Cerita

Seto dan Busari: Romansa dalam Skuat Super Elja

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr

Romansa, jika kita lihat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti keromantisan dengan latar historis. Selain itu, dapat juga diartikan sebagai keromantisan dengan latar imajiner, tidak nyata, setidaknya bagi para penikmat romansa tersebut.

Dalam tulisan ini, kita akan membahas tentang sebuah romansa yang ada di tubuh PSS. Mau tak mau, percaya tak percaya, ada sebuah romansa yang tengah berlangsung di dalam tubuh PSS. Sebuah romansa antara sang pelatih dengan salah satu pemainnya.

Ya, kita akan bahas romansa antara Seto dengan Busari.

Mari sebelumnya kita bahas dari sisi historisnya. Jauh sebelum mereka berdua dipertemukan oleh PSS Sleman seperti sekarang, mereka berdua ternyata pernah berada dalam satu klub yang sama. Klub tersebut adalah Persiba Bantul, tepatnya pada tahun kompetisi 2010-2011. Saat itu adalah masa kejayaan Persiba Bantul, yang di akhir kompetisi Divisi Utama keluar sebagai juara dan berhak promosi ke ISL.

Di dalam skuat Persiba saat itu, ada nama-nama tenar seperti Slamet Nurcahyo, Wahyu Wiji, M Ansori, Ezequel, Fortune Udo, Seto Nurdiantoro, dan Busari. Di tahun itu jugalah, Persiba berhasil mengalahkan PSS dengan skor telak, 5-0.

Seperti sebuah reuni, Seto dan Busari pertama kali bertemu dengan status pemain dan pelatih pada tahun 2016. Tepatnya pada ajang ISC B, dimana saat itu untuk pertama kalinya Seto diangkat sebagai Head Coach, dan Busari pulang kampung ke Sleman.

Singkat waktu, Busari menjadi andalan lini tengah PSS dan dipercaya sebagai kapten. Bersama dengan Dirga Lasut dan Dave Mustaine, mereka berhasil membawa PSS melaju ke babak final ISC B. Sebelum akhirnya kalah dari PSCS dengan skor 3-2.

Di tahun berikutnya, atas kegagalan di ISC B, Seto digeser menjadi Asisten Pelatih Freddy Muli. Mengarungi Liga 2 2017, di dalam skuat PSS masih ada Busari yang juga masih berstatus sebagai kapten tim. Pada akhirnya, PSS hanya mampu berjuang sampai babak 16 besar sebelum akhirnya gagal total. Kegagalan itu membuat PSS cuci gudang dan merombak hampir setengah skuat musim sebelumnya.

Di awal Liga 2 2018, PSS kembali menunjuk pelatih senior, Hery Kiswanto untuk menukangi PSS. Seto masih tetap berada di posisi asisten pelatih. Saat itu, wajah PSS benar-benar baru. Hanya ada beberapa nama pemain lama yang dipertahankan, dan tidak ada nama Busari. Busari memutuskan untuk bergabung dengan Persibat Batang.

Namun karir Hery Kiswanto bersama PSS hanya bertahan beberapa pertandingan. Karena rentetan hasil buruk di awal Liga, Herkis mundur dan posisinya digantikan oleh Seto. Untuk kedua kalinya dalam 2 tahun terakhir, Seto kembali memegang posisi pelatih kepala.

Bersama Seto, PSS kembali menemukan pola permainannya dan meraih kemenangan demi kemenangan. Dengan skuat yang sudah mentereng, tampaknya Seto merasa ada satu hal yang kurang. Kepingan yang hilang itu adalah Busari.

Di jendela transfer pertama Liga 2, Seto mengajukan kepada manajemen untuk mengembalikan Busari ke Sleman. Padahal saat itu, Busari masih terikat kontrak dengan Persibat. Daniel Roekito sebagai pelatih Persibat juga keberatan jika pemain andalannya harus dilepas ke Sleman. Mungkin disinilah awal mula romansa terjadi antara keduanya.

Pada akhirnya, PSS gagal mendatangkan Busari dan memilih Taufik Febrianto untuk memperkuat lini tengah PSS.

Memasuki jendela transfer menuju babak 8 besar, romansa kembali menyeruak dan sampai pada episode puncaknya. Busari resmi kembali berseragam PSS Sleman setelah berhasil membantu Persibat bertahan di Liga 2.

Datangnya Busari dipercaya Seto penting untuk memperkuat lini tengah PSS, dia membutuhkan pemain yang berpengalaman dan berjiwa pemimpin. Seto juga langsung memasang Busari di dua laga awal babak 8 besar, ban kapten juga langsung melingkar di lengannya.

Namun, penampilan yang kurang meyakinkan malah diperlihatkan oleh Busari di 2 laga tersebut. Puncaknya di pertandingan melawan Persiraja, lini tengah PSS kedodoran dalam menghadapi serangan tim tuan rumah. Busari yang didapuk sebagai seorang gelandang pengatur tempo gagal untuk menetralisir gempuran lawan. Pada akhirnya PSS mengalami kekalahan lewat gol di menit akhir.

Hal ini membuat Busari menjadi bulan-bulanan kritikan para pendukung Super Elja. Banyak yang beranggapan bahwa Busari sudah habis, namun pada kenyataannya Seto berkata sebaliknya.

Seperti romansa yang indah, pernyataan yang keluar dari Seto terkait penampilan Busari adalah:

“Saya rasa dia masih beradaptasi, itu butuh proses. Tapi disini yang saya butuhkan adalah senioritas, pengalaman, dan kemampuan dia memimpin di lapangan”

Sebuah pernyataan yang kontradiktif dengan pernyataannya disaat mengumumkan para pemain baru, bahwa dia memilih pemain yang tidak membutuhkan banyak adaptasi. Itu yang menjadi alasan mengapa dia memanggil pemain lama macam Busari dan Rossi N.

Jika memang Busari sedang dalam proses adaptasi, kita harap dia segera bisa beradaptasi dan bisa menyatu dengan para pemain lainnya. Di babak 8 Besar ini, sudah tidak ada waktu lagi untuk menunggu satu orang beradaptasi. Super Elja tidak berhenti untuk satu satu orang.

Komentar
Ahmad Indra Pranata

Dokter muda yang mencintai sepakbola, bisa kamu hubungi di akun Twitter @mamas_ahmad