Cerita

Jatuh Bangun Mengolah Bola Bersama Danilo Fernando

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr

Sleman Football berkesempatan melakukan wawancara dengan salah satu pemain asing yang sukses merengkuh gelar juara di beberapa klub berbeda di Indonesia. Dia adalah sosok Danilo Fernando Bueno de Almeida. Pria kelahiran Brasil yang moncer bersama Persik Kediri di medio 2000-an. Ia merupakan satu dari tiga trio legendaris Macan Putih bersama Ronald Fagundez dan Cristian Gonzales.

Kami menemui Danilo yang duduk di sofa paling ujung di lantai 2 sebuah kafe di kawasan Jalan Kaliurang. Berkaus biru dan mengenakan celana pendek nampaknya kami benar-benar dalam suasana yang tepat untuk memberinya sejumlah pertanyaan. Untuk memulainya, mari kembali ke masa-masa kejayaan di era Ligina.

Bagaimana awal mula Anda bisa berkarier di Indonesia?

Awalnya mulai tahun 2002 akhir, sekitar bulan November saya main di Liga 2 kasta Sao Paulo, ada seorang agen, yang ternyata temannya Jacksen F. Tiago yang terakhir main di Petrokimia Gresik dan manajemen meminta satu gelandang dari Brasil.

Nah agen tersebut menonton pertandingan saya, di situ saya main cukup bagus dan cetak dua gol. Lalu dia datang menawari saya, kamu ada coba main di luar negeri?

Di mana jawab saya. Lalu dia kata Indonesia. Wah sempat kaget juga saya, kalau di Amerika Latin kan jarang klub klub Asia mungkin hanya Jepang dan Korea (Selatan). Tapi cita-cita saya memang main di luar negeri, sempat tahun 1999 main di Belanda satu musim jadi sudah merasakan main di luar negeri  terus ada kesempatan ini yaudah nggak papa coba aja.

Sampai di sini Petrokimia usai juara Ligina, saya seleksi selama satu bulan tapi tidak ada kepastian, padahal kompetisi sudah akan bergulir. Jadi saya nunggu sampai detik-detik akhir keputusan dari pelatih. Sempat bingung juga kenapa lama sekali. Akhirnya saya dikontrak setelah 2-3 pertandingan berjalan. Jadi saya ikut kompetisi awal tahun 2003.

Bagaimana perjalanan di musim pertama Anda?

Waktu itu ada cerita lucu waktu di Petrokimia, mereka habis juara, saya ikut kompetisi pertama kali tapi langsung degradasi. Loh habis juara kok degradasi tapi itulah sepakbola seninya di situ. Akhirnya pindah ke Persebaya ternyata meningkat lagi dan berprestasi juga. Akhirnya kita juara. Boleh dibilang Petro itu sebagai batu loncatan saya untuk semakin berprestasi di sini (Indonesia). Timnya degradasi tapi saya sendiri waktu itu kalau tidak salah cetak 19 gol –data di Wikipedia mencatat ia mencetak 16 gol dari 34 pertandingan bersama Petrokimia (red.).

Klub manakah yang paling berkesan bagi Anda?

Paling berkesan bagi saya pas zaman di Persebaya Surabaya tahun 2004 karena di situ saya sempat jatuh sakit, koma hampir seminggu di ICU, dokter sudah angkat tangan tidak punya harapan lagi. Ada satu harapan, ada obat dari Jerman satu kapsul, dia panggil manajemen dan keluargaku dari Brasil.

Itu satu-satunya jalan, kalau bisa bangkit berarti dengan obat ini, kalau obat ini tidak ada reaksi kita nggak bisa apa-apalagi. Saya berterimakasih kepada manajemen waktu itu telah mendukung dan mensupport kebutuhan saya waktu itu, difasilitasi semua dan obat itu ditarik ke sini. Yang saya heran juga pas ulang tahun saya itu pas keluar dari koma.

Bagaimana kronologinya Anda bisa tak sadarkan diri?

Waktu itu habis tur Papua lalu kembali ke apartemen sempat masuk UGD malamnya, pagi dikasih obat jalan, terus paginya masuk rumah sakit lagi muntah-muntah lalu tidak sadar. Setelah dicek oleh dokter, MRI dan tes laboratorium lainnya di otak sebelah kiri ada pendarahan jadi sebuah virus lalu diambil separuh otak saya  itu, di situ yang membuat koma.

Apa kata dokter saat itu? Bagaiaman cara Anda untuk bangkit dan recovery?

Kata dokter waktu itu ditanya ada mimpi atau apa. Tapi saya cuman ingat pada saat itu naik ke atas ada pintu besar itu ada cahaya, saya begitu mau masuk ada suara dari dalam “belum waktunya, kamu kembali” pada saat kembali itu saya sadar dari koma. Tapi sebelum-sebelumnya saya lupa semua. Dan dokter memang bilang jangan kaget kalau dia tidak seperti awal. Ya memang pada saat bangun itu Ingatan saya 50% hilang, pelan-pelan baru pengobatan hari demi hari.

Dokter bilang kemungkinan dia tidak bisa main bola lagi, tapi waktu itu saya masih usia 24 daya berjuang masih tinggi, fisik masih kuat jadi saya tidak menyerah. Terus dibantu oleh Teco (Stefano Cugurra—kini Bali United, red.) pelatih fisik waktu itu jadi kita tinggal di apartemen yang sama, setiap pagi dan sore latihan renang supaya cepat kembali performa serta fisik tetap prima meskipun belum boleh turun ke lapangan.

Bagi saya ini kenangan paling indah karena saya dari koma bisa bangun, saya bisa recover, saya bisa kembali merumput lagi, saya bisa membawa Persebaya juara dan mencetak salah satu gol dalam laga akhir melawan Persija. Boleh dibilang di situ saya terlahir kembali, bagi saya ini fase baru dalam hidup saya.

Begitulah sekelumit kisah perjalanan Danilo Fernando sebagai pemain sepak bola. Akan tetapi, kita semua tahu bahwa perjalannya bersama si kulit bulat tidak sampai di situ saja. Layaknya mayoritas pemain sepak bola di dunia, ia juga merintis karier sebagai juru racik taktik.

 

(Artikel ini merupakan bagian dari wawancara bersama Danilo Fernando, pada bagian pertama ia bercerita tentang masa-masa ketika dirinya masih menjadi pemain sepak bola profesional)

Komentar
Awaludin

Masih menimba ilmu di UIN Sunan Kalijaga dan masih akan terus mencintai PSS. Bisa dihubungi via akun Twitter @al_arif14

Comments are closed.