celah di Pertahanan Lawan

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr

PSS kembali melanjutkan perjuangannya di Liga 2 Indofood, Sabtu (6/5) dengan menjamu Persip Pekalongan. Super Elang Jawa berhasil mengakhiri perlawanan Persip dengan empat gol tanpa balas.

Pada pertandingan ini, el capitano Busari akhirnya bisa tampil setelah dua pertandingan sebelumnya harus menepi karena cedera.

Di pertandingan kali ini Freddy Muli melakukan beberapa perubahan pada starting line up. Cederanya Jodi menjadi berkah bagi Zamzani yang melakukan debutnya di musim ini.

Zamzani ditemani oleh Bagus Nirwanto, Waluyo, dan Tedi Berlian mengisi back four.

DI lini tengah, Arie Sandy dan Dirga Lasut masih menjadi andalan; ditambah Busari maka lengkap sudah susunan terbaik di lini tengah PSS, setidaknya untuk saat ini.

Rossi yang pada pertandingan sebelumnya tidak bermain karena cedera, mengisi pos sayap sisi kanan, berseberangan dengan Imam Bagus di sisi kiri.

Riski Novriansyah tetap tak tergantikan sebagai ujung tombak serangan PSS Sleman. Formasi dasar 4-2-3-1 dimainkan sejak awal, namun formasi ini sangat fleksibel tergantung kondisi di lapangan. Bisa berubah menjadi 4-3-3 atau 4-1-2-3.

Sedangkan Persip menggunakan Formasi 3-5-2, memasang Rozikin, Bowo, Samson, Edi, dan Riski di tengah. Rozikin dan Riski dedapuk sebagai wingback, Nurcoyo dan Rendy berjuang di depan.

Persip bisa mengubah formasi dasar ini menjadi 5-4-1 saat bertahan, mendorong kedua wingback-nya untuk turun membantu pertahanan. Dengan formasi ini, Persip berhasil menahan gempuran dari Persibat Batang dan berhasil mencuri 3 poin dari Batang.

Gambar 1. Formasi kedua tim

Perbedaan sangat terlihat di lini tengah PSS Sleman. Dengan hadirnya Busari, pergerakan bola di area tengah menjadi lebih hidup. Tidak ada lagi long pass monoton, Busari menjadi sentral permainan, pengatur serangan.

Busari berperan menjadi penghubung antara lini belakang dengan lini depan, peran yang tidak terlihat di dua pertandingan sebelumnya. Dengan kondisi lapangan yang bagus, bola-bola pendek menjadi kunci permainan PSS, dengan sesekali mengirimkan umpan lambung. Efektif.

Ada sedikit perubahan dari gaya main Arie Sandy, dia tidak lagi bermain terlalu dalam. Area lapangan yang dia cover menjadi lebih luas, terutama di area kiri lini tengah PSS.

Arie Sandy berani merangsek sampai area tengah lapangan, membantu Tedi Berlian dan Busari saat fase build up. Tugasnya sebagai seorang breaker juga berhasil dilaksanakan dengan baik, beberapa kali serangan balik Persip mentah di kakinya.

Sesuai instruksi dari Freddy Muli, PSS langsung menggempur pertahanan Persip sejak awal babak pertama. Dimotori oleh Busari di lini tengah, PSS mencoba mencari celah pertahanan Persip.

Pada 20 menit awal PSS kesulitan menembus pertahanan Persip, hal ini karena high block pressing yang diterapkan dalam formasi 3-5-2 membuat overload di lini tengah oleh para pemain Persip.

Saat pemain tengah PSS menguasai bola, 1-2 pemain tengah Persip langsung melakukan pressing dan mempersempit ruang gerak dari Busari atau Dirga Lasut.

Selepas 20 menit, PSS menemukan celah yang bisa dimanfaatkan di sisi sayap Persip. Dengan formasi 3-5-2, area sayap (kanan kiri) seharusnya dicover oleh dua wingback.

Ketika kedua wingback tertarik maju, maka akan ada ruang kosong di sisi pertahanannya. Hal ini dimanfaatkan dengan baik oleh kedua sayap PSS Sleman, Tedi-Imam dan Bagus-Rossi. Dua gol PSS yang lahir di babak pertama memanfaatkan kelemahan Persip di sisi kanan pertahanannya.

Gambar 2. Area kosong di pertahanan Persip

Di gambar 2, kita bisa melihat jelas, bagaimana pemain sayap PSS bisa mendapatkan ruang yang begitu lebar di area pertahanan Persip Pekalongan. Wingback kanan Persip tertarik oleh pergerakan Tedi Berlian yang aktif membantu penyerangan, dengan Busari dan Arie Sandy ikut membantu di sektor tersebut.

Para pemain Persip mau tidak mau harus melakukan one on one marking. Dengan begitu, winger PSS (Imam di babak pertama, dan Rossi di babak kedua) diberikan ruang yang begitu bebas untuk melakukan tusukan maupun memberikan umpan lambung ke kotak penalti.

Coach Didik tidak menyadari hal ini dan tidak ada instruksi khusus untuk menambal lubang tersebut. Harga yang dibayarkan terlalu mahal, 2 gol PSS di babak pertama lahir dari proses ini.

Pertandingan seutuhnya menjadi milik PSS dengan ball possession 65% dibanding 35%, dominasi tersebut tidak lepas dari strategi pelatih.

PSS menerapkan High Block Pressing, di mana para pemain PSS langsung menempel pemain Persip saat mereka membangun serangan. Tidak memberikan celah sedikit pun bagi pemain Persip untuk mengembangkan permainan.

Pressing ini memaksa pemain Persip untuk langsung mengarahkan bola ke area pertahanan PSS. Strategi ini juga dilakukan oleh PSS saat bertandang ke Persibangga, dan hasilnya PSS mampu mempermalukan tuan rumah.

Sebenarnya Persip juga melakukan strategi pressing yang sama, namun hanya bertahan selama 20 menit, karena selepas itu, mereka selalu dalam keadaan tertekan.

Perlu kita ingat lagi, pressing semacam ini tidak bisa kita lihat di pertandingan melawan PSCS Cilacap (baca review: Sebuah Laga Ulangan). Saat itu PSS menerapkan deep area pressing, menunggu pemain PSCS bergerak ke pertahanan PSS. Membiarkan Jemi Suparno berkreasi di lini tengah.

Di Babak kedua, PSS sedikit mengubah pola permainannya. Dengan makin minimnya pressing dari pemain Persip, PSS mendominasi lini tengah.

Busari dan Dirga dengan bebas menari-nari di lini tengah, dengan nyaman merangsek sampai sepertiga akhir permainan Persip. Ketika sampai di depan kotak penalti, pemain tengah PSS memiliki beberapa pilihan: mengirimkan umpan ke kedua sayap atau kepada Riski Novriansyah.

Dengan berpindahnya Rossi ke sayap kiri, praktis permainan PSS juga dominan di kiri. Agresivitas Rossi makin bertambah ketika diduetkan dengan Tedi Berlian di sisi kiri.

Tedi bermain sangat impresif, rapat dalam bertahan dan eksplosif saat menyerang. Kombinasi keduanya berhasil membuat pemain Persip kalang kabut.

Peran Riski Novriansyah di lini serang Laskar Sembada tidak perlu diragukan lagi. Riski bisa didapuk menjadi seorang targetman, juga pemantul bola.

Perannya mirip seperti Cristian Gonzales di Arema, menahan bola menunggu pemain lainnya untuk membuka ruang. Terbukti, 2 gol dari Rossi semuanya berawal dari pergerakan Riski di dalam kotak penalti.

Kelihaiannya sebagai target man dia tunjukkan dengan gol heading menyambut umpan dari Tedi Berlian.

Rossi berhak dinobatkan menjadi Man of The Match dengan raihan 2 gol dan 1 assist. Rossi bermain di sisi kanan pada babak pertama, dan sisi kiri di babak kedua, pergerakannya yang “liar” membuat pemain belakang Persip kebingungan untuk menjaganya.

Sebagai seorang pemain sayap, area bermain Rossi sangat luas. Tidak hanya di sisi sayap, dia akan bergerak dari area tengah sampai depan gawang lawan. Dua golnya ke gawang Persip berawal dari pergerakan “liar”nya, yang tiba-tiba datang dari belakang, tanpa terkawal oleh bek lawan.

Pada akhirnya, kita setuju bahwa bermain disiplin dan motivasi tinggi menjadi kunci dari kesuksesan PSS. Saatnya menatap pertandingan berikutnya melawan Persibat Batang, jika permainan PSS seperti pertandingan ini (vs Persip), poin tiga di Batang bukan hal mustahil.

Dan saya ingatkan sekali lagi, jangan lupa untuk bersyukur.

Komentar
Ahmad Indra Pranata

Dokter muda yang mencintai sepakbola, bisa kamu hubungi di akun Twitter @mamas_ahmad