Analisis

La Pausa: Seni Mengontrol Tempo Permainan

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr

Dalam sepakbola, tim yang dinyatakan memenangkan pertandingan adalah tim yang mampu mencetak gol lebih banyak dibandingkan lawannya. Untuk mencetak gol, pemain perlu untuk melepaskan tembakan ke gawang tim lawan.

Secara logika, tembakan yang memiliki peluang tertinggi untuk bisa menjadi gol adalah tembakan yang dilakukan dekat dengan gawang lawan.

Jika mengikuti alur berpikir di atas, maka tim yang mampu lebih banyak membawa bola sedekat mungkin dengan gawang lawan lalu melakukan tembakan akan memiliki peluang menang lebih besar. Hal itu masih logis.

Kemudian, apakah tim yang mampu lebih cepat membawa bola mendekati gawang lawan berarti bermain lebih bagus dibandingkan lawannya? Jawabannya ternyata belum tentu.

Xabi Alonso pernah mengatakan bahwa bisa mencapai kotak penalti lawan lebih cepat tidak berarti bermain lebih bagus. Bermain lebih bagus adalah sampai ke kotak penalti lawan dengan kondisi yang lebih menguntungkan.

Lebih menguntungkan yang ia maksud bisa berarti dengan lebih cepat sampai ke kotak penalti lawan atau justru malah menunda mengalirkan bola ke kotak penalti lawan.

Terdapat istilah menarik dalam sepak bola untuk menggambarkan tentang kecepatan dalam melakukan aksi, yaitu La Pausa. Istilah ini awalnya berkaitan pada gaya bermain seorang playmaker klasik No. 10 yang bermain di belakang penyerang.

Pemain pada posisi ini umumnya harus memiliki kemampuan untuk merusak situasi pertandingan. Memperlambat permainan sepersekian detik untuk menunggu penyerang yang bergerak ke ruang di belakang lini pertahanan lawan berada dalam situasi yang ideal.

Salah satu pemain yang identik dengan aksi ini adalah playmaker dari Argentina, Ricardo Bochini. Atau yang lebih modern ada Juan Roman Riquelme.

Definisi la pausa pada sepakbola modern sudah berubah. Aksi ini sudah terlepas dari posisi pemain. Semua pemain di posisi manapun, dari kiper hingga penyerang harus bisa melakukannya.

Namun, menunda serangan untuk melepaskan umpan pada kawan yang bergerak agar berada pada situasi yang lebih menguntungkan masih menjadi bagian penting dalam aksi ini.

Secara umum, terdapat dua opsi dalam melakukan la pausa: menahan bola dan bergerak untuk “mengikat” lawan.

Menahan bola dan tidak melakukan apa-apa, selain menunggu pemain lain berada dalam situasi yang lebih menguntungkan biasanya juga menarik lawan untuk mendekat.

Aksi itu biasanya akan membuka ruang kosong pada lini belakang lawan dan memberikan keuntungan saat melepaskan umpan pada pemain lain.

Pada situasi yang lain, pembawa bola mungkin harus sedikit bergerak, menunda untuk langsung melepaskan umpan pada rekannya yang sudah bergerak guna memancing lawan mendekatinya.

Hal tersebut dilakukan dengan tujuan yang sama, membuka ruang kosong di pertahanan lawan untuk menciptakan situasi yang lebih menguntungkan bagi penerima umpan.

Pembawa bola tentu harus memiliki teknik umpan yang memadai. Saat pemain lain sudah berada pada posisi yang menguntungkan, pembawa bola harus mampu melepaskan umpan dengan presisi dan kecepatan yang tepat.

Jika umpan terlalu pelan, lawan akan memiliki kesempatan untuk menutup jalur umpan dan melakukan intersep. Jika umpan terlalu cepat, rekannya mungkin tidak  bisa menerima umpan tersebut karena tidak lagi berada pada waktu dan posisi yang tepat.

Akan tetapi, pemain yang mampu mengendalikan tempo permainan atau la pausa ini juga bergantung pada pemain lainnya.

Para pemain yang terlibat, pembawa bola dan penerima umpan, harus mampu melihat situasi pertandingan dalam kacamata yang sama dan melakukan aksi secara terkoordinasi untuk memanfaatkan ruang yang ada pada pertahanan lawan.

Jadi, pergerakan taktikal secara kelompok sangat penting untuk memaksimalkan la pausa tersebut. Jika pemain lain tidak mampu melihat situasi sama dengan pembawa bola, tidak mampu menentukan kapan dan ke mana harus bergerak, serangan yang akan dibangun akan terhambat.

Akibat dari ketidaksinkronan secara tim tersebut, pembawa bola juga akan memiliki resiko yang lebih besar untuk kehilangan bola.

Dalam dua musim terakhir, pemain PS Sleman juga mampu melakukan la pausa dengan cukup baik. Menunda sepersekian detik, untuk menciptakan ruang dan memanfaatkan waktu untuk memilih umpan selanjutnya.

Salah satunya adalah dalam proses gol Super Elja ke gawang Persita pada babak 8 besar Liga 2 2018. Dave Mustaine yang mendapatkan bola di lini tengah, melakukan la pausa.

Menahan bola beberapa detik menunggu Ichsan Pratama dan Rifal Lastori berada pada situasi yang ideal sebelum memberikan umpan kepada mereka.

Gambar 1. Dave Mustaine melakukan la pausa. Menunggu Ichsan dan Rifal berada pada posisi yang lebih menguntungkan

Contoh lainnya terjadi pada proses gol Rangga Muslim saat menjamu Persipura pada pertandingan Shopee Liga 1 2019. Brian Ferreira yang menerima bola di ruang antar lini tidak langsung melepas umpan ke Rangga atau pemain lain yang berdiri bebas.

Pemain asal Argentina tersebut memilih bergerak perlahan mendatangi bek Persipura, Andre Ribeiro. Saat Ribeiro sudah “terikat” dan Rangga berada pada posisi yang lebih menguntungkan, Brian segera melepaskan umpan secara presisi.

Gambar 2. Brian Ferreira melakukan la pausa dengan mengikat pemain lawan. Melepaskan umpan setelah Rangga berada pada posisi yang menguntungkan untuk memanfaatkan ruang yang tercipta

Saat sedang menyaksikan pertandingan, kadang kita terlalu terbawa suasana sehingga sering menuntut pemain untuk mengalirkan bola ke pertahanan lawan secepat mungkin. Berteriak jengkel saat ada pemain yang tidak sesegera mungkin melepaskan umpan ke pemain yang lain.

Hal tersebut adalah sesuatu yang wajar. Namun, sesekali mungkin kita juga harus mencoba melihat lebih jeli. Karena dalam sepakbola ternyata lebih cepat tidak selalu berbanding lurus dengan lebih baik.

Menunda melakukan aksi 1-2 detik yang dilakukan hanya oleh seorang pemain ternyata mampu memberikan keuntungan secara kolektif kepada tim. Hal ini bisa dilakukan oleh setiap pemain di lapangan.

Kiper bisa melakukan la pausa saat membantu membangun serangan. Bisa dilakukan juga seperti Dave dan Brian seperti pada contoh di atas. La pausa bukan hanya tentang menunggu. Tetapi sebuah aksi untuk menciptakan situasi yang lebih menguntungkan dengan mengontrol tempo permainan.

Komentar
Dani Rayoga

Football Addict | Physics Lovers | @DaniBRayoga

Comments are closed.