Analisis

Tiga Penyerang PSS dengan Playing Style Berbeda

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr

Di perhelatan Liga 2 Musim 2018 ini PSS Sleman kembali ditangani oleh pelatih asal Aceh yang sebelumnya pernah menukangi Laskar Sembada beberapa tahun silam, beliau adalah Heri Kiswanto.

Mantan kapten tim nasional tersebut dalam skemanya kerap menempatkan satu penyerang ke dalam formasi 4-1-4-1 yang menjadi andalan eks pelatih Persela Lamongan musim lalu tersebut.

Musim kali ini, PSS memiliki tiga penyerang yang siap memborbardir gawang lawan-lawannya. Mereka adalah I Made Wirahadi, Tambun Naibaho, dan Cristian Gonzales. Tiga penyerang tersebut memiliki playing style yang berbeda dengan didukung kelebihan yang berbeda-beda juga.

I Made Wirahadi

Pemain asal Pulau Bali ini sudah malang melintang di persepakbolaan tanah air. Tahun lalu, Made berhasil berkontribusi membawa PSMS Medan naik kasta ke Liga 1. Meski usianya tak lagi muda, ketajaman dan pengalamannya diharapkan mampu membawa Super Elja naik kasta di tahun 2018. Dari beberapa uji tanding serta dari pengamatan bagaimana Made bermain, bisa dikatakan ia adalah seorang striker yang bertipikal sebagai goal poacher.

Dari beberapa uji tanding yang dihelat, Made memang seperti belum menemukan penampilan terbaiknya. Begitu pula saat laga resmi Liga 2 musim ini pertama kali digelar antara PSS melawan PSMP. Made masih terlihat gagap dan susah menemukan peluang untuk ia eksekusi.

Ingat gol si pemain ketika melawan Persiba Balikpapan pada uji tanding beberapa waktu lalu? Begitulah seharusnya ia di-service.

Penyerang dengan role model seperti ini akan terlihat sedikit ”malas” dibanding rekanya yang lain. Ia  tidak perlu banyak terlibat saat timnya melakukan buid-up serangan. Tidak perlu pula membantu tim ketika bertahan. Sebagai poacher ia tidak dibebani porsi yang besar dalam skema strategi sebuah tim. Ia hanya perlu menunggu, memiliki respon cepat, bergerak mencari posisi terbaik di kotak penalti dan menunggu bola untuk dieksekusi.

Made tentu belum menunjukkan permainan terbaiknya. Atau bisa pula rekan-rekannya yang perlu lebih memahami bola seperti apa yang diinginkan olehnya. Hanya waktu yang bisa menjawab itu semua.

Tambun Naibaho

Pemain yang musim lalu tampil bersama Semen Padang di kasta tertinggi sepakbola Indonesia, kini berseragam PSS Sleman bersama Rangga Muslim dan kawan-kawan.

Performanya tak terlihat menonjol karena pada musim lalu ia kalah persaingan dengan Marcelo Sacramento dan hanya bermain 1200 menit selama semusim. Sebenarnya ia memiliki kualitas yang mumpuni jika diberi kesempatan lebih.

Terbukti saat beberapa kali uji tanding bersama PSS Sleman, ia total menorehkan 4 gol. Artinya pemain berusia 27 tahun itu butuh jam terbang yang lebih agar performanya meningkat. Tambun sendiri adalah sosok penyerang yang dengan gaya dummy runner.

Pemain dengan playing style seperti ini biasanya sering mencari atau membuka ruang di daerah pertahanan lawan dengan cara tidak beraturan. Tak jarang pula ia akan berduel melawan satu atau dua bek lawan untuk membuka ruang. Artinya tipe penyerang dummy runner bisa dipastikan memiliki atribusi kecepatan, kengototan serta power yang menjadi andalan utamanya.

Dengan gaya main seperti ini, Tambun seharusnya bisa merepotkan dan membuat keteteran lini belakang lawan. Tinggal bagaimana ia melatih penyelesaian akhir dan akurasi tendangan yang selama ini masih kurang maksimal.

Cristian Gonzales

Legenda. Insan pecinta sepakbola Indonesia banyak menyebut sosok seorang El Loco dengan julukan tersebut. Ia adalah pencetak gol terbanyak dalam sejarah Liga Indonesia. Si pemain sudah banyak makan asam garam di riuhnya sepakbola Indonesia. Namanya harum, bahkan ketika sudah berkepala empat ia tetap bisa mencuri panggung.

Penyerang asal Uruguay yang sudah berkewarganegaraan Indonesia tersebut akhirnya telah resmi membela panji PSS Sleman di akhir bulan April 2018. Kualitasnya sudah tidak diragukan lagi meskipun usianya telah menginjak 41 tahun. Beberapa kali namanya tercetak sebagai top scorer di Liga Indonesia yang membuktikan dirinya adalah seorang bomber yang berbahaya.

Dari beberapa klub besar yang pernah dibelanya, ia bisa dikatakan sebagai pemain yang bertipikal sebagai target man.

Target man adalah penyerang yang memiliki postur badan proposional yang bisa ditugaskan untuk menahan bola (hold up ball) atau membelokkan umpan kepada rekan setimnya. Ia adalah pemain yang tepat saat ditujukan umpan-umpan lambung. Ia bisa meneror pertahanan lawan dengan keunggulan fisiknya saat umpan silang (crossing) datang. Seorang target man biasanya didukung atribut seperti stamina, finishing, dan ketenangan.

Hal tersebut di atas terlihat kala Gonzales diturunkan di 12 menit sisa pertandingan melawan PSMP. Ia langsung menunjukan kelasnya dengan menyumbang sebiji gol. Mungkin hanya sebuah gol yang ia cetak petang itu. Namun di luar itu semua, ia datang sebagai pembeda. Sebagai pengatur irama di lini depan. Sebagai pembagi bola di lini sayap, dan tentu saja sebagai penerima umpan untuk diselesaikan sebagai gol.

Ia terlibat tidak hanya untuk menyelesaikan peluang. Namun juga mengkreasi peluang itu sendiri. Di usia senja sebagai pebola, Gonzales adalah target man yang masih komplit.

Jika melihat formasi yang sering diturunkan Herkis, tentu saja slot seorang penyerang hanya akan diisi oleh seorang pemain apabila Herkis tetap memakai formasi andalannya dengan menaruh 1 striker, 5 gelandang, dan 4 bek.

Persaingan akan ketat sekali di lini depan, mengingat gaya main dari ketiga penyerang yang berbeda-beda. Akan tetapi hal ini membuat Herkis bisa memasang salah satu dari mereka dengan melihat pertimbangan taktikal lawan dan keadaan di lapangan.

Mari kita tunggu siapa yang paling moncer di musim ini.

 

 

 

Komentar
Bagus Ananditya

Penikmat ketela bakar ketika waktu Maghrib tiba. Bisa ditemui di akun @BagusAnanditya