Opini

Usaha SuperSeto Menghapus Kutukan Final

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr

Seto Nurdiantoro adalah salah satu pelatih muda di kancah persepakbolaan Indonesia. Usianya sekarang adalah 44 tahun, di mana ia tercatat terakhir aktif sebagai pemain sepakbola pada tahun 2013, ketika membela PSIM Yogyakarta.

Semasa  masih aktif bermain, Seto sudah mencicil untuk mendapatkan lisensi kepelatihan. Hingga pada akhirnya, segera setelah memutuskan gantung sepatu dia langsung ditarik menjadi pelatih PSIM Yogyakarta dengan memegang predikat pelatih lisensi B dari AFC.

Seto Nurdiantoro merupakan satu contoh pelatih yang memiliki karir mulus. Terutama setelah menukangi PSS, karir kepelatihan pria asal Kalasan ini melejit bagaikan roket. Pada 2017, dia mengikuti kursus lisensi A AFC yang digelar PSSI. Saat itu, dia berposisi sebagai asisten pelatih Fredy Muli, sehingga memiliki waktu banyak untuk fokus ke kursus yang dia jalani.

Setelah mendapatkan Lisensi A AFC, tidak membuatnya berpuas diri. Masih di bawah bendera PSS, dia langsung tancap gas mengikuti kursus Lisensi AFC-Pro yang untuk pertamakalinya diadakan oleh PSSI. Perlu diketahui, kursus AFC-Pro adalah kursus lisensi tertinggi di AFC. Dengan lisensi tersebut, kelak Seto bisa melatih tim di luar Indonesia. Saat ini, belum ada satupun pelatih di Indonesia yang memiliki lisensi AFC-Pro.

Yang lebih hebat lagi adalah, Seto mengikuti kursus tersebut bersamaan dengan tugasnya sebagai pelatih utama PSS dalam mengarungi Liga 2. Memang pada awalnya, ketika mendaftar, status Seto adalah asisten pelatih Heri Kiswanto. Namun di tengah jalan Herkis terpaksa mundur dan digantikan oleh Seto. Dengan jadwal yang bertabrakan itu, Seto beberapa kali absen dalam latihan rutin PSS.

Selama menjadi pelatih, Seto memang baru menukangi tiga tim: PSIM, Pra PON DIY, dan PSS Sleman. Dia dikenal dengan kedekatannya kepada pemain muda dan berani memberikan kepercayaan pemain muda. Namun, ada satu hal yang belum dibuktikan Seto sebagai seorang pelatih: Juara.

Sebagai seorang pemain, Seto memang pernah mengecap juara bersama Persiba. Kala itu di Final Divisi Utama 2011, dia bersama Persiba berhasil mengalahkan Persiraja 1-0. Juara sebagai pemain dan sebagai pelatih tentu saja berbeda. Apalagi saat ini status Seto adalah sebagai seorang pelatih.

Seto pernah mencicipi laga final bersama PSS di ISC B. Final yang digelar di Jepara tersebut mempertemukan PSS dengan PSCS. Kala itu dia berhadapan dengan pelatih asal Gunung Kidul: Gatot Barnowo, yang statusnya tentu lebih senior

Pada akhirnya, Seto harus menerima pil pahit di final pertamanya sebagai seorang pelatih. Dia harus mengakui keunggulan Gatot Barnowo dan merelakan gelar juara ISC ke jatuh ke tangan PSCS Cilacap.

Setelah kegagalannya, dia mundur dari kursi pelatih utama PSS dan bergeser menjadi asisten pelatih. Salah satu faktor penyebab kekalahan PSS di final adalah dari sisi taktikal dan secara tak langsung menyiratkan bahwa itu adalah tanggung jawab dari pelatih.

Yang menarik adalah dia rela mundur dan menjadi asisten pelatih dengan tujuan agar dia bisa belajar dari para pelatih senior. Selama menjadi asisten pelatih di PSS, dia sudah berguru kepada dua pelatih senior: Freddy Muli dan Heri Kiswanto.

Proses pembelajaran yang dilakukan oleh Seto ternyata tidak sia-sia. Belajar dari pelatih senior, dan mengikuti kursus kepelatihan membuatnya mampu membawa Super Elja terbang lebih tinggi. Pada tahun 2018, Seto kembali berhasil membawa PSS ke final Liga 2 2018. Ini adalah final keduanya dalam kurun waktu 2 tahun terakhir.

Saat ini, Seto tentu berbeda dengan Seto dua tahun lalu. Dia tentu sudah lebih berpengalaman dan sudah memiliki modal yang lebih bagus dibandingkan ISC B.

DI final, Seto akan berhadapan dengan Syafrianto Rusli. Pelatih yang saat ini juga sedang menjalani kursus kepelatihan AFC-Pro bersama dengan Seto. Hal ini tentu sangat menarik karena ini akan menjadi pertarungan dua pelatih yang selevel.

Final Liga 2 ini adalah usaha Seto untuk mematahkan sebuah kutukan. Seto yang sekarang tentu akan lebih matang dalam meramu taktik di lapangan. Harapannya, kutukan laga final untuk Seto Nurdiantoro dapat dipatahkan, dan pada akhirnya dia bisa membawa PSS menjadi juara Liga 2 2018.

 

Komentar
Ahmad Indra Pranata

Dokter muda yang mencintai sepakbola, bisa kamu hubungi di akun Twitter @mamas_ahmad