Cerita

Surat Cinta Untuk Super Elja

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr

Tulisan ini tidak akan mengutip syair lagu dari Virgoun. Memang hampir sama dengan judul lagu miliknya, Surat Cinta Untuk Starla. Ya, memang sama. Ini tentang cinta, bukan untuk Starla melainkan untuk Super Elja yang hari ini genap berumur 41 tahun.

PSS Sleman lima tahun terakhir memang berbeda dengan era M. Eksan. PSS  hari ini lebih kondang namanya karena media sosial. Mungkin saja karena fans milenial yang sedikit-sedikit nonton bola sambil asik bermedia sosial. Tapi ini adalah sebuah proses, di mana hari ini merupakan rangkaian peristiwa dari era eks Bupati Ibnu Subiyanto sekalipun. Era yang menurut sebagian banyak pihak adalah era keemasan, walaupan tidak emas-emas amat.

Ulang tahun PSS  jatuh pada bulan Mei, teringat sebelas tahun silam, tanggal 27 mei 2006. Mirip hari ini dan juga sama dengan hari 27 Mei 2017 besok, jatuh sama-sama pada hari Sabtu. Kala itu kurang lebih pukul  5.53 WIB terjadi gempa bumi dahsyat mengguncang Daerah Istimewa Yogyakarta dan sekitarnya. Gempa dengan kekuatan 6.2 skala ritcher selama 57 detik ini merenggut nyawa 6.234 orang.

Tulisan kali ini juga  mirip dengan edisi: 9 Tahun Gempa Jogja di Sleman football versi lapuk. Sekarang diangkat dalam versi baru, karena yang lama sudah tidak ada di website ini. Super Elja kala itu sedang mengikuti kompetisi Liga Djarum XII 2005-2006 Wilayah Timur.

Sebelum musibah gempa itu terjadi, PSS  sebenarnya telah menyelesaikan putaran pertama dengan meraih nilai 16. Nilai tersebut diperoleh dari hasil pertandingan menang 4 kali, seri 4 kali dan kalah 5 kali. Jika dilihat dari posisi kelasemen sementara putaran pertama  finish pada urutan 9 dari 14 tim wilayah timur.

Untuk mendongkrak prestasi tim, manajeman kembali mencari tambahan pasukan. Lini depan yang dinilai tumpul, menjadi prioritas yang mendapat perbaikan. Dua slot pemain diberikan untuk lini depan. Tak tanggung-tanggung dua pemain depan sekaliber striker tim nasional didatangkan, Kurniawan Dwi Yulianto dan Rocky Putiray.  Dua pemain depan yang memang memiliki kemampuan di atas rata-rata pada masanya.

Menurut cerita, jadwal putaran kedua sungguh sangat tidak menguntungkan. Bayangkan saja, mereka harus melakoni lima pertandingan tandang berturut-turut. Faktor kelelahan, recovery dan mental bermain menjadi pekerjaan berat tim pelatih dan jajaran manajemen. Benar, dari total lima kali berturut-turut bermain di kandang lawan hanya 1 poin yang bisa dibawa pulang. Satu poin diperoleh dari hasil menahan imbang Persibom Bolaang Mongondow, 2-2.

Setelah letih wara-wiri bermain dikandang orang, kemudian mendapat giliran bermain di kandang sendiri. Hal ini dimanfaatkan dengan baik. Tidak adanya poin saat laga tandang dilampiaskan dengan sempurna saat jumpa Persipura Jayapura di Tridadi. PSS berhasil mendapatkan poin penuh, setelah menang 1-0.

Poin penuh selanjutnya juga didapatkan saat kembali berjumpa tim dari timur, Persiwa Wamena. Tertanggal 24 Mei 2006 di stadion Tridadi, dengan hasil akhir 4-1. Cukup mencolok.  Tiga hari selanjutnya bencana gempa bumi mengguncang DIY.

Ribuan orang meninggal, kehilangan sanak-saudara, tidak punya tempat tinggal dan infrastuktur umum tidak bisa digunakan. Kondisi ini sangat tidak memungkinkan untuk digelarnya pertandingan sepak bola. Force majuer! Permasalahan lain juga tentang kondisi keuangan tim. Dana APBD sudah tidak mungkin lagi diturunkan untuk sepakbola. Fokus perhatian pemerintah daerah dan nasional yaitu untuk korban serta recovery pasca gempa.

Menurut surat PSSI dengan Skep PSSI Nomor: 17/VI/2006 tertanggal 19 Juni 2006. PSS Sleman , PSIM Jogja, dan Persiba Bantul tidak melanjutkan kompetisi dan tetap berada di divisi masing-masing. Surat ini dikeluarkan menyusul ketiga tim DIY mengajukan pengunduran diri dari keikutsertaan dalam segala kompetisi PSSI 2005-2006 (Sumber: Buku Sepenggal Perjuangan PSS Sleman).

Itu tentang Super Elja sebelas tahun silam. Sulit dipercaya jika melihat masa kini. Penulis tidak bisa membayangkan. Jika tidak memiliki suporter sekelas BCS maupun seloyal Slemania dan se-stylist Sleman Fans. Mungkin nama PSS  akan dirangkum dalam Buku Sepenggal Perjuangan PSS Sleman jilid 2, atau bahan ledekan: Heh, koe PSS yo?

Elang Jawa kekinian juga merupakan hasil dari campur tangan orang-orang yang tidak bisa dilupakan, seperti alm Paman Parji dan alm Babe Wahyu. Semuanya memberikan sentuhan karakter masing-masing hingga berhasil membuat seperti sekarang ini.

Juga dalam perjalanannya tidak luput dari hasil kreativitas anak muda ala Sleman. Sebut saja; CS Prod, CS Mart, CS Magz (tiga usaha ini sudah kolaps), PSS Store, Elja Ngangkirng (dua ini juga sudah tidak ada), CS shop, Outlet Slemania, Elja Radio, Elja Tv, Elja Kaskus dan Sembada Apparel. Semua pergerakan ini  diinisiasi oleh suporter dan  yang tidak bisa diragukan lagi loyalitasnya.

Layaknya surat cinta, suporter bukan lagi menjadi bagian yang terpisah dari arti tentang Super Elja. Begitu erat dan penuh dengan makna tersirat. Kemudian ini menjadi tanggung jawab bersama, ketika orang-orang era lama sudah tidak di sini. Lalu apa yang harus dilakukan sekarang?

Penulis berharap kepada Sleman Fans: semoga hari ini kalian bukan hanya ikut euphoria semata. Sebab,Sleman Fans lahir bukan karena itu, tapi adanya kesadaran penuh untuk terus menghidupi dan mendukung dengan berbagai cara. Singkirkan jauh-jauh, niatan atau usaha menjadikan Sleman Fans adalah sebuah pasar. Tapi lihatlah kepedulian mereka untuk terus membeli tiket dan merch original.  Bentuk lain dari menghidupi dan mendukung klub yang mereka cintai.

Terakhir, penulis juga berharap kepada PSS  atau manajemen: semoga musim ini, kalian bukan sekedar membentuk tim hanya formalitas, yang penting ada. Teruslah bekerja, bayar semua kerja keras para pendahulu dengan nilai yang setimpal. Bentuk karakter yang kuat dan visi misi yang jelas. Itu dulu, jika sudah kuat, tangguh dan rapih. Juara dan naik liga akan terasa mudah kok.

Selamat ulang tahun Super Elja, yakinlah sayangku untuk kamu melebihi sayangku untuk Starla.

Komentar
Aand Andrean

Bisa bermain bumerang, tapi gagal menjadi atlet hula hoop. Pernah bercita-cita menjadi dokter. Suka rasan-rasan dan berkicau di akun @aancuuk, ojo dibully yo lur...

Comments are closed.