Analisis

Analisis Musim 2018: Sebelas Pertama dan Masalah di Awal Kompetisi

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr

Penantian panjang 11 tahun terbayar sudah. Tiket promosi ke Liga 1 berhasil disandingkan dengan trofi juara Liga 2. PSS Sleman akhirnya sudah bisa dan harus berusaha untuk mewujudkan mimpi-mimpi yang lebih tinggi.

Dalam 31 pertandingan yang dilakoni sepanjang perhelatan Liga 2, PSS berhasil meraih mencatatkan 19 kemenangan, 3 hasil seri, dan 9 kekalahan. Perjalanan panjang yang ditutup dengan kemenangan dua gol tanpa balas melawan Semen Padang FC di Stadion Pakansari, pada Selasa (4/12) lalu.

Mengawali liga dengan penampilan kurang meyakinkan, PSS harus berpisah dengan Heri Kiswanto setelah pertandingan ketiga. Pelatih yang akrab disapa Herkis ini memutuskan mundur setelah anak asuhnya gagal mengalahkan tuan rumah Persegres Gresik United. Manajemen PSS kemudian menunjuk Seto Nurdiantoro untuk menggantikan Herkis sebagai pelatih kepala.

Di bawah arahan Seto Nurdiyantoro, penampilan Super Elja mulai menunjukkan peningkatan. Peningkatan penampilan yang merupakan hasil dari pendekatan taktik yang dilakukan oleh Seto. Bagaimana pendekatan taktik Seto sehingga mampu mengangkat penampilan tim PSS? Mari sedikit kita bedah garis besar strategi dan taktik yang digunakan oleh pelatih kelahiran Kalasan ini hingga berhasil membawa Super Elang Jawa terbang ke Liga 1 musim depan.

Skuat dan Sebelas Pertama

Pada Liga 2, jendela transfer dibuka sebanyak tiga kali. Di awal musim, pertengahan babak grup, dan menjelang babak 8 besar. Dalam tiga kesempatan itu pula Super Elang Jawa mencoba membangun dan menambah kekuatan tim dengan mendatangkan pemain-pemain berkualitas sesuai skema pelatih kepala.

PSS berhasil mendapatkan beberapa pemain kunci di berbagai posisi. Dalam diri Ega Rizky, PSS memiliki penjaga gawang yang kuat dalam menghentikan tembakan lawan dan mampu mendistribusikan bola dengan baik. Selain Ega, PSS juga memiliki Stya Beni dan Try Hamdani, penjaga gawang lain yang memiliki kualitas tidak jauh berbeda.

Di posisi fullback, Bagus Nirwanto, Vandy Prayoga, Akbar Zakaria, dan Aditya Putra Dewa mampu memberikan keseimbangan bagi permainan tim dengan kemampuan bertahan dan menyerang yang sama baiknya. Nama terakhir, A.P. Dewa, mampu menambah ketajaman serangan PSS melalui kemampuannya mengeksekusi bola mati.

Sempat mengalami bongkat pasang pemain, posisi bek tengah akhirnya memiliki duet yang cukup tangguh. Ikhwan Ciptady dan Arsyad Gufron mampu mengawal lini belakang Laskar Sembada dengan cukup baik di babak 8 besar hingga meraih juara. Hamdan Zamzani, putra daerah Sleman, juga mendapatkan menit main yang cukup banyak dan menunjukkan peningkatan performa selama gelaran Liga 2.

Kemampuan Ichsan Pratama menempati ruang antar lini, kontrol bola, dan bermain di ruang sempit sangat membantu PSS dalam mengalirkan bola untuk mengkreasikan peluang di area tengah. Dave Mustaine, Ilham Irhaz, dan Busari mampu memainkan peran sebagai gelandang box-to-box dengan baik. Pergerakan vertikal dan kemampuan membagi bola kedua pemain sangat dibutuhkan oleh PSS untuk menghubungkan lini belakang dan lini depan.

Lini tengah Super Elja lengkap dengan adanya dua sosok gelandang bertahan, Arie Sandy dan Amarzukih. Atribut bertahan Arie Sandy dan Bang Juki mampu dengan baik melengkapi kemampuan dua gelandang PSS yang lain. Penempatan posisi keduanya saat mengcover pergerakan pemain lain sangat penting untuk menjaga struktur permainan PSS agar tetap balance dan mampu mengontrol transisi dari menyerang ke bertahan.

Gambar 1. Sebelas pertama PSS yang sering diturunkan oleh Seto Nurdiantoro

Di sisi sayap, PSS memiliki pemain-pemain yang memiliki kualitas yang baik dalam situasi 1v1 maupun melakukan kombinasi umpan di sisi lapangan. Rifal Lastori, Slamet Budiono, Rangga Muslim, dan Irkham Milla memiliki kelebihan masing-masing dan mampu memberikan dinamika permainan yang berbeda bila dimainkan.

Masuknya Cristian Gonzales di putaran kedua babak grup membuat PSS memiliki penyerang yang dapat diandalkan di lini depan. Meski usianya sudah uzur, kemampuan El Loco dalam menerima bola dengan membelakangi gawang, menahannya lalu membaginya ke pemain lain sangat membantu skema serangan yang dibangun Seto. Pergerakan di kotak penalti dan kemampuan penyelesaian akhirnya bahkan tidak hilang di makan umur.

Masalah di Awal Kompetisi

Salah satu masalah yang muncul saat PSS melakukan bangun serangan pada pertandingan-pertandingan awal di liga antara lain adalah posisi pemain sayap yang sering menerima umpan vertikal dari fullback PSS dengan posisi badan membelakangi gawang lawan. Hal ini dipersulit dengan adanya penjagaan oleh fullback lawan saat menerima umpan.

Selain itu, lini belakang PSS sering melakukan umpan panjang melambung ke pemain sayap di sisi lapangan. Saat umpan ini berhasil diterima, pemain sayap PSS akan mengirimkan crossing ke kotak penalti lawan. Masalah yang sering muncul dari situasi ini adalah kurangnya jumlah pemain yang bersiap menyambut crossing di dalam kotak penalti. Tambun atau Wirahadi dan pemain sayap di sisi jauh yang masuk ke kotak penalti harus berhadapan dengan empat pemain bertahan lawan.

 

Gambar 2. Masalah bangun serangan PSS yang sering terjadi di pertandingan awal Liga 2. Umpan vertikal ke pemain sayap dengan kondisi yang kurang optimal, membelakangi gawang lawan dan djaga oleh lawan (kiri). Crossing oleh pemain sayap yang menerima umpan panjang melambung dari lini belakang sering tidak maksimal karena kurangnya jumlah pemain di kotak penalti lawan (kanan)

Selain itu, hal ini juga biasanya menyebabkan jauhnya jarak antara lini tengah dan lini depan PSS. Konsekuensinya, skema gegenpressing atau counter-pressing tidak bisa berjalan dengan baik. Jarak antar lini yang jauh juga mengakibatkan lawan menjadi nyaman untuk menguasai bola dan membangun serangan.

 

(Artikel ini merupakan bagian pertama dari analisis tim PSS Sleman musim 2018)

 

Komentar
Dani Rayoga

Football Addict | Physics Lovers | @DaniBRayoga

Comments are closed.