Opini

Campur Aduk Mendukung PS Sleman

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr

Terdapat istilah cinta terkadang tidak berbalas. Mungkin perasaan itu tepat dirasakan oleh pecinta PSS saat ini. Deg-deg-ser mendukung tim kebanggaan yang untuk pertama kalinya berlaga di kompetisi tertinggi Liga Indonesia setelah belasan tahun.

Ekspektasi tinggi paska menjuarai Liga 2 masih terasa di awal persiapan pembentukan tim menyambut Liga 1. Bagaimana tidak, PSS mendatangkan pemain-pemain kaliber bintang di Liga 2 musim lalu. Dengan kelas (maaf) hanya Liga 2 saja, PSS mendatangkan pemain-pemain kaliber atas.

Harapannya, untuk Liga 1, manajemen akan mendatangkan pemain yang lebih mentereng. Namun realitanya jauh panggang dari api. Boro-boro merekrut pemain bintang, pemain yang berjasa mengantar PSS promosi saja dilepas.

Manajer yang berjasa mendatangkan pemain-pemain bintang ke Sleman juga dilepas. Sebagai gantinya, pemain-pemain dari sebagian tim eks-Liga 2 musim lalu yang direkrut. Mayoritas pendukung satu komando mengungkapkan kekecewaannya. PT menjadi sasaran.

Sama halnya, Saya mungkin mewakili sebagian pendukung PSS saat itu. Hadir secara langsung mendukung PSS berlaga pada pertandingan perdana Liga 1 di stadion Maguwoharjo melawan Arema. Arema Bro! Yakin bisa menang?

Rasa pesimis mengiringi rasa penasaran untuk menyaksikan PSS berlaga untuk pertama kali di liga tertinggi negeri ini. Pertandingan dimulai, dan gol cepat dicetak PSS melalui sepakan legiun asing yang sempat diragukan juga di awal musim, Brian Ferreira. Woow! Singkat cerita, PSS unggul 3-1 di akhir laga. Hasil yang lumayan. Ehh.. Luar biasa.

PSS bisa menang lawan tim bertabur bintang, sekaliber Arema FC. Bagaimana mungkin kita membayangkan lini depan PSS mampu mengobrak-abrik pertahanan Arema yang digalang Hamka Hamzah dan Arthur Cunha. Seketika itupun histeria pecah dan harapan pendukung PSS meninggi.

Arema saja bisa dikalahkan, berarti tim lain juga bisa dikalahkan. Harapan semakin meninggi, saat PSS berhasil menahan Persipura di kandang lawan. Wooow! Label tim Kuda Hitam seketika melekat pada tim PSS. De-javu posisi empat di musim 2003/2004 membasahi ingatan.

Kedongkolan sebagian besar pendukung PSS sebenarnya diarahkan ke PT PSS yang (dianggap) kurang royal membelanjakan uangnya pada bursa transfer. Dari berbagai sumber dikatakan bahwa dana transfer PSS merupakan yang terkecil dibanding kontestan Liga 1 lainnya. Dongkol, emosi, dan penasaran, PT PSS seolah-olah tidak serius mempersiapkan tim.

Namun hebatnya, di bawah komando coach sekaligus legenda, Seto Nurdiyantoro, PSS mampu menyodok papan atas. Bahkan PSS hampir tidak pernah keluar dari sepuluh besar di putaran pertama ini. Salut pantas ditujukkan untuk jajaran pelatih dan pemain PSS.

Beberapa momen pertandingan berada di luar nalar, seperti kemenangan di kandang Madura United dan comeback spesial atas PSM Makassar. Ciri khas PSS adalah berani memperagakan permainan menyerang nan cantik, bahkan saat bermain tandang sekalipun.

Masih diingat bagaimana PSS mampu merepotkan Persija di kandang mereka di sepanjang laga. Meskipun kalah, pendukung sangat bangga pada waktu itu. Campur aduk hati pendukung PSS berpuncak pada inisiasi penggalangan dana oleh BCS.

Ada rumor, PT Putra Sleman Sembada tidak memberikan bonus yang semestinya menjadi hak pemain. Entah benar atau tidak rumor itu, informasi tersebut semakin membuat penasaran pendukung PSS terhadap badan usaha yang menaungi PS Sleman itu.

“Kami sudah mendukung, mempertaruhkan harta dan energi, tapi kok PT nya seperti itu!” Mungkin itu ungkapan hati Saya mewakili sebagian besar pendukung PSS.

Sebenarnya mendukung sebuah tim sepakbola, bagi saya bagaikan kita mencintai pujaan hati namun tidak berbalas. Kita rela mempertaruhkan energi di setiap hari untuk memantau perkembangan tim tersebut. Melampiaskan emosi dalam berbagai bentuk ekspresi. Mulai dari menuliskan kritikan di kolom komentar pada media sosial resmi klub, sampai berteriak lantang ―dan mencaci maki― di stadion.

Namun, di sisi lain prestasi tim bertolak belakang. Sangat membanggakan! Bertengger di papan atas untuk tim yang baru pertama kali promosi dan bermodalkan pemain seadanya. Entah apakah saya harus bangga atau sedih.

Akan tetapi di sinilah istimewanya Sleman Fans. Kami tidak gentar mendukung PSS bagaimanapun kondisinya. Kita sudah terbiasa mendukung PSS dalam berbagai momen buruk. Bertahun-tahun gagal promosi dengan cara menyakitkan, toh kita tetap setia.

Bahkan kita pernah berada pada titik terendah saat kejadian Sepak Bola Gajah. Seluruh mata di negeri ini mengecam waktu itu. Kita kecewa, namun kita mampu bangkit bersama. Sampai saat ini, jujur saya masih kecewa dengan sepak terjang PT PSS. Bahkan, kabar terbaru dikatakan CEO PS Sleman mundur dari jabatannya. Sebenarnya ada apa dengan tim ini?

Namun, kekecewaan tidak akan pernah menghalangi saya untuk terus mencintai tim ini. Suara lantangku akan selalu ada untuk PSS. Bahwa saya sudah terlanjur jatuh cinta pada tim ini. Salam dari saya, satu orang dari ribuan Sleman Fans di negeri ini.

Komentar

Comments are closed.