Cerita

Utang Gadai Dol

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr

UGD di dalam dunia medis diartikan sebagai Unit Gawat Darurat. Secara sederhana UGD adalah salah satu bagian di rumah sakit yang menyediakan penanganan awal bagi pasien yang menderita sakit dan cedera, yang dapat mengancam kelangsungan hidupnya. Darurat di sini adalah kejadian yang harus segera ditangani, untuk menyelamatkan nyawa yang bersangkutan.

Kejadian yang umumnya ditangani di UGD adalah: Kecelakaan lalu lintas, perdarahan intracerebral (stroke), Status asmatikus, Ileus, sindrom koroner akut, dan lain lain. Harapan orang yang datang ke UGD, adalah masalah (kesehatan) mereka dapat dengan segera teratasi.

UGD ini adalah tempat yang wajib dimiliki oleh semua rumah sakit, tidak hanya di Indonesia namun di seluruh dunia. UGD juga diwajibkan melayani pasien selama 24/7, yang berarti Dokter dan tenaga kesehatan lain harus standby setiap saat.

Dunia sepakbola memiliki makna sendiri untuk UGD, terutama sepakbola di Sleman. Di Sleman, dikenal dengan movement UGD (Utang Gadai Dol). UGD ini diartikan sebagai kegiatan ekonomi antarkomunitas untuk saling membantu dalam urusan sepakbola, terutama tentang mendukung tim kebanggaan di luar kandang (awaydays).

Mengapa saya sebut sebagai kegiatan ekonomi, karena ada perputaran uang dan barang dalam kegiatan tersebut. Perputaran antara orang yang membutuhkan barang dengan yang membutuhkan uang, atau antara orang yang memiliki uang dan membutuhkan uang. Keduanya adalah konsep dasar dalam ekonomi.

Sebagai gambaran, si A membutuhkan uang untuk pergi mendukung tim kebanggaannya di luar pulau; dia tidak mempunyai uang, namun memiliki handphone yang sudah tidak terpakai. Kemudian, ada si B yang mempunyai uang dan membutuhkan alat komunikasi. Bertemulah keduanya dan terjadi transaksi, itulah gambaran dari UGD (Utang Gadai Dol).

UGD di Sleman adalah sebuah wadah, memfasilitasi komunitas Sleman Fans untuk mempermudah bertemunya penjual dan pembeli. Sebuah wadah simpel yang hanya dibuat dengan 4 suku kata; # U G D. Simple yet efficient.

UGD mungkin hanya dikenal di lingkup kabupaten Sleman saja. Hal yang bisa menjadi ciri khas tersendiri, seperti sedulur bonek dengan away estafetnya. Jika merunut sejarahnya, adanya UGD ini berawal dari movement di media social, terutama Twitter. Movement yang digagas oleh akun-akun komunitas yang membutuhkan dana segar untuk mendukung tim away. Biasanya, akun-akun tersebut akan menggunakan hashtag #UGD dan mention ke akun yang memiliki lebih banyak follower.

Semakin besarnya komunitas pecinta PSS Sleman di sosial media, movement UGD ini semakin besar dan semakin banyak peminatnya.Sehingga peminatnya pun tidak lagi sebatas penggemar PSS Sleman, namun juga masyarakat umum. Lapak UGD pun tidak selalu dibuka, biasanya dimulai H-7 sebelum PSS Sleman melakoni pertandingan tandang.

Benarkah UGD hanya ada di Sleman? konsep UGD sebenarnya sudah ada sejak dahulu, dan terjadi di seluruh dunia. Ingat, inti dari UGD adalah kegiatan ekonomi dengan latar belakang sepakbola (mendukung tim saat away).

Di belahan dunia mana pun, akan selalu ada orang yang membutuhkan uang. Di Inggris, dimana kaum buruh mendapatkan upah tiap pekan/bulan, ketika mereka membutuhkan uang untuk menemani timnya berlaga di Liga Eropa, mereka tidak segan untuk meminta gaji lebih awal, menggadaikan barang berharga, atau menjual sepatu Adidasnyauntuk dana segar.

Di Indonesia, budaya awaydays sudah ada sejak jaman perserikatan, atau bahkan sebelumnya. Banyak suporter yang pernah menjual barangnya, menggadaikan motornya, berhutang kepada kanan-kirinya demi mendapatkan dana segar untuk awaydays.

Teman-teman dari Jakmania, Bobotoh, Bonek, Aremania yang dikenal sebagai suporter fanatik baik kandang atau tandang pasti pernah mengalami salah satunya.

UGD adalah akronim dari Utang Gadai Dol, ketiganya memiliki arti masing-masing.

Utang, /U-tang/ menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan sebagai (n) 1 uang yang dipinjam dari orang lain; 2 kewajiban membayar kembali apa yang sudah diterima.

Utang adalah uang yang dipinjam dari orang lain dan kita berkewajiban untuk mengembalikannya. Harus ada 2 komponen tersebut, karena jika hanya meminjam tanpa mengembalikannya dinamakan memalak; sebaliknya jika mengembalikan uang tanpa pernah meminjam itu namanya memberi/sodakoh.

Gadai, /ga·dai / 1 (v) meminjam uang dalam batas waktu tertentu dengan menyerahkan barang sebagai tanggungan, jika telah sampai pada waktunya tidak ditebus, barang itu menjadi hak yang memberi pinjaman; 2 (n) barang yang diserahkan sebagai tanggungan utang. Gadai memiliki konsep yang hampir mirip dengan hutang, namun di sini ada jaminan berupa barang dan tenggat waktu. Jaminan akan menjadi milik pemberi uang jika dalam waktu yang disepakati tidak bisa mengembalikan pinjaman.

Terakhir, dol (jual) adalah (v) memberikan sesuatu kepada orang lain untuk memperoleh uang pembayaran atau menerima uang. Kata jual memiliki arti yang sangat luas, diwakilkan dengan kalimat “sesuatu”. Sesuatu bisa berupa barang, jasa, janji, bahkan diri. Semuanya yang penting menghasilkan uang. Namun pada umumnya, yang dijual adalah barang dan jasa.

Dipandang dari segi agama ataupun segi beregara, ketiganya bukanlah hal/kegiatan yang dilarang. Ketiganya bukanlah hal yang diharamkan atau melanggar hukum. Pada pelaksanaannya, memang tidak semua kegiatan Utang, Gadai, Dol itu terjadi. Di lingkungan pendukung PSS Sleman, kegiatan

Dol (jual) adalah yang paling dominan dibandingkan dengan Utang atau Gadai.

Jadi, jika ada komunitas yang menganggap UGD adalah sesuatu hal yang memalukan, hanya ada dua kemungkinan. Mereka adalah anak orang kaya, atau mereka tidak pernah mendukung tim kebanggaan mereka di luar kandang.

Komentar
Ahmad Indra Pranata

Dokter muda yang mencintai sepakbola, bisa kamu hubungi di akun Twitter @mamas_ahmad