Cerita

Santun di Dalam dan Luar Stadion

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr

Senang rasanya bisa kembali ke Kabupaten Sleman dan menikmati lagi atmosfer pertandingan sepakbola di MIS. Tuan rumah mengawali babak 16 besar Liga 2 tahun ini dengan baik, mengandaskan Cilegon United 2-1. Pada malam yang sama Saya kemudian membuka sosial media, lalu sedikit terkejut lantaran akun resmi BCS memerlukan diri untuk memintakan maaf anggotanya yang mungkin menyebabkan kerugian, baik di dalam maupun di luar stadion.

Di luar stadion, beberapa twit balasan di akun BCS menjelaskan ulah Sleman Fans yang berkendara bagai penguasa jalanan. Di dalam stadion, suporter hampir saja terprovokasi oleh sedikit ulah penjaga gawang Cilegon. Keduanya sama sekali bukan pertanda bagus. Jika massa telah kehilangan kendali kondisi bisa berubah menjadi sangat buruk.

Suatu waktu seorang kawan diskusi memberikan pertanyaan saat Saya akan mulai menulis tentang suporter, “Apa kau yakin pendukung sepakbola itu adalah kelompok? Jangan-jangan mereka hanya kerumunan?” Dalam pemakaian bahasa khalayak umum, arti keduanya tidak jauh berbeda. Bahkan Kamus Tesaurus Bahasa Indonesia menaruh ‘kelompok’ dan ‘kerumunan’ dalam baris yang sama, artinya keduanya memang bisa disamakan dan dipergantikan penggunaannya satu sama lain.

Dalam terminologi sosiologis keduanya dipisahkan dengan sangat seksama. Kelompok merupakan kumpulan individu terorganisir yang memiliki tujuan bersama dan saling berinteraksi. Sebaliknya. Kerumunan tidak memiliki tujuan bersama, dan tidak dapat bertindak secara terorganisir. Kerumunan adalah bentuk reduksi dari stabilitas yang hanya dimiliki oleh kelompok yang terorganisir dengan baik.

Fanatisme memang erat kaitannya dengan tindakan-tindakan yang sifatnya emosional. Saya pun sakit hati ketika dalam sebuah serangan balik oleh PSS Sleman, dengan peluang untuk terjadinya sebuah gol terbuka lebar, eh si kiper lawan jatuh (atau entah menjatuhkan diri, sih) di petak pertahanannya. Namun apa lacur, sepakbola dijalankan dalam peraturan pertandingan yang ketat dan sudah disepakati. Penjaga gawang adalah pemain yang wajib dilindungi oleh wasit sebagai penengah jalannya pertandingan.

Slogan No Leader Just Together ini Saya yakin betul tidak dibuat dalam kapasitas untuk membuat setiap individu dalam BCS dapat kemudian bertidak bebas sesuai keinginan udelnya belaka. Kita juga memiliki BCS Rules yang tidak hanya sekali-dua saja didengungkan lewat berbagai media. Dalam pengejawantahan BCS Rules tersebut, juga sudah ada forum BCS yang mengumumkan hasil musyawarah tentang detail pelaksanaan tentang bagaimana Sleman Fans harus bertindak untuk menghadapi situasi tertentu.

Kuncinya ada pada definisi stabilitas dalam sebuah kelompok. Seingat Saya Sleman Fans ini sudah melewati lintasan sejarah yang tidak pendek. Berbagai hal luar biasa sudah dilewati. Individu-individu yang kemudian mengorganisir diri ini bahkan pernah melampaui makna sebuah kelompok ketika melalui sebuah kejadian dengan melakukan “songgo bareng” misalnya. Kalau masih ada yang berkehendak sesuai emosi pribadinya ketika masih memakai identitas Sleman Fans apa ya ndak isin?

Sedikit melebar, pada beberapa titik, sepakbola di negeri kita memang masih cukup terbelakang. Anda ingat semifinal Piala AFF U-19 2017 Indonesia melawan Thailand kemarin, Saddil Ramdani dikartu merah pada penghujung babak pertama. Dia dimasukkan sebagai pemain pengganti, dan langsung melakukan tindakan aneh pada kontrol bola pertamanya. Dia kurang cerdik dalam memahami provokasi pemain Thailand. Ah, andai saja dia adalah salah satu pemain Barca yang pandai berakting cedera, mungkin balik Thailand yang bermain minus satu orang dan bisa jadi Egy Messi – Saghara Api Khayangan yang bisa maju ke final.

Kalau kita berfikir linear sah saja secara instan kita memaki Saddil. Tapi kalau kita meletakkan kebobrokan sistem kompetisi -yang salah satu efeknya yakni mental melempem preman lapangan- pada pundak peristiwa sikut Saddil belaka, kita adalah seorang munafik. Kultur sepakbola kita masih mentok pada banyak hal mendasar. Dan problem kultural hanya bisa dibenahi dengan penuh kesabaran.

Termasuk soal tindakan semena-mena beberapa oknum Sleman Fans di jalanan misalnya. Budaya lalu lintas kita memang seringkali masih primitif. Problem bertambah lantaran petugasnya juga kadang tegas lalu longgar di tempat yang salah. Jadi, menyalahkan lalu membully oknum fans yang onar di jalanan mungkin bisa memberi efek jera. Tapi terus mengusahakan budaya santun baik di dalam maupun di luar stadion pasti jauh lebih baik hasilnya. Dan sebenernya saya masih percaya bahwa kalian ini bukan kerumunan, ya kan?

Komentar
Ghofur Mohammad

Penulis bisa ditemui di @ohmasgoff