Cerita

Simpan Bodohmu Hingga Sampai Kau Bisa

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr

Ramai di media sosial tentang pelecehan terhadap saudari-saudari kita di tribun kembali terjadi. Bukankah ini masalah yang sudah basi, Sleman Fans?

Kita semua sudah menghindarinya sejak dulu kala dan menganggap bahwa semua fans PSS di tribun adalah saudara-saudari kita. Hingga merasa bahwa kita tak pernah layak untuk melakukan hal-hal menyimpang terhadap mereka. Hal menarik terjadi, begitu banyak perbedaan pandangan terhadap cara kita menyikapi masalah-masalah yang ada, khususnya pelecehan terhadap wanita. Laki-laki salah atau perempuan salah?

Di satu sisi, ada yang menganggap bahwa terjadi pelecehan karena wanita memakai sandang yang memancing untuk kaum laki-laki. Hal tersebut mungkin tak sepenuhnya benar. Mengutip sedikit dari quote saudari-saudari LCS, “Tubuhmu adalah kuasamu”.

Ya, kalimat tersebut juga berlaku bagi pelaku pelecehan, jika anda merasa terpancing oleh wanita berpakaian seksi, lantas apakah anda layak dan dibenarkan untuk melakukan hal tersebut? Lantas anda dilegalkan untuk berbuat? Mental andalah yang lemah. Kuasai tubuhmu, hargailah saudari-saudarimu, dan simpanlah bodohmu baik-baik.

Sisi lainnya ada yang menganggap bahwa mental laki-lakilah menjadi penyebabnya dan wanita punya hak untuk berekspresi sesuai kehendaknya. Hal tersebut mungkin juga tak sepenuhnya benar. Ketika anda memilih berpakaian minim di tribun di mana anda akan berdesakan dengan banyak orang serta berbaur dengan orang yang sarafnya berbau alkohol, apa anda cukup waras?

Tribun bukanlah sebuah mall atau Ibiza di mana jarak antar orang tidak ada sejengkal. Toh misal, jika paha anda kecucuk flare atau rokoke tanggane, opo ora girap-girap? Tribun adalah tempat kita beribadah untuk PSS, bukan menonjolkan diri. Kuasai tubuhmu sendiri, stop ekspresikan diri terlalu berlebihan, dan simpanlah bodohmu baik-baik.

Cukupkanlah perbedaan pendapat kita. PSS mengampuni itu. Semua yang ada di tribun sama pangkatnya di hadapan PSS. Ultras, mania, hooligan, tua, muda, kaya, miskin, pengusaha, PNS, bahkan duda atau janda baru sekalipun. Tak ada yang berbeda. Di sebuah setting yang lain, di sekat-sekat tembok kecil saat jeda pertandingan atau sebelumnya, terdapat jamaah yang sedang sholat di mana samping sekat tembok yang lain terdapat rombongan peminum yang sedang membagi minuman beralkohol.

Pernahkah anda melihat? PSS mengampuni perbedaan mereka. Menyatukan mereka. Ada doa untuk PSS dari jamaah sholat, ada usaha dari para peminum agar punya tenaga lebih. Mereka berbeda, tapi satu atribut dan kebanggan di hati masing-masing. Bukankah kita semua tau bahwa dari tengah lapang sana PSS seakan berbisik pada kita, “Terimakasih atas hadir dan cintamu!

Jadikanlah aku sebagai satu-satunya tujuanmu maka kita semua pasti akan baik-baik saja.”

PSS lah yang benar. Jika kita hanya fokus menuju padanya, pada akhirnya kebaikan dan kemenanganlah yang akan kita raih. Sang agamis akan bersujud syukur, anak-akan akan bercerita riang esok hari di bangku sekolah, rombongan peminum akan membuka krat pesta anggur barunya, para punggawa dengan bonusnya, dan lain-lain. Tidak ada lagi pelecehan atau kerusuhan. Haru poin 3 menyertai semua pecintanya.

PSS menepati janjinya untuk mempersatukan semua. Buktinya, di akhir laga Sampai Kau Bisa dikumandangkan dengan gegap gempita. Oleh semua.

Komentar