Cerita

Flare dan Hal-Hal yang Sebaiknya Anda Tahu

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr

Regulasi layaknya sebuah koin, yang memiliki 2 sisi. Dalam sebuah regulasi, sisi tersebut bisa kita lihat sebagai pro dan kontra. Regulasi terkait Flare, Smoke Bomb, dan Kembang Api menjadi bahasan menarik di khalayak pecinta sepakbola sleman. Ada 2 sisi, pro dan kontra, dengan alasannya masing-masing. Tulisan ini dibuat sebagai penengah antara keduanya, lebih khusus dalam bidang kesehatan.

Pyrotechnic

Menurut Wikipedia, Flare atau suar adalah suatu bentuk pyrotechnic yang menghasilkan cahaya yang sangat terang atau panas tinggi tanpa menghasilkan ledakan. Suar digunakan untuk memberi tanda, penerangan dan alat pertahanan militer . Flare juga digunakan dalam dunia olahraga, terutama sepakbola, sebagai media untuk mendukung tim kebanggaan atau hiburan di dalam stadion. Selain cahaya dan panas, flare juga akan menghasilkan asap. Smoke Bomb adalah suatu benda (yang bisa dibuat sendiri), yang dari proses pembakarannya akan menghasilkan asap tebal dan pekat.

Menurut FIFA Flare, smoke bomb dan  fireworks masuk dalam kategori pyrotechnic, mereka tidak melarang secara langsung penggunaan benda-benda ini. Regulasi terkait pyrotechnic diserahkan kepada federasi di tiap negara. Saya berikan contoh dari federasi sepakbola (yang katanya) terbaik di dunia, Inggris.  Dalam sebuah polling  yang diambil dari para penggemar klub Liga Premier Inggris, didapatkan 87% dari  1,635 orang menegaskan bahwa pyrotechnic berbahaya dalam pertandingan sepakbola, baik dari sisi kesehatan maupun keamanan.

Di Inggris, kepemilikan Flare, Kembang Api, dan Smokebomb tidak dilarang asalkan tidak dibawa ke tempat umum. Jika anda kedapatan membawa ketiganya ke stadion atau pertandingan sepakbola, anda akan dikenakan kurungan sampai dengan 3 bulan penjara, larangan menghadiri pertandingan sepakbola selama 3 tahun dan larangan melihat timnas Inggris bermain di luar negri. (The Sporting Events (Control of Alcohol etc.) Act 1985.

Pihak Premier League dalam rilis resmi mereka “They (Pyrotechnic) contains chemicals and burn at temperature 160°C, the melting point of steel. They are dangerous for those with Asthma or breathing difficulties and can cause panic in a tightly packed crowd. They are not designed for use in confined spaces and it is illegal to enter a football stadium with one and set it off”.

Secara sederhana dapat diartikan jika Pyrotechnic terbakar dalam suhu tinggi, menghasilkan asap yang pekat, yang buruk untuk kesehatan.

Pyrotechnic  dan kesehatan

Tiada asap jika tidak ada api. Suatu pepatah lama yang sering kita dengarkan. Flare menghasilkan Api dan Asap, sedangkan smoke bomb menghasilkan asap yang sangat pekat.  Secara kimia, pembakaran adalah suatu rentetan reaksi kimia antara suatu bahan dengan oksidan, disertai dengan produksi panas dan cahaya. Dibutuhkan oksigen (O2) dalam proses pembakaran, dan menghasilkan berbagai gas buang (yang kita lihat sebagai asap). Gas yang dihasilkan pun berbeda-beda, bisa Karbondioksida (CO2) jika pembakarannya sempurna, dan Karbonmonoksida (CO) jika pembakarannya tidak sempurna.

Lalu, apakah ada hubungan pembakaran Pyrotechnic  dengan kesehatan? Tentu saja ada, dan itu nyata. Kita memang tidak tahu, apa saja komponen di dalam Flare atau smoke bomb. Namun, yang pasti akan terbentuk gas CO2, CO, atau gas lainnya dan “mengambil” O2 disekitarnya. Baik CO2 maupun CO sangatlah toksik (beracun) untuk manusia. Yang lebih berbahaya jika dinyalakan di tempat yang sempit, tertutup, dan banyak orang seperti di stadion sepakbola.

Karbonmonoksida (CO) adalah gas yag tidak berbau, tidak berasa, tidak berwarna. Gas ini adalah hasil dari pembakaran yang tidak sempurna. CO berdampak buruk bagi kesehatan, bahkan jika terpapar dalam jangka waktu yang lama bisa menyebabkan kematian. Bagaimanakah prosesnya?

Secara normal, kita akan menghirup oksigen (O2), dan akan terjadi pertukaran gas O2 dan CO2 di paru-paru. Oksigen akan diikat di dalam darah oleh Hemoglobin membentuk ikatan lemah Oksihemoglobin (HbO2). Ikatan ini akan dipompa oleh jantung ke seluruh tubuh melalui pembuluh darah, dan akan dilepaskan ke jaringan-jaringan perifer. Secara sederhana, begitulah cara kerja Sistem Kardiovaskuler kita.

Ketika kita menghirup gas CO (hasil dari pembakaran Flare atau Smoke bomb), gas ini akan masuk ke dalam paru-paru dan akan terjadi pertukaran gas. Gas CO akan masuk ke dalam pembuluh darah, berikatan kuat dengan Hemoglobin membentuk Karboksihemoglobin (HbCO). Kekuatan ikatan Hb denga CO ini 240x lebih kuat daripada HbO2, hal ini akan membuat O2 tidak bisa berikatan dengan Hb sehingga tidak ada oksigen yang diedarkan ke seluruh tubuh. Hal ini akan menyebabkan suatu keadaan yang dinamakan hipoksia, atau kekurangan oksigen di dalam tubuh.

Ketika tubuh kekurangan oksigen, akan mulai muncul gejala seperti pusing, lemas, mual, muntah, kelelahan, kebingungan. Jika kekurangan oksigen terjadi dalam waktu lama, kematian tidak akan terhindarkan.

Proses keracunan Karbondioksida (CO2) tidak terlalu berbeda dengan CO, walaupun tidak separah keracunan gas CO. Ketika konsentrasi gas CO2 di udara lebih tinggi dari Oksigen, tubuh tidak bisa mendapatkan asupan oksigen dengan maksimal. Akan terjadi kekurangan oksigen di dalam tubuh dan akan muncul gejala pusing, lemas, mual, dan muntah.

Bagi penderita Asma, atau penyakit paru obstruksi menahun, kehadiran asap yang pekat akan menimbulkan eksaserbasi (kekambuhan) penyakit mereka. Panas tinggi yang dihasilkan oleh pembakaran flare bisa menyebabkan luka bakar jika terkena bagian tubuh yang tidak terlindungi.

Regulasi

Di era ketika PT Liga Indonesia menjadi operator liga, pyrotechnic diperbolehkan untuk dinyalakan ketika peluit akhir perandingan berbunyi. Lalu, di era PT. GTS, pyrotechnic tidak diperbolehkan dinyalakan sampai satu jam setelah pertandingan berakhir. Larangan tersebut dibayangi dengan sanksi berat; yang berupa denda sampai laga usiran.

Sanksi lebih tegas sekarang diberlakukan oleh PT. Liga Indonesia Baru. Klub yang suporternya kedapatan membakar flare ketika pertandingan atau setelah pertandingan, akan langsung terkena pidana berupa denda.

Di sini penulis tidak mendukung larangan penggunaan pyrotechnic, karena penulis juga menggapnya sebagai hiburan dalam pertandingan sepakbola. Hal yang menjadi daya Tarik tersendiri bagi orang-orang untuk datang ke stadion. Penulis lebih concern terkait dengan masalah kesehatan.

Dalam dunia ultras, dikenal sebuah ungkapan “You will never understand if you’re not one of us” Dalam dunia kesehatan, dikenal juga istilah “kamu akan menyesal setelah kamu merasakannya”. Ada beberapa cara yang bisa digunakan untuk meminimalkan bahaya dari pyrotechnic, diantaranya adalah:

  • Menggunakan masker/alat pelindung muka saat ada flare dan smoke bomb dinyalakan,
  • Nyalakan saat pertandingan selesai, ketika pemain sudah tidak berada di tengah lapangan. (tergantung regulasi kompetisi),
  • Jika memiliki riwayat asma atau penyakit pernapasan segera menjauh dari asap,
  • Jika merasa pusing atau mual segera menjauh dari asap dan cari tempat yang lapang bebas asap,
  • Gunakan sarung tangan saat anda menyalakan flare,
  • Jika anda membawa anak kecil jauhkan dari asap flare atau smoke bomb.

Sebagai manusia dewasa, kita mempunyai hak untuk mengambil suatu keputusan. Kita juga bisa memilah mana yang baik dan buruk. Regulasi ataupun apapun, tidak ada yang lebih penting dari keselamatan atau kesehatan Anda.

Komentar
Ahmad Indra Pranata

Dokter muda yang mencintai sepakbola, bisa kamu hubungi di akun Twitter @mamas_ahmad

Comments are closed.