Cerita

Forza PSS: Catatan Away ke Bali

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr

Alarm gawai berdenting tepat pada pukul 5 pagi, saya bersiap untuk berangkat menuju stasiun. Tidur tidak nyenyak sudah menjadi ritual ketika PSS akan segera berlaga, bergegas karena kereta api yang saya tumpangi akan berangkat menuju ujung timur Pulau Jawa.

Beberapa lagu penyemangat dari Hey Pujangga hingga Flogging Molly menemani langkah saya memasuki kereta api. Klakson lokomotif berbunyi, kereta api berjalan perlahan diiringi dengan antusiasme penumpang dalam gerbong, dimana mayoritas dipenuhi oleh Sleman Fans.

Bercengkerama tentang bagaimana PSS mengarungi liga 1 setelah menjadi promosi dibumbui dengan canda dan tawa. Saling bertukar sapa hingga bertukar makanan tak luput dalam kebersamaan Sleman Fans. PSS, PSS, dan PSS menjadi topik pembicaraan hangat untuk sekedar membunuh waktu agar segera sampai tujuan.

Tengah hari yang terik, kereta api bersandar lama di Stasiun Gubeng. Waktu yang cukup untuk meluruskan tulang punggung yang sudah menekuk 90 derajat selama perjalanan.

Saya berterima kasih banyak atas makanan & minuman dari Bonek yang sudah diberikan kepada kami Sleman Fans. Matahari mulai terbenam, tidak dipungkiri rasa lelah mulai menyetubuhi saya dan teman-teman.

Pukul 9 malam, kereta api berhenti di Stasiun Banyuwangi Baru, mengutip lirik lagu Neckemic yaitu raut rasa lelah tergambar di wajah kita, tapi kita tak berhenti di sini, kobarkan api semangat yang tak akan padam bersama kita kan terus berjuang. Lirik tersebut mempunyai makna dalam bagi saya di perjalanan ini.

Perjalanan belum usai, dengan bantuan Sleman Fans Banyuwangi, kami mendapatkan bis yang langsung menuju ke Pulau Bali dari Pelabuhan Ketapang. Antusiasme mulai memuncak ketika kapal sudah menyeberang ke Pulau Bali, dilanjutkan perjalanan darat menuju Terminal Ubung.

Semua terlelap dalam mimpi masing-masing, PSS menang menghadapi BUFC menjadi mimpi saya ketika itu. Semua berpencar setelah sampai Terminal Ubung, saya bersama kawan-kawan langsung menuju ke tempat penginapan yang berada di Legian.

Masih ada waktu satu hari sebelum pertandingan berlangsung, kami manfaatkan untuk menikmati keindahan Pulau Bali dengan menyisir Pantai Pandawa hingga kembali ke Pantai Kuta.

Malam tiba, kami berkumpul di sebuah klub malam di mana terdapat acara dari Sleman Fans Bali. Sungguh malam yang indah, Sleman Fans berkumpul dan bercerita tentang gairah mereka terhadap tim kecintaan kita semua.  Nyanyian dan sorakan bergema, tak sabar ingin segera rasanya menuju Stadion Kapten I Wayan Dipta.

Pertandingan ini merupakan pertandingan kedua saya di Bali, pertama kali saya menginjakkan kaki di Stadion Kapten I Wayan Dipta pada tahun 2016 ketika PSS melawan Persib Bandung di ajang Bali Island Cup.

Gairah ini masih sama seperti 3 tahun lalu, doa-doa kami masih sama setiap laga yaitu meraih poin tiga, harapan kami masih sama yaitu bertahan di liga 1, mimpi kami masih sama untuk lima tahun ke depan yaitu juara liga 1.

Pertandingan berjalan menarik di awal babak hingga BUFC mampu mencetak gol terlebih dahulu. Kami tertegun lesu, tak apa harapan meraih poin masih ada! Tak berselang lama, punggawa kami melakukan gol bunuh diri. Kecewa, namun selama peluit akhir belum dibunyikan, jangan putus asa.

Sampai akhirnya, PSS mendapatkan tendangan penalti. Semua bersorak lebih keras dan bergembira, Yevhen mengeksekusi tendangan penalti dengan baik. Skor sementara 2-1, kami masih percaya, tidak ada yang tidak mungkin. Tribun kami bergema lebih keras dan lebih keras.

Lagu-lagu dukungan yang kami lantunkan layaknya sebuah doa yang kami rapal ketika beribadah di tempat peribadatan, berharap pemain dapat menyerap doa-doa kami dari tribun. Peluit akhir dibunyikan dengan skor akhir 3-1 untuk keunggulan BUFC. Rasa kecewa itu ada namun kami tetap harus menatap laga kedepan.

Persaudaraan kami dengan BUFC fans tetap terjaga, bukan berarti semua tim yang mengalahkan PSS akan menjadi musuh. Sejatinya musuh utama kita hanya rasa lelah, bagaimanapun rasa lelah dapat kita kalahkan dengan kebersamaan dan kekeluargaan ketika berada di tribun.

Mencuri poin memang merupakan prioritas kita, namun ada prioritas yang lebih penting dari itu, prioritas yang lebih utama ialah menemani PSS setiap berlaga. Selagi waktu dan tenaga masih sanggup untuk menemani PSS, temanilah kawan. Yakinlah jika ada kemauan, pasti ada jalan.

Berjanji untuk sebuah kehormatan, menang kami bangga, kalah kami setia. Menemani PSS dimanapun berlaga dan merapal doa dengan senjata utama kita melalui lagu-lagu dukungan yang dilantunkan dengan keras hingga memekakkan telinga lawan, demi mimpi menjadi sang juara liga tertinggi Indonesia.

Percayalah suatu saat kita kan mengangkat piala Liga 1 bersama! Forza PSS!!!

Komentar

Comments are closed.