Analisis

Review PSS vs Persiraja: Enjoy!

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr

PSS mengakhiri perjalanannya di babak 8 Besar Liga 2 2018 dengan sempurna. Super Elja menghajar Persiraja lima gol tanpa balas lewat hattrick dari Gonzales, serta satu gol masing-masing dari Dave Mustainee dan Aditya Putra Dewa (APD).

Sesuai dengan prediksi, Persiraja memainkan formasi 4-5-1 dengan mengandalkan Andre Abubakar di depan. Di lini tengah, ada Huznuzon, Viktor Pae, Zamrony, Azka Fauzi dan M Rizky. Lini belakang dipercayakan kepada Asep Budi, Agus Suhendra, Taufiq dan M. Andika. Tidak ada nama Luis Irsandi dan Saddam Tenang yang pada pertandingan sebelumnya menjadi starter.

Di sisi sayap kiri, Persiraja mengandalkan Azka Fauzi yang sedang dalam keadaan on fire. Sepanjang pertandingan, Azka berduel dengan Bagus Nirwanto. Sedangkan di sisi kanan, Viktor Pae ditugaskan untuk menyisir area yang dijaga oleh APD.

Di babak pertama, sebenarnya permainan kedua tim berjalan seimbang. Keduanya saling serang dan memiliki cara bermain yang mirip. Baik PSS maupun Persiraja sama-sama memanfaatkan sisi sayap untuk memulai serangan.

Di 15 menit awal, Azka Fauzi selalu menjadi target operan para pemain Persiraja. Namun tampaknya hal itu sudah diantisipasi oleh Seto. Azka dijaga ketat oleh 2 pemain sekaligus, Bagus Munyeng beserta Amarzukih atau Rangga selalu berada di dekat mantan pemain Persis Solo ini. Alhasil eksplosivitas Azka tidak bisa dimaksimalkan sepanjang babak pertama.

Mengetahui Azka dijaga ketat, Persiraja mulai merubah pola permainannya. Di sisa babak pertama, Viktor Pae gantian menjadi pusat serangan Persiraja. Dari sisi kanan ini, beberapa kali Persiraja mampu untuk mengancam gawang PSS. Hal ini karena APD sering terlambat turun ke bawah, membuat Viktor Pae bebas berdiri dan membangun serangan Persiraja. Salah satu peluang berbahaya Laskar Rencong adalah lewat umpan crossing mendatar dari Pae yang gagal dimafaatkan oleh Andre Abubakar.

Sementara itu, PSS tidak merubah pola permainannya. Starting line up Super Elja tidak berbeda dengan pertandingan sebelumnya. Cara bermain mereka masih sama seperti saat melawan Persita. Sisi sayap yang diisi Rangga dan Lastori kembali dieksploitasi dengan tujuan akhir: mengirim umpan kepada Gonzales.

Berbeda dengan Persiraja, PSS melakukan build up serangan dari sisi tengah yang diusung oleh Dave dan Ichsan sebelum mengalirkan bola lewat sayap. Tidak jarang pula mereka memanfaatkan Gonzales sebagai tembok dengan tujuan membuka ruang pemain lain.

Skema apik tersebut langsung terlihat pada gol pertama PSS. Rangga yang bebas tak terkawal di sisi sayap mendapatkan umpan terobosan dari lini tengah dan kemudian mengirimkan umpan manja kepada Gonzales. Sisanya, Gonzales doing Gonzales, tap in!

Selepas gol pertama, PSS lebih banyak tertekan oleh Persiraja. Huznuzon, Azka Fauzi, dan Pae bergantian berusaha menggedor pertahanan PSS. Namun usaha mereka sia- sia karena disiplinnya pemain PSS dalam menjaga daerahnya.

Sama seperti saat melawan Persita, hampir semua pemain PSS akan menunggu di depan area kotak pinalti sendiri saat Persiraja menguasai bola. Mereka baru melakukan pressing ketika bola mendekati kotak pinalti.

Kedisiplinan inilah yang membuat gawang Ega Riski nirbobol di babak pertama.

Di babak kedua, Persiraja berusaha berbenah. Persiraja yang membutuhkan hasil imbang untuk lolos, berupaya untuk mengejar defisit golnya. Mereka bermain lebih terbuka dan lebih berani keluar menyerang.

Namun, permainan terbuka yang mereka perankan membuat space di lini tengah dan lini belakang. Jarak pemain Persiraja tidak serapat di babak pertama, membuat Ichsan, Rangga, dan Lastori leluasa bergerak.

Hal ini langsung dimanfaatkan PSS untuk menambah keunggulan. Terbukti dalam 15 menit pertama babak kedua, PSS mampu mencetak 3 gol. Gol-gol tersebut semuanya berawal dari serangan cepat, dan semuanya berawal dari pergerakan pemain sayap.

Tiga gol cepat tersebut langsung membuyarkan mental pemain Persiraja. Setelah itu mereka banyak melakukan kesalahan sendiri. Sementara PSS Sleman makin enjoy memainkan bola. Mereka tampak mengatur tempo permainan. Bola-bola pendek mereka peragakan mulai dari lini belakang.

Yang menarik adalah pemain PSS yang masih tetap melakukan serangan walau sudah unggul banyak. Buktinya, Seto memasukkan Budi untuk menggantikan Rangga. Budi mempunyai peluang emas ketika tinggal berhadapan dengan kiper namun sayang penyelesaiannya tidak sempurna.

Persiraja berusaha memperkecil ketinggalan dengan memasukkan Johan Yoga. Dua penyerang Persiraja berada di lapangan sepanjang sisa babak kedua.  Namun nyatanya perubahan tersebut tidak berhasil. Pemain Persiraja tampak sudah kelelahan baik secara fisik maupun mental, mereka terbawa tempo yang dimainkan PSS.

Namun, pertandingan ini bukannya tanpa cela. Koordinasi lini belakang harus makin dibenahi. Karena pada pertandingan ini ada beberapa momen berbahaya yang terjadi karena kurangnya koordinasi antar pemain belakang.

Transisi menyerang ke bertahan masih ada sedikit celah, terutama APD yang sering terlambat untuk menutup zona bermainnya ketika dia membantu serangan. Hal ini beberapa kali terlihat di babak pertama, dimana Pae beberapa kali menerima bola tanpa penjagaan. Semoga kekurangan ini bisa segera dibenahi sebelum menyongsong babak semifinal.

Pada akhirnya, Seto akhirnya menemukan formulasi terbaik dalam meramu starting line up. Komposisi yang diturunkan dalam dua pertandingan terakhir terbukti mampu memberikan penampilan patennya. Semoga saja konsistensi mereka bisa tetap terjaga sampai babak final.

Komentar
Ahmad Indra Pranata

Dokter muda yang mencintai sepakbola, bisa kamu hubungi di akun Twitter @mamas_ahmad