Opini

Apakah Piala Indonesia Penting bagi PSS?

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr

Beberapa waktu lalu, saya diminta seorang kawan untuk menemaninya melakukan sesi wawancara bersama beberapa pemain PSS untuk keperluan pembuatan artikel. Sayangnya, ia harus mencoret beberapa nama yang sudah masuk list dikarenakan pemain yang bersangkutan sudah pulang ke kampung masing-masing.

Alasan yang sama menjadi sebab kenapa perayaan juara PSS digelar mendadak dan terpaksa dilakukan di hari kerja. Hasrat untuk pulang kampung sesegera mungkin sudah tidak bisa dibendung lagi. Mereka tentu sudah tak sabar berbagi kebahagiaan dengan keluarga terdekat. Terlebih sejak akhir putaran kedua, praktis tak banyak waktu libur yang mereka dapat untuk balik kampung.

Sekilas dengan diadakannya perayaan juara pekan lalu, musim seakan sudah selesai dan ditutup dengan manis. Tugas naik kasta sudah ditunaikan, piala Liga 2 bahkan sudah didaratkan di Sleman. Dan perayaan juara menjadi titik kulminasi dari perjalanan sepanjang musim.

Namun begitu, musim ini nyatanya masih meninggalkan satu kewajiban yang mau tidak mau harus dituntaskan. Sebuah kompetisi yang awalnya terkatung-katung tidak jelas. Sebuah kompetisi yang lahir premature dan dibidani oleh orang-orang yang tidak memiliki capability yang cakap. Sebuah kompetisi yang terlanjur dimulai dan mau tidak mau harus dijalani bernama Kratingdaeng Piala Indonesia 2018.

Pengelolaan kompetisi ini sungguh amat buruk. Jika dicermati, kompetisi ini sejak persiapan sudah kacau, terlebih masalah jadwal. Sudah mafhum bagi kita semua jika PSSI adalah pembuat jadwal yang buruk. Sangat-sangat buruk.

Terakhir kali PSS bermain di Piala Indonesia adalah bulan Juli lalu. Dan sekarang sudah bulan Desember. Dari update terakhir, PSS mendapat jatah bermain di babak 64 besar pada tanggal 21 Desember. Artinya, ada selang sekitar 5 bulan dari laga terakhir melawan PSD Demak. Sedemikian buruknya pengelolaan kompetisi ini hingga rentang antarlaga bisa mencapai 150 hari!

Masih pentingkah Piala Indonesia untuk PSS?

β€œKami tetap melakukan persiapan matang karena kami ingin meraih sukses di Piala Indonesia. Hanya, kami memang tidak terbebani karena target adalah kompetisi yaitu promosi ke Liga 1.”

Begitulah kira-kira penyataan manajer PSS, Sismantoro, pada bulan Februari lalu ketika ditanya target PSS di Piala Indonesia. Secara tersirat beliau tidak membebani target apapun di kompetisi ini. Fokus sejak awal adalah lolos Liga 1, yang sekarang sudah menjadi kenyataan.

Jika target utama sudah terpenuhi, apakah PSS perlu menseriusi keikutsertaan mereka di Piala Indonesia?

Jawaban atas pertanyaan di atas tidak semudah menentukan perlu atau tidak perlu. Tidak sesederhana itu. Setiap pilihan selalu akan diikuti oleh konsekuensi masing-masing.

Jika PSS perlu serius di Piala Indonesia misalnya, hal ini akan menjadi kesempatan tim pelatih untuk menguji skuatnya seraya menjaring pemain yang akan digunakan di Liga 1 musim depan. Seperti yang diketahui, format Piala Indonesia kali ini adalah sistem gugur. Artinya, jika PSS bisa terus melaju dari tiap babaknya, maka lawan yang akan dihadapi levelnya akan semakin naik karena mau tidak mau pasti akan bertemu dengan tim dari Liga 1 musim ini. Dengan begitu, akan terlihat mana pemain yang bisa bersaing dan mana yang tidak.

Selain menjaga gengsi sebagai juara Liga 2, bertanding melawan klub Liga 1 menjadi semacam adaptasi awal untuk musim depan. Mulai dari pemain yang dihadapi, stadion, atmosfer pertandingan, dan lain sebagainya. Adaptasi seperti ini akan menjadi penting mengingat sudah cukup lama PSS tidak menghadapi lawan dari level kompetisi tertinggi.

Walau begitu, jika pilihan untuk serius di Piala Indonesia sudah dicanangkan, pastinya akan ada pula sisi negatif dari pilihan ini. Salah satunya tentu menyangkut fitness pemain.

Dengan intensitas laga yang padat di Liga 2 serta memakan waktu hampir 8 bulan (termasuk persiapan), tentunya kebugaran fisik pemain sudah terkuras habis. Inilah yang menjadi faktor banyak pemain cedera di tengah Liga 2 lalu.

Jika manajemen dan pelatih berniat serius di Piala Indonesia, tentunya mereka harus menyusun ulang program latihan. Karena jika tidak, fitness pemain yang menurun hanya akan membuatΒ  mereka rentan cedera. Di mana hal ini tentu akan mengganggu persiapan musim depan apabila pemain yang bersangkutan kembali dipercaya memperkuat PSS untuk Liga 1.

Jarak antarlaga yang terlalu lama juga menjadi kendala tersendiri. Jadwal terdekat PSS adalah tanggal 21 Desember. Jika berhasil lolos ke babak 32 besar, jadwalnya masih belum kelihatan. Dengan kondisi seperti itu, para pemain tentu tidak bisa dikumpulkan dalam waktu lama seperti layaknya kompetisi di mana semua sudah ada jadwal dan program latihannya.

Maka tidak salah jika beberapa wartawan olahraga nasional menyebut Piala Indonesia adalah kompetisi tarkam tingkat nasional. Karena pemain hanya dikumpulkan beberapa hari jelang laga dan kembali dipulangkan setelah laga usai. Persis seperti kondisi sepakbola antarkampung.

Jadi, PSS masih perlu serius di Piala Indonesia atau tidak?

Komentar
Ardi Azmi

Sleman Fans

Comments are closed.