Cerita

Ichsan Pratama: “Saya Ingin Punya Sejarah Di Sini“

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr

“Sebenarnya saat pertama sebelum kami (PSPS Riau) berangkat pun, saya sudah punya rasa optimis main di Sleman. Mau tidak mau kami harus menang agar lolos,” Ichsan Pratama menceritakan laga antara PSPS Riau melawan PSS Sleman di Stadion Maguwoharjo pada 2017. Ketika itu ia yang masih membela tim asal Pekanbaru tersebut menjadi mimpi buruk bagi lini pertahanan Super Elja.

“Lihat atmosfer penonton di Youtube begitu rame. Ketika datang, kami main. Setengah main, (PSPS Riau) tertinggal 2-0. Sebenarnya pemain sudah merasa sepertinya kami tidak bisa menang ini. Tetapi kembali lagi, saya pribadi punya motivasi ingin menang. Kami kembalikan lagi percaya diri pemain dengan komunikasi segala macem. Mungkin Sleman lengah, terlena sudah menang 2-0. Mungkin mereka hilang fokus.”

Atmosfer yang saat itu ia rasakan membuat Ichsan kepincut. “Ketika main untuk PSPS RIau di sini, lihat atmosfer seperti itu. Saya merasa, saya kapan ditonton banyak orang, mendukung saya, nama saya dipanggil-panggil. Akhirnya setelah selesai liga, ada obrolan buat ke sini. Manajemen memberi pandangan target PSS Sleman, memberi bayangan.”

Obrolan tentang transfer diakhiri dengan pertanyaan Dewanto kepada Ichsan, “Kamu bagaimana?”

“Sebeneranya waktu itu tarik ulur. Saya gabung tim akhir-akhir. Waktu itu masih ada tawaran dari tim lain. Tetapi, (PSS) Sleman lewat Mas Dewo lebih meyakinkan,” ujar Ichsan membandingkan tawaran yang datang kepada dirinya. “Ini Sleman punya target, kamu di sini bakal prestasi,” lanjut Ichsan menirukan ungkapan Dewanto saat itu.

Ternyata asisten manajer yang akrab dipanggil Dewo itu mendekati Ichsan sudah sejak jauh-jauh hari. ”Di Pekanbaru main kita (PSS Sleman dan PSPS Riau), hasilnya satu sama. Sempet ketemu sama dia (Dewo). Kita ngobrol biasa. Saat di sini ketemu lagi. ‘udah tahun depan di sini aja’, katanya. Terakhir pas celebration game, Mas Dewo masih juga bilang ‘udah di Jogja aja.’”

Kemudian terlintas di pikiran Ichsan, “oh iya juga sih ya.” Lewat internet, ia cari pemain-pemain yang ketika itu sudah menjadi rekrutan PSS Sleman untuk mengarungi Liga 2 musim 2018. “Mungkin tahun ini (PSS) Sleman punya target. Banyak pemain-pemain muda, juga pemain-pemain mantan Liga 1,” ungkapnya. Saga transfer ditutup dengan ucapan Ichsan ke manajemen, “Iya bos.” Terbanglah pemain yang nantinya menjadi pemain terbaik Liga 2 itu ke Sleman.

“Saya senang juga dengan Jogja. Saya dulu punya cerita di Jogja. Dari zaman POMNas (Pekan Olahraga Mahasiswa Nasional), dulu DKI Jakarta juara di sini. Dari situ saya mulai, wah, Jogja enak. Suasananya, orang-orangnya ramah. Dari situ saya mulai searching di Jogja ada tim apa saja. Kalo tidak salah ada PSIM (Yogyakarta) dan (PSS) Sleman. Wah, sepertinya main di sini (Sleman) seru, banyak penonton.”

Mulai muncul pertanyaan dalam benak Ichsan: kapan bisa bermain sepak bola di Jogja?
“Liburan lagi ke Jogja. Sepertinya saya ingin tinggal di Jogja. Teman-teman saya yang tinggal di Jogja dulu pernah mendoakan saya saat acara ulang tahun. “Semoga nanti Ichsan bisa main di Jogja, di tim Jogja,” begitu kata mereka. Maka dari itu, ketika sekarang saya di sini, saya merasa ini berkat doa-doa mereka hingga sekarang saya benar-benar di Jogja.”

Selama perjalanan karirnya di Sleman, Ichsan menyebutkan pertandingan yang paling menegangkan. “Semifinal,” ujarnya. “Saat itu kepikiran terus, tidak nyenyak tidur. Wah, dua kali lipat itu bebannya. Mungkin (laga) sebelum-sebelumnya juga tegang, tetapi tidak setegang itu. Bagaimana caranya harus menang besok. Orang-orang benar-benar berharap kan. Apalagi di media sosial ramai semua, mau nonton, segala macem.”

“Tegangnya dua kali lipat, lebihlah. Kalau tidur, bisa tidur, tetapi tetap kepikiran. Pertandingan besok saya mau main gimana. Setelah dipastikan promosi itu beban yang banyak sekali seperti lepas semua, kayak badan udah enteng. Mau tidur sudah nyaman, sudah enteng. Saya lihat orang-orang di stadion senang juga.”

Ternyata saat Ichsan menjadi mimpi buruk PSS Sleman musim 2017, kesedihan Sleman Fans juga ia rasakan. “Jujur aja saat (PSPS) Pekanbaru ke sini (Maguwoharjo), melihat mereka nangis, saya sedih juga. Meskipun saya sebagai lawan, tetapi saya tahu penonton kecewa sekali. Eh, saat kemarin (setelah laga semifinal) saya lihat mereka nangis lagi, rasanya beda. Saya senang bisa buat orang banyak senang.”

Soal perbandingan laga final dan semifinal, pemain asal Bogor itu mengaku beban di semifinal lebih besar. “Kalau final, saya merasa nyaman. Bukannya kita tidak mau juara, tetapi ini target udah kita penuhin. Tetapi coach Seto, hati kecilnya ingin juara. Ya, sudah saya nikmatin aja, tetapi tetap punya tanggung jawab juga. Akhirnya, Alhamdulillah,” ungkapnya.

Ichsan naik terlebih dahulu dari pemain lain ke atas panggung seusai laga final setelah dinobatkan menjadi pemain terbaik Liga 2 musim 2018. “Dibilang senang, ya, senang. Dibilang tidak, ya, tidak juga. Saya pun tidak pernah terpikirkan dari pertama bermain di Sleman ingin jadi pemain terbaik. Saya hanya berpikir bagaimana caranya bisa kontribusi untuk tim, bisa membantu tim. Target saya di Sleman, bawa PSS Sleman ke Liga 1. Saya ingin punya sejarah di sini. Sudah itu saja,” ujar Ichsan.

“Sebelumnya sudah rame di media kandidat pemain terbaik, ada Irsyad (Maulana) dan El Loco (Gonzales). Sebelumnya pertandangan ada obrolan-obrolan tentang itu, entah bercanda atau apa saya tidak tahu. ‘Wah kandidat terberat jadi pemain terbaik,’ kata teman. Ah, saya tidak mau gelar pemain terbaik, nanti tahun depan pasti ditanya-tanya tentang timnas segala macem, saya nggak mau.”

“Eh pas selesai pertandingan, panpel nyariin saya. ‘Nomor dua yang mana, yang mana nomer dua tiga. Kamu nomor dua tiga, kan? Ichsan kan? Nanti kamu pemain terbaik. Saya merasa, waduh, kok, saya. ‘Iya kamu, kan, nomer dua tiga? Iya kamu berarti,’ kata panpelnya. Kok saya, kenapa bukan El Loco. Saya merasa El Loco yang lebih pas. Tapi penilaiannya kan tidak tahu.”

Tidak seluruh perasaannya dilingkupi kesenangan saat itu, ada juga was-was yang muncul dari hatinya. “Tidak senangnya karena ini saya punya gelar terbaik, berarti tahun depan harus ada tantangan baru yang lebih lagi. Ya, sudah tidak apa-apa, mungkin buat motivasi untuk saya juga,” tutur Ichsan saat ditemui di hotel tempat tim PSS Sleman menginap.

Kekhawatirannya tentang pertanyaan-pertanyaan soal kans di timnas menjadi kenyataan setelah menerima bola emas di Stadion Pakansari malam itu. “Siapa pemain yang tidak mau main di timnas? Saya juga mau. Tetapi saya tidak tahu rezeki saya. Kalau rezeki saya di timnas, tidak masalah. Saya mau di timnas, kok. Yang penting saya usaha dahulu,” Ichsan menanggapi.

(Wawancara dilakukan pada 7 Desember 2018 beberapa hari seusai laga final Liga 2)

Komentar
Andhika Gilang

Dapat dihubungi secara personal melalui akun @AndhikaGila_ng

Comments are closed.