Cerita

Saya Wanita dan Saya Suporter Sepakbola

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr

Pertama kali aku menginjakan kakiku di tempat ini sekitar 5 tahun yang lalu. Kala itu, aku ditemani oleh ayahku. Ya, ayah adalah orang yang mengajarkanku tentang dunia sepakbola. Sedikit tidak lumrah memang.  Sewajarnya, wanita itu pergi ke salon bukan sibuk datang ke stadion.

Namun, aku menemukan hal yang membuat aku jatuh cinta dengan dunia sepakbola. Perlu digaris bawahi bahwa aku tak bisa memainkan si kulit bundar ini. Tapi aku merasa sepakbola bukan hanya sekadar menendang dan mengumpan. Ada nyawa yang begitu sakral di balik larian para pemain dan gemuruh suara tribun.

Ketika aku masuk kawasan stadion, aku mendengar suara yang begitu kompak. Aku kemudai bertanya pada ayah.

Yah kui suoro suporter po?”

“Iyo, kui jeneng e BCS”

Aku langsung tak sabar untuk cepat-cepat masuk stadion. Alay ya? Wajar lah, saat itu aku masih anak smp. Tapi itu pengalaman yang begitu mengesankan. Inilah yang dinamakan “From Father To Son”

Kemudian aku mulai memasuki tribun, sembari tanganku dipegang erat Ayah.  Hati ku merasa tak biasa, aku melihat hal yang begitu menakjubkan. Melihat orang orang bernyanyi lantang dan berdiri tegap. Suara mereka begitu kompak dan menggema di stadion.

Aku rasa itu bukan hal yang berlebihan mengatakan seperti itu. Ingatlah saat pertama kali kita menginjakan di stadion ini. Ya, Stadion Maguwoharjo adalah tempat yang begitu menarik dan unik. Pasti setiap orang memiliki cerita dan kesan tersendiri saat pertama kali masuk tempat ini.

Namun, aku semakin penasaran dengan apa yang ada di dalam sepakbola. Kadang bukan hal positif yang aku dapat, namun sebaliknya. Dalam segala hal tidak selamanya baik, termasuk dalam dunia sepakbola.

Hal negatif itu menjadikan pelajaran bagi setiap wanita untuk selalu menjaga diri. Kadang menutup hidung dengan jilbab demi menahan bau asap rokok bahkan bau alkohol sekalipun mereka tahan agar bisa melihat kebanggaan bermain.

Dari pandangan seorang wanita biasanya sepakbola adalah hanya sekadar gol dan kemenangan. Namun beda dengan segelintir wanita  yang memutuskan untuk menjadi ‘pecandu’ sepakbola. Wanita tak begitu paham mengapa bisa terjadi offside, tendangan bebas, ataupun pelanggaran.

Tapi, percayalah dalam diri wanita ada sesuatu yang berbeda, wanita punya cara sendiri untuk mendukung tim kebanggaan nya. Saat PSS Sleman kalah pun kita juga merasa kecewa, merasa ingin marah dan menangis. Selayaknya suporter bola pada umumnya.

Kadang wanita pecandu sepakbola ini dianggap sebelah mata bahkan dianggap negatif. Banyak yang mengira di tribun hanya berdiri dan bernyanyi tanpa ada manfaatnya. Namun saat itu semua kita lakukan karena satu alasan yang dinamakan”cinta“. Cinta untuk PSS Sleman. Kebanggaan yang selalu menjadi alasan kuat kami sebagai wanita lebih berani untuk menjadi seorang wanita yang berbeda, wanita yang menyukai dan mempelajari apa itu arti sepakbola.

Terlihat sederhana memang, datang membeli tiket – masuk tribun – bernyanyi bersama, adalah hal yang selalu diulang ulang dalam mendukung kebanggaan. Namun di setiap laga, pasti kami para wanita memiliki cerita tersendiri. Yang jelas membuat kami semakin bersikeras mendukung PSS Sleman.

Kadang dalam hati merasa takut, takut jika nanti ada keributan di stadion bagaimana? Takut bagaimana nanti di dalam stadion aku kenapa-kenapa.

Wanita tribun? Negatif? Sangar?

Silahkan berpendapat sesuai argumen masing-masing. Namun yang jelas tak ada wanita yang ingin dianggap negatif. Kami hanya pecandu sepakbola, kami hanya ingin belajar dan mencintai tim kebanggaan kami. Kami wania pecandu tribun hanya ingin berbeda dari wanita yang lain, kami ingin melupakan rasa cinta dengan ha yang berbeda.

Selayaknya manusia yang pernah merasa patah hati, kami pun pernah sering malah patah hati karena laki-laki. Tapi tidak dengan PSS Sleman, kebanggaan yang membuat kami bahagia. Walaupun terkadang kami harus merasakan apa itu kekalahan. Dari kekalahan itu kami bisa belajar tentang kesetiaan. Setia walau kalah dan terjatuh.

Kami wanita pecandu sepakbola dan tribun, bukan wanita negatif. Kami pembawa perubahan, kami punya cinta dan cara untuk mendukung tim kebanggaan kami.

Selamat Hari Kartini. Jadilah Wanita yang tidak hanya bisa memasak dan diam di rumah. Pelajari apa yang kamu suka dan inginkan. Sepakbola, misalnya. Ya, si kulit bundar ini menciptakan persaudaraan bukan sedarah bukan dan bukan sedaerah.Dengan segala permainan dan suara tribun yang membuat kamu mengerti bagaimana mencintai tim kebanggaan kita semua, PSS Sleman.

Komentar
CampusBoys UGM

Bisa ditemui di akun @CampusBoys_UGM