Analisis

Review PSS vs PSMP: Kehilangan Fokus di Akhir Laga

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr

PSS berhasil mendapatkan hasil positif di awal Liga 2 dengan menghempaskan PSMP dengan skor 3-1. Raihan ini membuat PSS mengantongi tiga poin dan berada di posisi ke-4 Grup Timur.

Mengusung Formasi 4-1-4-1. Herkis memasang Wirahadi sebagai target man; disokong oleh Thaufan, Mila, Dave, dan Ichsan. Arie Sandy dipasang sebagai seorang breaker, melindungi back four yang dipercayakan kepada Tole, Yudi, Munyeng, dan Yericho. Di daftar pemain pengganti, Herkis cukup berani, dengan hanya memasukkan 1 orang pemain bertahan (Vandy Prayogo). Sisanya adalah seorang kiper dan pemain-pemain yang bertipikal penyerang.

Gambar 1. Formasi Kedua Tim

Babak pertama

Di awal babak pertama, pemain PSS bermain dengan hati-hati. Tidak ada progresi vertikal yang berarti. Bola hanya berkutat di lini belakang, pemain PSS tampak seperti takut kehilangan bola.

Ditambah lagi para pemain PSMP masih disiplin untuk menumpuk pemain di area bermainnya sendiri. Tidak berusaha merebut bola yang berada di kaki pemain belakang PSS. Hal itu membuat PSS kesulitan untuk mengembangkan permainan, jalan ke lini tengah tertutup. Penempatan Dave dan Ichsan juga sering terlalu maju, sehingga kesulitan mendapatkan suplai bola.

Lini tengah PSS memang tidak berjalan dengan baik di babak pertama. Selain kesulitan mendapatkan suplai, ketika Dave atau Ichsan mendapatkan bola langsung ada dua pemain PSMP yang melakukan pressing. Ini membuat mereka kesulitan berkreasi. Arie Sandy yang dipasang sebagai breaker juga belum maksimal sebagai gelandang pembagi bola.

Untuk mengirimkan bola ke depan, Yudi Khoerudin sering mengirimkan umpan-umpan lambung yang diarahkan langsung kepada Wirahadi. Wirahadi memang bagus dalam duel-duel udara, namun terkadang tidak ada pemain lain yang siap untuk menerima bola hasil sundulannya. Skema serangan seperti ini tidak optimal dan sering membuat bola jatuh ke penguasaan lawan.

Skema eksploitasi dari sayap yang telah dimatangkan selama latiha juga tidak berjalan, karena ketika winger menerima bola sudah ada 2 pemain lawan yang menjaga. Ketika mendapatkan momen untuk mengirimkan umpan lambung, crossing yang diberikan juga tidak akurat. Hal tersebut membuat Wirahadi terisolir, tidak mendapatkan banyak peluang. Keunggulannya duel bola atas tidak bisa dimaksimalkan.

Di pertandingan ini, PSMP bermain lebih ngotot. Determinasi mereka lebih baik ketimbang PSS Sleman. Skema serangan balik cepat yang dikatakan oleh pelatih PSMP malah tidak terlihat di babak pertama. PSMP bisa dengan leluasa memulai proses build up dari lini belakang.

Para pemain PSMP lebih nyaman memainkan bola dari kaki ke kaki. Sayang, permainan PSMP hanya mentok sampai di depan kotak pinalti PSS. Bola hanya mengalir di area depan kotak pinalti dan kesulitan untuk masuk ke kotak penalti PSS. Dibuktikan, dengan hanya 3 shoots of target yang dilepaskan.

Gol Dave pada menit ke-20 menjadi satu-satunya pembeda kedua tim di babak pertama.

Babak kedua

Melihat ada yang tidak beres di lini tengah, Herkis melakukan pergantian di awal babak kedua. Yudi keluar digantikan Syamsul Chaeruddin. Dengan pergantian ini, Arie Sandy ditarik mundur menjadi bek tengah.

Masuknya Syamsul membuat alur serangan PSS menjadi lebih hidup. Syamsul menjadi pembeda di 15 menit awal babak kedua. Perannya sebagai pembagi bola membuat aliran bola ke depan lebih baik, peran yang belum bisa diperlihatkan oleh Arie Sandy.

Progresi vertikal yang tidak terlihat di babak pertama, tersaji apik di awal babak kedua, dengan Syamsul sebagai kreatornya. Beberapa peluang berhasil didapatkan oleh barisan penyerang PSS, namun tidak berhasil diselesaikan dengan baik.

Di pertengahan babak kedua, Rangga masuk menggantikan Mila yang cedera. Masuknya Rangga memang menambah daya gedor PSS, namun juga membuat Yericho kewalahan menjaga lini pertahanannya. Dari yang penulis lihat, Rangga memiliki atribut attacking lebih baik dibandingkan defending-nya.

Rangga memiliki area bermain di sayap kiri dan sering masuk ke sisi tengah. Hal ini membuat sisi kiri pertahanan PSS kosong dan hanya menyisakan Yericho. Kekosongan area tersebut dimanfaatkan oleh Kayambua untuk mengeksploitasi sisi kiri pertahanan PSS. Sebenarnya Syamsul mampu meng-cover daerah tersebut, tapi Syamsul sempat kewalahan dan membuatnya cenderung bermain kasar.

PSMP bermain lebih terbuka di babak kedua. Sama seperti babak pertama, mereka mencoba menguasai pertandingan dan mengendalikan tempo. Namun lagi-lagi penguasaan bola mereka tidak efektif. Aliran bola hanya mandeg sampai area depan kotak pinalti PSS. Aliran bola berjalan horizontal. Pemain PSS menunggu di area kotak penalti.

Satu peluang emas didapatkan pemain depan PSMP ketika Tolle gagal mengantisipasi second ball hasil umpan jauh bek PSMP. Backpass lemah Tolle berhasil direbut oleh penyerang PSMP dan bola sudah melewati Ega Rizky. Arie Sandy tampil sebagai pahlawan setelah melakukan clearance tepat di garis gawang.

Masuknya Gonzales merubah arah permainan PSS. Saya pribadi, menyebut Gonzales sebagai Commanding Target Man. Gonzales sore itu bermain mengisi posisi nompr 9 di area permainan.

Gambar 2. Skema wall pass yang ditunjukkan Gonzales

Bagi penggemar sepak bola Indonesia, pasti sudah paham bahwa Gonzales memiliki keeping bola yang mumpuni. Sebagian pengamat menyebutnya sebagai tembok untuk memantulkan bola. Template permainan El Loco mungkin bisa dilihat di Gambar 2.

Ketika dia menerima bola, dia akan menahan bola tersebut, menunggu temannya membuka ruang. Ketika melihat ada ruang, Gonzales akan memberi umpan kepada rekannya dan langsung menuju ke depan gawang untuk bersiap menerima umpan balasan.

Sesaat setelah dia masuk, El Loco langsung memberikan arahan kepada Rangga dan Thaufan untuk menyebar ke samping. Tidak berapa lama, pada sentuhan pertamanya, Gonzales yang berada di tengah lapangan bertindak sebagai tembok dan memberikan umpan kepada Syamsul Chaeruddin. Syamsul meneruskan bola kepada Thaufan Hidayat.

Beberapa detik kemudian ketika Thaufan akan mengirimkan umpan ke kotak pinalti, Gonzales sudah bersiap menerima umpan tersebut di depan gawang PSMP. Gol pertamanya untuk PSS tercipta lewat skema yang sangat apik. Pada proses ini, secara statistik,

 

 

sudah mencatatkan 2 parameter: umpan kunci dan gol. Di musim ini, kita akan sering melihat Gonzales berperan seperti itu.

Peran Gonzales sedikit berbeda dengan Wirahadi, Binter adalah pemain yang murni bertipikal nomor 9. Wirahadi akan maksimal ketika diberikan umpan-umpan di dalam kotak penalti, namun kurang maksimal ketika diberikan tugas meninisiasi serangan.

Gambar 3. Grafis Shots PSS vs PSMP

Banyak yang berpendapat bahwa pemain bertahan PSS bermain jelek di pertandingan ini. Tapi saya kurang setuju dengan itu. Mungkin lebih tepatnya adalah, pemain bertahan PSS bermain buruk di 10 menit akhir pertandingan. Dari data yang dihimpun tim statistik Sleman Football (Gambar 3), selama pertandingan PSMP berhasil melakukan 15 kali tembakan; lebih banyak dari PSS yang hanya mencatat 12 kali tembakan.

Yang menarik adalah 7 tembakan yang dilepaskan oleh PSMP dicatat hanya dalam rentang waktu 3 menit. Dari grafis di atas terlihat bahwa terjadi lonjakan jumlah tembakan dari tim PSMP mulai menit ke-89. Tujuh tembakan itu setara dengan 46% dari total tembakan PSMP, dan mereka hanya membutuhkan waktu 3 menit untuk melakukan hal itu.

Hal tersebut membuktikan bahwa ada kelengahan di barisan pertahanan PSS setelah mencetak gol ketiga. Pemain PSS terbawa tempo permainan lawan, PSMP memang bermain lepas setelah kebobolan tiga gol. Mereka bermain all out, menaruh 4 pemain di lini depan.

PSS seharusnya bisa mengendalikan tempo permainan di akhir babak kedua, namun para pemain malah ikut terbawa permainan cepat PSMP di menit-menit akhir pertandingan. PSS terbawa permainan cepat dari PSMP, Arie Sandy bisa merangsek maju sampai kotak penalti lawan, padahal saat itu Tolle sedang tergeletak di pinggir lapangan. Ketika PSMP melakukan serangan balik, tidak ada bek tengah yang tersisa di pertahanan PSS, sehingga terciptalah gol semata wayang The Lasmojo.

Jika kita lihat lagi, sampai menit ke-60, PSMP hanya bisa mencatatkan 5 tendangan ke gawang PSS. Jumlah tersebut lebih sedikit dibandingkan jumlah tembakan PSS di menit yang sama. Hal ini terjadi karena mereka kesulitan untuk menembus pertahanan PSS, sebagian besar tendangan itu juga dilakukan dari luar kotak pinalti.

Namun sekali lagi, terlihat ada peningkatan yang konsisten dari jumlah tembakan PSMP selepas menit ke-60. Secara tidak langsung, ini mengartikan bahwa pertahanan PSS mulai goyah selepas menit ke-60. Fisik, fokus, atau keduanya?

Banyak hal yang bisa dijadikan pelajaran pada pertandingan perdana PSS vs PSMP. Mematangkan strategi untuk memaksimalkan peran Gonzales adalah salah satunya. Selain itu, fokus lini pertahanan jadi hal yang perlu dibenahi. Karena pertandingan selesai ketika wait meniupkan peluit panjang, bukan saat kita unggul 3-0.

Komentar
Ahmad Indra Pranata

Dokter muda yang mencintai sepakbola, bisa kamu hubungi di akun Twitter @mamas_ahmad