Opini

Liga 1 Sebatas Mampir

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr

Berlaga di kasta teratas sepakbola akhirnya menjadi kenyataan bagi Laskar Sembada. Merengkuh juara Liga 2 juga bukan lagi sekadar mimpi. Pertanyaannya, setelah semua terwujud, lalu apa?

PSS Pastikan Diri Naik Kasta

Berkompetisi di Liga 1 jelas berbeda dengan berlaga di Liga 2. Setelah 11 tahun berada di kasta kedua, tidak bisa pula mengatakan bahwa kasta tertinggi merupakan habitat yang sudah dipahami oleh PSS Sleman.

Perbedaan yang jelas terpampang adalah intensitas kompetisi. Penentuan juara dan degradasi di musim ini saja sampai harus ditentukan hingga pertandingan terakhir. Lebih gilanya, ada lima tim yang berjuang lolos dari zona merah pada pekan pamungkas.

Menengok rekam jejak tiga tim promosi pada Liga 1 2018, ketiganya sempat terseok-seok lebih dari setengah musim. Sebelum akhirnya Persebaya Surabaya dan PSIS Semarang bisa mentas dan berkutat di papan tengah. Akan tetapi, PSMS Medan bernasib lain akibat gagal bangkit.

Persaingan yang ketat disebabkan oleh kualitas pemain yang cukup merata di semua tim. Ini sangat berbada dengan Liga 2 di mana hanya beberapa klub yang dihuni kumpulan pemain-pemain berlabel bintang. Selain itu, kelas para pemain LIga 1 juga lebih tinggi. Tolok ukurnya mudah saja, para pemain Timnas yang notabene pemain-pemain terbaik di Indonesia, berlaga di kompetisi ini.

Super Elja bisa saja mengalami apa yang dialami oleh Persebaya Surabaya dan PSIS Semarang musim ini. Atau malah mengikuti jejak dari PSMS Medan yang turun kasta lagi ke Liga 2. Satu-satunya yang bisa dilakukan PSS Sleman saat ini hanyalah persiapan. Persiapan mengarungi kompetisi yang jauh berbeda dengan Liga 2.

Banyak hal yang harus dipersiapkan baik berkaitan dengan tim secara langsung, maupun yang tidak berhubungan dengan sebelas pemain di lapangan secara langsung. Hal yang terkait dengan tim pun tak hanya mengenai pelatih dan pemain.

Untuk memulainya, perlu diketahui bahwa klub di Liga 1 musim 2018 mempunyai paling sedikit tiga tim. Tim pertama adalah tim senior di mana mereka berlaga di Liga 1. Lalu ada pula dua tim kelompok umur yang masuk dalam program pembinaan PSSI bernama Elite Pro Academy, yakni tim U-19 dan tim U-16.

Ketiga tim tersebut garis besar persiapannya hampir sama. Yang paling awal tentu menentukan pelatih. Pelatih harus ditunjuk terlebih dahulu sebelum bagian lainnya di dalam tim karena pelatih adalah orang yang paling mengetahui akan dibawa ke mana tim tersebut dan apa yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan tersebut.

Langkah selanjutnya adalah mengangkat staf kepelatihan, yakni asisten pelatih, pelatih fisik, dan pelatih kiper. Hirarki kerja staf kepelatihan berada langsung di bawah pelatih kepala. Orang-orang yang mengisinya pun harus sesuai dengan kemauan pelatih kepala. Tidak boleh asal tunjuk mereka yang punya nama besar atau mereka yang terdengar familier.

Kemauan yang dimaksud adalah tentang pandangan terhadap permainan dan pendekatan dalam melatih. Seorang pelatih kepala mempunyai mimpi tertentu soal bagaimana gaya bermain tim yang diasuhnya. Tugas staf adalah membantu pelatih kepala untuk mewujudkan mimpi tersebut. Oleh karena itu, sosok yang berada dalam staf kepelatihan semestinya mempunyai mimpi yang sama.

Setelah staf kepelatihan lengkap, barulah mencari pemain. Poin pentingnya masih sama, pemain yang direkrut harus sesuai dengan kebutuhan pelatih, jangan tergiur nama besar pemain atau nama yang familier di telinga. Fokuskan pertimbangan pada kualitas pemain.

Lagi-lagi hal ini berkaitan dengan mimpi pelatih kepala soal gaya bermain yang ingin ia terapkan. Ibaratkan saja pelatih kepala adalah seorang juru masak dan gaya bermain impian dari pelatih tersebut merupakan masakan yang ingin dihidangkan oleh juru masak.

Misalkan, jika juru masak tersebut bertekad membuat satu porsi gado-gado. Mulailah membeli kentang, tahu, telur, saus kacang dan sebagainya. Jangan malah mengimpor jeruk hanya karena jeruk dar luar negeri dipandang lebih mewah. Jangan pula membeli ikan lele hanya karena kerabat-kerabatnya menyukai ikan lele. Itu hanya akan membuang uang dan akhirnya menjadi sia-sia karena tak terpakai.

Begitu pula cara cara merekrut pemain. Jika gaya permainan yang diinginkan pelatih membutuhkan bek dengan tekel yang bersih, tak perlu merekrut pemain belakang yang mengandalkan duel fisik meskipun dia punya nama besar. Andai ingin menyerang dengan umpan-umpan terobosan, tidak usah membeli penyerang dengan badan tinggi besar yang hanya lihai bola udara walaupun ia adalah pemain asing.

Jika para pemain sudah lengkap, kemudian melaksanakan program latihan. Penting bagi pelatih bersama stafnya untuk menyusun program latihan agar dapat menghadapi kompetisi yang panjang. Program latihan tersebut harus mampu membawa para pemain pada performa puncak saat liga dimulai.

Hal itu penting sebagai patokan. Misalnya saja dalam sebuah uji coba di awal program, tim mengalami kekalahan. Tak bisa pelatih langsung memberikan judgement bahwa yang bermain saat itu tidak layak. Namun, harus dilihat terlebih dahulu apakah ada progres dari para pemain, atau malah ada penurunan performa.

Judgement tersebut sepenuhnya adalah hak tim pelatih karena merekalah yang benar-benar mengetahui kondisi pemain saat pertama kali bergabung, ketika sepekan menjalani latihan, tatkala sebulan dibawah asuhan mereka, dan seterusnya. Aspek yang perlu dijadikan tolak ukur oleh tim pelatih tentunya adalah teknik, taktik, fisik dan mental dari para pemain.

Langkah-langkah persiapan di atas sewajarnya dilaksanakan dengan urut. Memang akan memakan waktu lama karena Super Elja akan menghadapi kompetisi yang bisa dibilang baru bagi mereka. Oleh karena itu, PSS Sleman harus memulainya sesegera dan sebaik mungkin. Kalau tidak, jangan heran apabila musim depan Liga 1 hanya sebatas mampir bagi Laskar Sembada.

Komentar
Andhika Gilang

Dapat dihubungi secara personal melalui akun @AndhikaGila_ng

Comments are closed.