Cerita

Suara Perut

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr

Geliat sepakbola Sleman sekitar medio tahun 2011 tentu saja tidak asing dengan lagu Anang Hadi, Langkah Kecil, Stick Together dan yang paling fenomenal adalah anthem Sampai Kau Bisa yang hingga hari ini menjadi after match song PSS Sleman.

Adalah Neckemic, sebuah kelompok bermusik dengan dengan genre “PSS Sleman” yang tentu saja tidak akan mau lebih hebat dari PSS itu sendiri. Seperti sebuah ekosistem yang kemudian berkembang biak, tidak berlebihan jika saya menyebut Neckemic adalah “embrio” dari ekosistem gerak dan lagu yang tumbuh dan berkembang di Sleman pada tahun-tahun itu sampai sekarang.

Seperti sebatang rokok dengan kopi, tumbu dengan tutup; sepakbola dan musik adalah elemen yang saling melengkapi. Oleh karenanya, tidak perlu menanyakan hal-hal mengapa Neckemic harus ada dan terus berkarya sampai hari ini.

Setelah hampir tujuh tahun berkarya dengan suara, nada dan rima yang mengisi ruang dan telinga persepakbolaan Sleman,  akhirnya Neckemic mengeluarkan album perdananya. “Suara Perut” adalah judul album yang mereka pilih pada album perdana ini.

Saya mendapat kesempatan mendengarkan 8 track berderet dan 1 bonus track yang tersimpan dalam kepingan CD berbalut packaging yang simpel namun elegan itu. Jauh melebihi ekspektasi, ketika kepingan CD berputar dan suara dengan sound yang berkualitas ini hadir di telinga saya.

Sound, harmonisasi dan aransemen musik sangat berbeda dengan yang selama ini sudah sering mereka bawakan. Musik yang lebih berwarna namun masih dalam karakter yang sama seperti yang saya jumpai sebelumnya. Sederhana namun mengerucut pada kekuatan lirik dan makna setiap kata-kata yang terangkai menjadi lagu.

Beberapa lagu memang diciptakan sekitar tahun 2011-2012 yang kemudian diaransmen ulang, beberapa yang lain adalah lagu baru; sehingga semangat dan movement tentang berdirinya komunitas Brigata Curva Sud sangat terasa. Seperti kembali ke masa-masa itu namun masih relevan didengar sampai hari ini.

Materi album sendiri adalah PSS Sleman dari berbagai prespektif. Ada yang berupa cerita, harapan dan doa yang mewakili dan menjadi harapan seluruh pendukung PSS Sleman. Masih tentang sound yang mereka ramu, saya sempat datang ketika Neckemic membuat video teaser untuk album ini dan mendapati beberapa catatan penting.

Hal yang menarik adalah proses pembuatan album ini ketika proses recording. Seluruh instrumen alat musik dari album ini dibuat langsung (manual) tanpa ada sentuhan “proses digital” untuk menggantikan beberapa alat musiknya. Sebuah proses berkesenian yang layak untuk diapresiasi.

Seperti sebuah nasi kenduren lengkap dengan gudangan dan lauk pauknya, mendengarkan album ini seperti mendapatkan gaya bermusik yang lengkap dan setiap lagu mempunyai rasa dan warna tersendiri. Mungkin karena setiap player diberi kewajiban untuk “mengaransemen” setiap lagunya, seperti kutipan Neckemic ketika live stream Elja Radio beberapa waktu yang lalu.

  1. Menuju Tujuh

Enam hari lama tlah kutunggu untukmu. Peras keringat hanya untuk menyaksikanmu. Perut lapar haus kumenahan dahaga. Hanya untuk pastikan kumelihatmu berlaga. Lagu ini bicara tentang kebanggaan. Bukanlah caci maki yang berisi kebencian…”

Mendengarkan lagu ini, seperti sedang berada pada masa itu 2011-2102.

  1. Filosofi Trofi

“…Menangkan trofi, diakhir kompetisi.. Kamipun bersorak, lupa tuk berhenti…”

Sebuah lagu tentang harapan. Serius namun mengandung aransemen “ndlegek” dibagian akhir lagunya.

  1. Tribun Selatan

“Di sini kami bersama, Brigata Curva Sud slalu ada. Berdiri kami lantangkan suara. Kami disini untukmu, semangat ini tak akan pernah layu…”

Lagu lama yang diaransmen ulang dengan lebih bersemangat. Berisi ajakan dengan nada dan irama yang pas jika diputar di mobil saat sedang awaydays menuju kota lain.

  1. Anak Mentalita

“..Nak Ayah punya cerita, tentang kebanggaan dan kejayaan…”

Ditujukan untuk kamu-kamu yang sedang “mbobot” dan beranak-pinak. Bernuansa keroncong dan layak didengar sambil menikmati segelas teh hangat di pagi hari.

  1. Saat Kamu Jauh

“…Ku bernyanyi dalam sunyi, teriak tanpa sorak, semua tentangmu akan slalu kurindu.”

Mungkin ini lagu yang saya suka, sendu dan jazzy. Saat kamu merindukan kampung halaman dan kebanggaan, sepertinya lagu ini sangat mewakili.

  1. Tak Kan Menyerah

“Walau lelah, kami tak kan menyerah..”

Kata penciptanya, lagu ini ditulis ketika Sleman Fans tetap memenuhi Stadion Madiun saat Piala Kemerdekaan (2015), walaupun pada saat itu sudah dipastikan PSS Sleman sudah tertutup kemungkinan untuk lolos pada turnamen tersebut. Seperti lagu sebelumnya (Anak Mentalita), lagu ini dibantu suara perempuan yang entah siapa namanya.

  1. Ku Tau Kau Tau

“Di manapun kamu, di situlah aku. Seluruh waktuku, tercurah untukmu”

Sebuah lagu yang berisi harapan. Beginilah seharusnya menjadi suporter, berusaha ada disetiap laga.

  1. Sampai Jumpa

“Sampai jumpa, di musim berikutnya. Kita mulai lagi..”

Membayangkan sedang berada pada sebuah acara dengan MC yang berbicara di sela lagu, “..Dengan didendangkanya lagu ini, maka berakhir pula acara pada malam hari ini..”

Ketika kita mulai lelah, harapan adalah salah satu cara kita untuk kembali bersemangat. Musim usai dengan segala kekurangan dan kelebihanya.

Dari delapan lagu terdapat masih terdapat satu bonus track yang berjudul Promessa Per Un Onore yang mempunyai arti “Janji Untuk Kehormatan”.

Dari keseluruhan lagu, saya tidak pernah bosan untuk memutarnya berulang karena nuansa dan aransemen setiap lagunya berbeda-beda. Jika kita mengacu pada genre musik yang sudah ada, nuansa folk, pop, ska, jazz, reggae dan keroncong tersemat dalam album ini. Semua terikat pada genre yang mereka pilih, yaitu PSS Sleman.

Album ini bisa kalian dapatkan di Curva Sud Shop.

Komentar