Cerita

Tedi Berlian: Ada Apa Denganmu?

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr

Pada akhir pertandingan PSS Sleman melawan Persijap Jepara, kita disuguhi sesuatu yang sangat menegangkan. Tedi Berlian, pemain belakang PSS Sleman tiba-tiba tergeletak tidak sadarkan diri setelah melakukan tendangan salto untuk membuang bola. Paramedis sibuk memberikan penanganan pertama, setelah itu Tedi Berlian dibawa dengan Ambulance langsung menuju ke RS Kartini. Sebenarnya apa yang terjadi kepada Tedi Berlian?

Banyak yang menyebutkan Tedi mengalami “Swallowing Tongue”, yang jika diartikan ke dalam bahasa Indonesia adalah lidah tertelan. Sebenarnya yang dialami oleh Tedi Berlian adalah sebuah rangkaian peristiwa.

Tedi jatuh dengan posisi bagian leher menjadi penumpu seluruh beban tubuh, hal ini dikhawatirkan menyebabkan trauma kepala dan leher. Awalnya, Tedi Berlian masih sadar dan mengerang kesakitan memegangi kepala, kemudian Tedi tidak sadarkan diri (pingsan). Pingsan kemungkinan disebabkan karena trauma kepala leher yang dialami oleh Tedi Berlian.

Pada saat pingsan banyak hal yang bisa terjadi, yang paling sering menyebabkan kematian adalah tertutupnya jalan napas oleh lidah. Seperti kita ketahui, oksigen yang dialirkan menuju paru-paru harus melalui sebuah organ yang disebut trakhea (tenggorokan). Sedangkan lidah berada di bagian atas dari persimpangan antara tenggorokan dan kerongkongan.

Ketika lidah tertelan ke arah belakang, otomatis jalan tersebut (tenggorokan) akan tertutup dan menyebabkan terganggunya aliran oksigen ke paru-paru; dan seluruh tubuh.

Lidah bisa tertelan ke belakang dikarenakan kondisi unconsciousness. Normalnya, lidah (yang merupakan otot rangka) diatur oleh persarafan yang berasal dari otak; menjaganya tetap intak dan berfungsi sebagaimana mestinya. Pada keadaan tidak sadar, persarafan di lidah menjadi terganggu dan membuat lidah terjatuh ke belakang, menutup jalan napas.

Seperti ditulis sebelumnya; ketika jalan napas tertutup oleh lidah, maka oksigen yang masuk ke paru-paru akan berkurang (atau tidak ada). Inilah yang paling berbahaya. Tidak ada oksigen ke paru-paru berarti tidak ada oksigen ke seluruh tubuh, terutama otak.

Harus dilakukan penanganan segera supaya tidak terjadi keadaan hipoksia (kekurangan oksigen di jaringan), yang bisa menyebabkan kematian. Golden period adalah 3 menit setelah asupan oksigen terhenti, karena sel-sel otak akan mati ketika tidak mendapat asupan oksigen selama 3 menit.

Penanganan awal yang tepat tentu saja akan mempengaruhi prognosis dari korban. Secara general, untuk semua pasien dengan kondisi gawat darurat, tenaga medis akan menggunakan Algoritma A-B-C (Airway – Breathing – Circulation).

Menurut dr Lisa dalam bukunya, First Aid Manual and Related Healthcare Issues for Football, tindakan awal untuk penderita yang tidak sadarkan diri adalah membebaskan jalan napasnya (airway). Segera bebaskan jalan napas dengan harapan obstruksi segera ditangani dan oksigen kembali bisa menuju paru-paru.

Pada kasus yang dialami Tedi Berlian, kita anggap memiliki trauma pada tulang belakang (dilihat dari cara jatuhnya). Pembebasan jalan napas tidak boleh sembarangan. Jaw Thrust (mendorong rahang) disarankan untuk kasus ini, sedangkan head tilt dan chin lift tidak disarankan karena dikhawatirkan akan memperparah cidera tulang belakang.

Jaw thrust harus dilakukan untuk penanganan pertama sebelum alat yang lebih advance datang. Tindakan jaw thrust dilakukan dengan cara memegang sudut rahang bawah dan mendorong rahang bawah kedepan. Keuntungan melakukan tindakan ini adalah dapat sekaligus melakukan fiksasi kepala agar selalu pada posisi segaris (in line), dan memperbaiki posisi lidah yang tertelan supaya bisa kembali ke posisi aslinya.

Ketika ambulance atau petugas medis datang, bisa digunakan alat bantu untuk membebaskan napas, seperti nasopharingel tube, ororfaringeal tube, atau tongue depressor.  Alat ini digunakan untuk menjaga patensi jalan napas, menyediakan jalan untuk oksigen supaya bisa masuk ke paru-paru.

Teknik Jaw Thrust

Ketika airway telah tertangani, yang selanjutnya ditangani adalah breathing, yaitu pernapasan. Maksud dari breathing adalah memastikan cukupnya oksigen yang masuk ke dalam paru-paru. Biasanya tim medis akan memasangkan selang oksigen kepada penderita.

Breathing diberikan ketika airway tertangani karena jika jalan napas belum dibebaskan akan percuma memberikan oksigen kepada korban, karena oksigen tidak akan bisa sampai ke paru-paru. Oksigen bisa dialirkan menggunakan kanul nasal atau O2 mask, digunakan sesuai dengan indikasi yang ada.

Terakhir, adalah circulation yaitu segera memasang IV line (infus) guna memasukkan D (drugs / obat-obatan) untuk pasien. Langkah ini biasanya dilakukan di rumah sakit, atau di dalam Ambulance.

Dari kasus yang dialami oleh Tedi Berlian,kita mendapat pelajaran bahwa belum semua tenaga medis yang ada di lapangan siap untuk menangani keadaan darurat seperti ini. Seperti diutarakan oleh fisioterapis PSS Sleman, Sigit Pramudya di akun Twitternya.

Fisioterapis yang pernah menangani klub besar seperti Persib Bandung dan Sriwijaya FC ini menyayangkan tim medis yang bertugas malam itu. Penanganan yang diberikan kepada Tedi dianggap tidak sesuai SOP, dan terkesan terburu-buru dikarenakan adanya intervensi dari luar. Petugas terburu-buru untuk mengangkat Tedi dan mengeluarkannya dari lapangan, padahal saat itu Tedi dalam keadaan tidak sadar dan dikhawatirkan mengalami cidera tulang belakang.

Semoga dengan adanya kejadian ini, PSSI lebih memperhatikan tentang keselamatan pemain di lapangan. Salah satu caranya mungkin dengan membuat regulasi tentang tenaga medis yang bertugas dalam pertandingan sepakbola. Paling tidak ada syarat minimal sudah mempunyai sertifikat ATLS (Advance Trauma Life Support). Karena nyawa manusia lebih penting daripada sepakbola.

GWS Tedi Berlian, hope for your speedy recovery.

 

 

Komentar
Ahmad Indra Pranata

Dokter muda yang mencintai sepakbola, bisa kamu hubungi di akun Twitter @mamas_ahmad