Editorial

Selamat Ulang Tahun, PSS Sleman

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr

Di era sepakbola modern seperti sekarang, fokus untuk membentuk sebuah klub yang sukses bukan saja dimulai dari membangun tim utama mereka. Oleh karenanya, fokus untuk melakukan pencarian, pembinaan, hingga pengembangan pemain sejak usia dini merupakan sebuah master plan yang tidak boleh dipandang remeh.

Membangun sebuah akademi sepakbola berarti membangun pula sebuah dinasti. Ada sebuah regenerasi usia di dalam sistem ini. Pemain dengan kelompok umur U-12 akan naik ke kelompok umur U-14. Kelompok umur U-14 akan naik ke kelompok umur U-16. Begitu seterusnya hingga mencapai kelompok umur tertinggi.

Salah satu fungsi penting dalam pembentukan sebuah akademi sepakbola adalah penanaman filosofi. Sebuah klub sepakbola harus memiliki sebuah filosofi permainan yang terintegrasi dari tim usia muda hingga tim utama. Maka setiap pelatih dalam tiap kelompok usia hendaknya memiliki sebuah rencana dan set up yang sama satu sama lain.

Mari kita lihat bagaimana PSS Sleman membentuk tim dalam beberapa tahun terakhir. Kebanyakan pemain yang menghuni tim utama adalah berasal dari seleksi pemain undangan atau pindahan dari klub lain.

Fakta tersebut adalah sebuah hal yang tidak terbantahkan. PSS Sleman selama ini tidak mempunyai tim satelit di bawah tim utama. Tidak ada sistem promosi-degradasi pemain yang diberlakukan. Sehingga tidak heran jika ketika regulasi U-25 diberlakukan, pihak klub harus banyak mendatangkan pemain dari luar untuk mengisi skuat utama.

Tidak adanya tim dari usia yang berjenjang membuat klub tidak punya banyak stock pemain muda berkualitas. Indikasinya, hal tersebut dikarenakan tidak adanya filosofi permainan yang terintegrasi antara tim di kelompok umur dengan tim senior.

Contohnya seperti ini. Kelompok umur U-17 dan U-21 dipegang oleh dua pelatih yang berbeda. Usia kelompok umur U-17 menerapkan permainan yang mengandalkan permainan bola pendek dan set up serangan yang dibangun dari bawah dan berorientasi pada penguasaan bola. Sementara tim pada kelompok umur U-21 menerapkan permainan pragmatis yang mengedepankan kecepatan lari  dan bola direct dari belakang ke depan.

Dengan kasus tersebut, apakah kita bisa mengharapkan sebuah konsistensi permainan yang sama dari tahun ke tahun? Terlebih PSS Sleman termasuk sering dalam melakukan pergantian pelatih. Tidak masalah sebenarnya melakukan banyak pergantian pelatih. Namun pelatih tersebut seharusnya dipilih berdasarkan filosofi klub. Sehingga siapa pun pelatihnya, ia mampu merepresentasikan karakter permainan PSS Sleman.

Klub seperti PSS Sleman sudah seharusnya memiliki pembinaan pemain usia dini yang berjenjang. Pembinaan yang memiliki kurikulum modern dan profesional. Pemain muda yang dibina nantinya adalah investasi klub janga panjang.

Bukan hal yang salah jika memang kita mampu untuk mencari dan mendatangkan pemain yang sudah jadi dengan label bintang. Namun dalam jangka waktu lama, kebiasaan tersebut akan menjadi kanker. Bahwa membentuk tim secara instan adalah hal yang lebih mudah daripada membangun tim dengan pondasi yang kuat.

Mari kita semua berdoa, semoga ada perubahan yang revolusioner dalam sistem pembinaan para pemain muda PSS Sleman. Niscaya, proses yang baik akan berbuah hasil yang baik pula.

Selamat ulang tahun ke-41, PSS Sleman. Semoga semakin profesional.

 

 

 

 

Komentar
Ardita Nuzulkarnaen Azmi

Sleman Fans sejak dalam kandungan, bisa dikontak via akun Twitter @ardhi___ tapi ojo dibully ya...