Cerita

Tembok-Tembok yang Bersuara di Sekitar Jalan Kaliurang

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr

“If you give us 90 minutes, we’ll give you a lifetime,” begitulah tembok sepanjang sekitar 10 meter itu bersuara. Letaknya berada di timur Stadion Maguwoharjo, sedikit ke selatan dari pintu utama markas PSS Sleman tersebut. Kalimat yang kerap digunakan sebagai slogan Brigata Curva Sud itu menggambarkan bagaimana loyalitas Sleman Fans. Karya tersebut juga meneriakkan kehausan mereka akan prestasi dengan harapan Laskar Sembada dapat memberikan yang terbaik di setiap laga.

Bergerak ke arah utara dari Stadion Maguwoharjo, harapan kembali bersemayam dalam balutan cat di daerah Siwil. Terinspirasi dari koreografi Borussia Dortmund saat melawan Real Madrid pada Liga Champions tahun 2013, seorang suporter yang sedang memakai binocular tergambar di dinding itu. Logo PSS Sleman yang terdapat di belakangnya memberikan identitas bagi sosok yang digambarkan berjaket biru tersebut. Optimisme yang sangat kentara memberikan makna balutan cat tersebut dengan sebuah tulisan kecil “I can see that trophy” di pojok kanan bawah.

Tatkala Laskar Sembada bertambah usia pada 20 Mei 2018, asa yang serupa muncul lagi di daerah Candi Mendiro. Tak butuh pemikiran yang terlalu berat untuk mengartikan ilustrasi burung elang jawa dengan berlatarkan tulisan “HARUS JU42A” itu. Mural tersebut juga sekaligus sebagai ucapan selamat ulang tahun kepada sang kebanggaan. Dua karya tersebut dengan jelas menyuratkan keinginan agar PSS Sleman dapat merengkuh kejayaan di akhir musim Liga 2 tahun 2018 ini.

Sementara itu, loyalitas suporter terpampang di daerah Ngalangan. Tembok terbagi dua dengan bagian pertama bertuliskan ”HEAR US”, sebuah seruan bagi PSS Sleman untuk mendengarkan suporternya. Di samping kanannya terdapat kata “HERE” berlatar belakang kuning yang merepresentasikan tribun di mana kelompok Brigata Curva Sud berdiri. Penyatuan dari dua bagian tersebut menyuratkan pesan yang menenangkan bagi penggawa Super Elja bahwa mereka akan selalu ditemani oleh para pendukungnya.

Tak hanya berbau dukungan kepada PSS Sleman saja, beberapa dinding juga melestarikan budaya autokritik. Di mana pesan itu berasal sekaligus menysasar adalah kelompok suporter mereka sendiri. Mural di sebelah timur Curva Sud Shop Condongcatur adalah contohnya. Frasa ”LET’S MOVE” ditujukan kepada Brigata Curva Sud sendiri agar selalu ingat dengan pergerakan yang selama ini dilakukan. Penempatan karya tersebut yang hanya berjarak selemparan batu dari sekretariat Brigata Curva Sud dimaksudkan agar wejangan tersebut mudah dibaca oleh penerima pesan.

Wejangan positif juga dilukiskan di daerah Kledokan. Kali ini dengan unik karena menggunakan aksara Jawa yang bertuliskan “ayakso guyaksub”, sebuah slang yang berarti ayo guyub. Frasa tersebut merupakan ajakan untuk guyub, baik antar anggota komunitas maupun antar komunitas di Brigata Curva Sud. Soal penggunaan aksara jawa adalah masalah identitas. Walaupun kelompok suporter di Sleman banyak menyerap budaya eropa sebagai buntut globalisasi, namun identitas mereka sebagai orang Jawa tidak begitu saja luntur. Fenomena yang oleh Richard Guilianotti disebut sebagai glokalisasi.

Contoh lain autokritik disuarakan saat ulang tahun ke-7 Brigata Curva Sud melalui goresan kuas di daerah Gadingan. Pesan yang disampaikan cukup dalam dan menyinggung identitas Brigata Curva Sud itu sendiri dengan tulisan “SAVE OUR RULES”. Kalimat itu mempertanyakan lagi identitas yang tercantum dalam manifesto karena menurut pembuat mural situasi saat ini mulai melenceng dari aturan tersebut. Gambar logo Brigata Curva Sud yang muncul dari tanah dari atas tangan yang menengadah itu dimaksudkan sebagai pengingat bahwa kelompok ini tumbuh dari bawah dan tidak semestinya melupakan dasar-dasar yang digunakan untuk berpijak ketika sudah berada di atas.

Selain itu, tembok-tembok di sekitar Jalan Kaliurang juga telah menangkap beberapa momen. Salah satunya adalah laga bertajuk Derbi DIY antara PSS Sleman dan PSIM Yogyakarta pada 26 Juli 2018 lalu. Gerahnya atmosfer pertandingan yang sudah terasa sejak jauh-jauh hari menelurkan sebuah mural di daerah Gentan. Bertuliskan “DERBY” dengan huruf “Y” diilustrasikan dengan jari tengah dan telunjuk di mana jari telunjuk tertekuk, ditambah hiasan kata-kata yang kerap berseliweran di media sosial dari kedua kubu suporter, membuat karya tersebut sangat sempurna untuk menggambarkan situasi saat itu.

Meregangnya nyawa Muhammad Iqbal Setiawan saat laga Derbi DIY tersebut juga menjadi salah satu momen yang diabadikan. Dan digoreskan di dinding menjelang Republik Indonesia bertambah usia. Alih-alih membuat ucapan terkait Hari Kemerdekaan, goresan-goresan kuas di daerah Ngalangan justru menuliskan “MATI SATU KARENA SERIBU”. Karya tersebut merupakan buah dari keresahan terhadap dunia sepak bola di negeri ini yang kerap memakan korban akibat dikeroyok oleh oknum suporter. Pesan yang ingin disampaikan bersifat universal serta tidak menyasar komunitas tertentu. Wejangan tersebut ditujukan untuk seluruh kelompok suporter di Indonesia, termasuk Sleman Fans sendiri.

Sebuah gambar, apapun medianya, boleh saja tak melulu hanya menyajikan estetika. Terkadang pesan yang terkandung dalam paduan warna tersebut justru lebih dalam dari kelihatannya. Mural-mural di atas adalah contohnya. Beberapa karya tersebut adalah buah tangan dari komunitas Jakal Tampil. Mereka merupakan bagian dari Brigata Curva Sud yang secara rutin memilih tembok sebagai media berekspresi. Sebuah komunitas yang di awal tahun ini menyematkan doa untuk PSS Sleman pada sebuah dinding di daerah Besi yang bertuliskan ”THIS IS TIME TO WIN AND GLORY”. Tembok yang mengingatkan kita tentang asa setiap kali terlintas di depan mata hingga akhirnya Laskar Sembada benar-benar meraih juara.

Semua foto yang tertera adalah milik Jakal Tampil
Komentar
Andhika Gilang

Perintis @tapakbola. Dapat dihubungi secara personal melalui akun @AndhikaGila_ng

Comments are closed.