Cerita

Tribun Berdiri Stadion

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr

 Stadion Maguwoharjo tanpa “embel-embel” Internasional tetap menjadi kebanggaan warga Sleman, juga Sleman Fans baik yang berdomisili di dalam atau luar daerah. Namun kisah saya dengan PSS tidak bermula dari Maguwoharjo. Stadion Tridadi menjadi awal perkenalan dengan PSS Sleman. Kala itu saya diajak untuk melihat PSS Sleman saat mereka masih ber-home base di Stadion Tridadi.

Masih segar di ingatan, Stadion Tridadi adalah saksi bisu Kejayaan PSS Sleman pada waktu lampau. Dengan kapasitas Stadion Tridadi yang tidak sampai setengah kapasitas Stadion Maguwoharjo, Tridadi sering mengalami overload. Teringat ketika penonton meluber hingga pinggir lapangan (sentle ban).

Hal ini membuat keriuhan suporter PSS Sleman sangat terasa hingga ke tengah lapangan. Saat itu Stadion Tridadi menjadi stadion yang angker untuk lawan-lawan. Bahkan tim-tim besar penah menelan pil pahit, merasakan kekalahan,saat bertandang ke Stadion Tridadi.

Awal saya mengenal PSS, saya adalah seorang penonoton. Tidak tahu entah mengapa, rasa suka tumbuh ketika pertama kali saya memlihat PSS Sleman berlaga. Pemain idola saya kala itu adalah Anderson da Silva yang terkenal dengan tendangan jarak jauhnya. Tendangannya adalah salah satu hal yang saya tunggu ketika PSS Sleman bertanding.

Dari penonton, saya mulai beralih menjadi seorang suporter saat PSS Sleman mulai menempati Stadion Maguwoharjo. Stadion Maguwoharjo tentu berbeda dengan Stadion Tridadi, mulai dari bangunan, rumputnya, begitupun kapasitasnya.

Saya terkagum-kagum saat pertama kali melihat Stadion Maguwoharjo. Besar dan desainnya yang unik memiliki jalan memutar di empat sudutnya. Melihat PSS Sleman berlaga di Stadion Maguwoharjo terasa berbeda dari Stadion Tridadi lebih luas dan tentunya lebih nyaman dengan sudut pandang yang lebih luas.

Perlu diketahui Stadion Maguwoharjo memiliki kapasitas sekitar 40 ribu penonton. Akan tetapi tidak semua orang paham arti 40 ribu penonton itu sesungguhnya. Dengan tribun yang tidak memiliki kursinya, memiliki arti bahwa seluruh tribun Stadion Maguwoharjo adalah tribun berdiri. Kapasitas 40 ribu diartikan bahwa stadion akan bisa menampung 40 ribu orang jika semua penonton berdiri.

Mungkin itulah jawaban ketika banyak Sleman Fans bertanya ketika Panpel, mencetak 25 ribu tiket tetapi Stadion sudah terasa penuh. Karena tidak semua orang mau berdiri ketika mendukung PSS, ada tribun yang mayoritas berisi orang tua dan anak-anak. Di situ mereka akan lebih memilih untuk duduk manis melihat pertandingan.

Tribun utara (hijau) dan selatan (kuning) adalah tribun suporter. Tribun timur dan barat adalah tribun penonton. Memang tidak ada aturan tertulis tentang hal itu, namun saya rasa semua orang setuju tentang hal ini. Bagi seorang suporter berdiri adalah kewajiban.

Melihat kebanggaan berlari kesana kemari tidak etis rasanya jika saya hanya duduk manis, makan tahu dan arem-arem ala stadion. Saya sudah tahu tempat saya berdiri yaitu kalau tidak di tribun selatan ya tribun utara. Berdiri, paling tidak melambangkan kami sangat menghargai perjuangan PSS Sleman.

Ada juga pengalaman pahit ketika kami memilih berdiri di antara mereka yang duduk. Cacian karena kamu menutupi sering kami rasakan. “bayare podo we neteki” (bayarnya sama kok menutupi). Jika hal ini terjadi, mari kembalikan kepada hukum tidak tertulis yang diutarakan sebelumnya. Tribun utara dan selatan adalah tribun untuk suporter.

Suporter mempunyai tugas untuk berdiri dan bernyanyi mendukung klub kebanggaanya. Seharusnya bisa menempatkan diri sesuai porsinya. Jika ingin menonton PSS dengan tenang, kalian bisa pindah ke tribun merah atau biru.

Tapi bagaimana pun, kami tetap meminta maaf kepada kalian, yang pernah merasa terganggu ketika kami berdiri. Kami hanya melakukan kewajiban sebagai suporter.

#PekanMenulisSlemanFans

Komentar