Berita

Komitmen PT PSS Terhadap Pembinaan Usia Dini

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr

Brigata Curva Sud sebagai kelompok pendukung setia PS Sleman, tidak pernah berhenti dalam menyalakan api dukungannya.

Di tengah situasi pandemi virus Corona, mereka tidak terkurung dalam senyap dan terus mencari jalan keluar agar klub kebanggannya bisa mencapai kondisi yang ideal.

Bak janji setia, BCS tetap mengawal delapan tuntutan kepada manajemen klub dan juga PT Putra Sleman Sembada (PT PSS) yang belum menemui kepastian.

Pada awal musim ini, usaha untuk menyuarakan lebih lantang telah dilakukan. Salah satunya ialah tindakan yang cukup agresif berupa pemboikotan semua laga PS Sleman di Liga 1.

Pada pekan awal bulan Juni lalu BCS berinisiatif untuk melakukan forum diskusi secara virtual. Acara tersebut diikuiti oleh beberapa perwakilan dari mereka dan dihadiri beberapa petinggi perseroan itu. Mulai dari Hempri Suyatna, Guntur Cahyo Utomo, hingga Marco Gracia Paulo.

Menjawab tuntutan tersebut, Marco Gracio Paulo hadir dengan program kerja yang diberinya judul “Suaramu adalah Rohku”, yang artinya adalah bagaimana suara dari BCS merupakan roh yang menjiwai tubuh PT PSS itu sendiri.

Ia mengonfirmasi bahwa apa yang disuarakan oleh BCS merupakan hal yang penting bagi manajemen. Kedelapan tuntutan tersebut adalah sebuah hasil kerja keras pemikiran. Inisiatif dari suporter tribun selatan inilah yang membuktikan bahwa mereka betul-betul peduli pada tim kebanggaanya.

“Jangan sampai berhenti sebagai tuntutan, kemudian penilaiannya dari segi terpenuhi atau tidak. Namun, juga bagaimana dari tuntutan tersebut tumbuh menjadi program nyata, bahkan memiliki akibat bagi sepakbola di Sleman dan juga Indonesia,” ujarnya.

Program Pembinaan dan Akademi Usia Muda Menjadi Pondasi Awal Sebuah Klub

Program pembinaan usia dini menjadi salah satu bagian utama yang tidak terpisahkan dari klub profesional. Termasuk di dalamnya PT PSS yang berkomitmen penuh agar program ini dapat berjalan dengan semestinya.

Klub membutuhkan pembinaan usia dini tersebut bukan karena sekedar adanya syarat untuk mengikuti liga usia muda dengan tajuk Elite Pro Academy. Melainkan ingin menjadikan pembinaan usia dini sebagai dasar berfikir identitas sebuah klub.

Marco mengatakan, sepakbola bisa berkelanjutan apabila  pembinaan usia mudanya baik, eksesekunya ciamik, dan programnya terintegrasi dengan level senior di atasnya.

Ia juga meyakinkan bahwa, dirinya bersama Dejan Antonic, memililki passion dan komitmen untuk memberikan kesempatan bagi pemain binaan usia muda dari klub.

Sebelumnya, mereka berdua pernah bekerja sama di Pelita Bandung Raya dan menghasilkan sejumlah pemain senior di klub-klub sepakbola Indonesia. Bersama PSS, Dejan telah sepakat tentang bagaimana nantinya pembinaan usia muda dan tim senior dapat diintegrasikan dengan baik.

Guntur Cahyo Utomo yang ikut hadir pada diskusi tersebut, tentu senang dengan respon manajemen terkait pembinaan usia dini. Ia mengatakan di bawah manajemen sebelumnya, tetapi ia dan timnya lebih banyak bekerja sendiri untuk memenuhi kebutuhannya.

”Apakah ini sisi yang tidak bagus? Tentu iya, karena gaji kami memang dibayarkan manajemen, tapi sisanya kami usahakan sendiri. Saya cukup sepakat dengan yang disampaikan Pak Marco. Kita bisa menghidupi akademi ini sendiri asalkan kita dikelola dengan lebih nyaman,” ujarnya.

Beberapa waktu lalu, Guntur dan timnya sudah menjalankan program yang disusun. Ternyata program tersebut tidak jauh-jauh amat dengan paparan program kerja yang disampaikan oleh Marco.

Ia juga mengatakan apa telah dilakukannya sudah bisa menjadi dasar bila visi tersebut akan benar-benar diterapkan.

“Memang butuh pikiran dan tenaga ekstra untuk mematangkan konsepnya. Namun, setelah pandemi ini selesai, embrio akademi yang kita bayangkan bisa sedikit muncul,” tambahnya.

Pelatih muda yang menjabat sebagai Direktur Akademi PSS itu juga sepakat soal visi Marco yang ingin mengembang sisi bisnis dari Akademi pemain muda. Menurutnya sisi kemandirian finansial tersebut bisa diwujudkan asalkan bisa dikelola dengan baik.

Soal integrasi dengan tim level diatasnya juga sudah diterapkan. Para pemain muda saat itu diberikan materi latih tanding dengan pemain senior PSS. Walaupun, saat itu Elang Muda kalah tipis dengan skor 2-1 di lapangan YIS.

“Sinyal positif sudah diberikan dengan mengajak uji tanding dengan tim reserve ketika tidak bermain. Meskipun baru sekali pada jaman Coach Edu, tetapi saya pikir hal tersebut sinyal yang sangat baik,” pungkasnya di akhir sesi pertama forum virtual tersebut.

Komentar
Awaludin Al Arif

Masih menimba ilmu di UIN Sunan Kalijaga dan masih akan terus mencintai PSS. Bisa dihubungi via akun Twitter @al_arif14

Comments are closed.