Opini

Target Kita Lolos Liga 1, Bukan Sekadar Menang Derby

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr

Jalanan arteri di bagian selatan Kota Yogyakarta menjadi lebih sibuk sore itu. Polisi tampak berlipat jumlahnya dan sibuk mengatur kerumunan manusia di setiap persimpangan jalan. Sore itu, aspal-aspal kota dipanaskan oleh kendaraan yang dominan beroda dua dan mengarah ke titik yang sama: Stadion Sultan Agung, Bantul.

Kamis(26/07/2018) adalah hari yang dinantikan puluhan ribu penggemar sepakbola DIY yang secara garis besar terbagi menjadi dua kelompok: pendukung PSS dan pendukung PSIM. Kedua kelompok inilah yang juga membagi kota kecil ini menjadi dua sisi, sekaligus memusingkan siapa saja ketika pada akhirnya PSS dan PSIM harus bertemu di atas lapangan.

Tidak ada ruang di Stadion Sultan Agung bagi suporter PSS Sleman sore itu. Suporter tamu harus mengalah untuk tidak bertandang kali ini. Walau dengan jarak tempuh yang relatif dekat, mereka terpaksa tidak bisa mengawal Super Elja dan memeram ego atas nama kondusifitas.

Local derby memang selalu seru untuk dinantikan. Ada gengsi di sana. Ada ambisi yang menggebu di dalamnya. Dan ada kebanggaan yang harus diperjuangkan di setiap detiknya. Derby lebih dari poin tiga, katanya. Siapa saja yang keluar sebagai pemenang, berhak mengklaim sebagai yang lebih baik, lebih kuat, lebih dominan, dan yang lebih-lebih lainnya.

PSS sudah kalah sejak sikut Hisyam Tolle masuk ke muka pemain lawan. Sejurus setelah kartu merah keluar dari saku wasit, saya sudah tidak bisa optimis lagi PSS akan menang. Rasa optimis saya terbukti setelah sesaat kemudia Hendika Arga menghukum lini belakang PSS bukan saja dengan eksekusi yang apik, namun dengan pemosisian yang pintar akibat hilangnya Hisyam Tolle.

PSIM keluar sebagai pemenang sore itu. Keunggulan lewat gol semata wayang kapten mereka mampu dipertahankan  hingga peluit akhir ditiup. Sementara, di sisi sebaliknya, sepuluh pemain dengan kostum putih-putih memasang raut masam di wajah mereka. Wajar mereka lesu. Tidak ada pemain yang ingin kalah. Apalagi di laga derby seperti ini.

Namun, apakah kalah di laga derby pantas diratapi berlebihan?

Saya rasa meratapi laga derby secara berlebihan adalah sebuah hal yang berlebihan. Kalah poinnya nol, seri satu, menang tiga. Tidak ada bedanya dengan laga melawan klub lain. Hanya atas nama gengsi saja derby menjadi lebih menarik dari laga lain. Tidak lebih.

Jika ada yang patut disoroti pada laga tersebut, tidak lain adalah polah dari kapten PSS yang berimbas pada performa tim. Ia tidak sepantasnya melakukan tindakan ceroboh yang justru merugikan kawan-kawannya di lapangan. Ban kapten yang melingkar di lengannya seharusnya bisa sedikit mendewasakan si pemain dengan tanggung jawab yang diamanatkan pada dirinya sebagai pemimpin sepuluh orang lainnya.

Kartu merah Tolle jelas berdampak tidak hanya pada laga melawan PSIM semata. Dengan berbekal hadiah dari wasit tersebut, ia dipastikan absen pada laga terakhir putaran pertama kala bertamu ke markas Persiwa Wamena. Padahal selama ini ia merupakan pilihan utama Seto bersama Zamzani untuk mengisi pos bek tengah.

Dari laga tersebut kita juga semakin dibuka matanya bahwa tim ini sebenarnya belum cukup baik, terutama di lini depan. Tambun Naibaho sejauh ini belum bisa menampilkan permainan yang menjanjikan sebagai seorang goal getter. Ia jarang menyentuh bola di kotak penalti lawan. Pengambilan keputusannya juga sering kali buruk. Ia sering kehilangan momen untuk mengoper atau mengesekusi peluang.

Yang menjadi masalah adalah tim ini tidak memiliki pilihan lain selain Tambun. Ia selalu dipasang karena striker lain seperti Made Wirahadi belum begitu fit setelah pemulihan cedera. Adi Nugroho yang beberapa kali dipasang di lini depan juga tidak bisa banyak diharapkan karena memang posisi naturalnya bukan sebagai striker.

Harapan utama sejak awal musim memang ada di sosok Cristian Gonzales. Pemain naturalisasi kelahiran Uruguay ini memilki semua syarat untuk menjadi andalan PSS musim ini. Sayang hal-hal non teknis di luar sepakbola justru memaksa ia tampil prematur bersama PSS dan harus menepi hingga entah sampai kapan.

Dari laga derby ini pada akhirnya kita disadarkan bahwa kedalaman skuat PSS masih sangat kurang, terutama di lini belakang dan depan. Untungnya bursa transfer Liga 2 segera dibuka. Manajemen dan tim pelatih harus bergerak cepat untuk menambal dua lini yang masih compang-camping tersebut. Tidak bisa tidak.

Masih ada banyak waktu untuk melayakkan diri lolos ke kasta tertinggi. Dan masih banyak pula laga yang harus dimenangkan di pekan-pekan ke depan. Meratapi kekalahan di satu laga tidak akan mengubah apa-apa. Ingat, target kita semua adalah PSS naik ke Liga 1, bukan hanya sekadar menang derby yang lebih banyak dibalut gengsi.

Komentar
Ardi Azmi

Sleman Fans sejak dalam kandungan, bisa dikontak via akun Twitter @ardhi___ tapi ojo dibully ya...