Analisis

Tiket Anak: Mengedukasi No Ticket No Game

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr

Satu bulan berlalu, uji tanding PSS Sleman kontra Madura United, Sabtu (01/04/2017) manajemen dan panitia pelaksana (panpel) PSS Sleman memberikan sebuah apresiasi dengan meluncurkan tiket khusus anak.

Panpel memberikan kategori tiket anak yang tersebar di semua tribun bagi anak-anak yang berusia 6-12 tahun. Sederhananya, anak-anak yang masih belajar di Sekolah Dasar. Harga tiket meliputi separuh harga dari tiket dewasa.

Pihak manajemen berupaya untuk menjadikan stadion sebagai tempat bermain yang aman dan ramah bagi anak-anak. Tentu saja juga memperkenalkan dan mengajarkan arti No Ticket No Game sejak dini.

Kendala kurang efektif, tiket anak yang mampu terjual hanya seperempat dari jumlah tiket anak yang tersedia pada uji tanding tersebut. Setelahnya pihak manajemen dan panpel PSS Sleman enggan menetapkan tiket anak pada kompetisi Liga 2 ini.

Namun beberapa poin penting mengenai tiket anak perlu ditilik kembali.

Pertama, edukasi No Ticket No Game memang perlu diterapkan sejak dini agar anak-anak tertanam kesadaran akan pentingnya membeli tiket untuk berperan aktif terhadap majunya PSS sebagai sebuah klub yang profesional. Seperti yang kita tahu, tiket adalah salah satu sumber pemasukan utama bagi klub.

Kedua, membudayakan tiket anak memang sulit dan penuh resiko. Antusiasme anak-anak dalam mendukung kebanggaan memang perlu diapresiasi, terlebih apabila tiket anak mampu dikelola secara berkala tentu tidak akan menimbulkan kerugian.

Berdasar pengalaman, tiket anak bisa kembali tercetak dengan mematok jumlah kisaran terjualnya tiket anak sebelumnya. Juga perlu untuk mempertimbangkan sosialisasi, agar semakin banyak publik yang tahu bahwa panpel memberlakukan tiket anak.

Ketiga, harga tiket anak juga merupakan wujud keadilan bagi anak. Pola pikir anak yang aktif, untuk berdiam diri duduk dalam tribun mereka tidak betah dan lebih suka wara-wiri, mereka juga tidak memakan tempat dalam tribun.

Selain itu, anak-anak yang menyaksikan PSS umumnya juga menabung agar bisa membeli tiket. Dengan harga khusus mereka bisa lebih mudah untuk memenuhi tabungan agar cukup untuk membayar tiket. Atau jika ada sisa bisa ditabung kembali untuk membeli merchandise PSS.

Semoga ke depan manajemen klub kembali mempertimbangkan keberadaan tiket anak. Jangan sekali mencoba lantas tidak berminat untuk menerapkannya kembali.

Semua tentu ada positif dan negatifnya, tapi tidak ada salahnya kajian mengenai tiket anak ini terus dilakukan. Penulis membayangkan suatu ketika stadion menjadi arena bermain yang ramah bagi anak-anak.

Komentar

Comments are closed.