Editorial

Melantunkan Suket Teki, Mengabadikan Didi Kempot

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr

Pawartos lelayu, inna lillahi wa inna ilaihi rajiun.

Sampun katimbalan sowan dumateng ngarsanipun Gusti Ingkang Mahaagung panjenenganipun Dionisius Prasetyo utawi Didi Kempot.

Mugi-mugi sedaya amalipun katampi wonten ngarsanipun Gusti Ingkang Mahakuasa lan pikanthuk kaswargan. Amin.

Begitulah kira-kira pengumuman yang keluar dari megafon masjid di lingkungan tempat tinggal Didi Kempot pagi ini (5/5). Beliau menghembuskan nafas terakhir di Rumas Sakit Kasih Ibu, Solo pada usianya yang ke-53 tahun.

Penyakit jantung ditengarai menjadi penyebab penyanyi yang merupakan tetangga satu kelurahan dari Chandra Waskito itu. Selanjutnya, Ngawi akan menjadi tempat peristirahatan pelantun lagu-lagu campursari tersebut.

Ngawi. Kabupaten tersebut pula menjadi benang merah antara Didi Kempot dengan teras-teras Stadion Maguwoharjo. Itulah momen di mana karyanya mulai terkenang dalam benak Sleman Fans.

Kala itu, 7 Agustus 2016, PS Sleman masih berada di kasta kedua. Dalam ISC-B, kompetisi yang tidak resmi-resmi amat, Persinga Ngawi bertandang ke kediaman Super Elja dalam lanjutan babak penyisihan grup.

Laga baru berjalan 4 menit, sundulan Tri Handoko memberi keunggulan atas tim tamu. Dianggap kontroversial, pemain Persinga melakukan protes dengan sasaran asisten wasit, Asep Riaendi, dan pengadil utama, Hipni.

Terjadi kembali, saat gol ketiga dari Risky Novriansyah disahkan, tim tamu kembali melakukan protes. Kali ini asisten wasit, Iswah Indiarto, menjadi bulan-bulanan mereka. Sebelum akhirnya laga terhenti karena Persinga melakukan walk out.

Momen tersebut menandai tumbuhnya salah satu chant di rumah Laskar Sembada. Entah bagaimana jalan pikirannya, Capotifo Brigata Curva Sud saat itu memilih memulai lantunan “wong salah ora gelem ngaku salah”.

Potongan lagu berjudul Suket Teki sukses dibawa ke atas teras. Selain memang sedang moncer, tetapi tembang yang disadur tersebut tak sembarangan, lagu itu milik seorang penyanyi legendaris asal Solo, Didi Kempot.

Meskipun pada praktiknya terjadi pergeseran tujuan dari pelantunan tembang tersebut. Jika sang solois campursari itu menggunakannya dalam situasi patah hati, Sleman Fans menyanyikan Suket Teki untuk menyasar pemain lawan.

Akan tetapi, tak mengapa juga. Lagipula, lagu tersebut tak juga kehilangan ruhnya. Suket Teki tetap saja disasarkan kepada orang ―atau sekelompok orang― yang tak mau mengakui kesalahannya yang pada saat itu ditunjukkan oleh Persinga.

Kejadian tersebut sendiri menjadi parameter sendiri terhadap penggunaan lagu Didi Kempot tersebut. Yang namanya istimewa, tentu tak dilakukan setiap saat. Harus ada situasi khusus yang bisa menjadi musabab langgam itu keluar di tribun.

Keadaan tersebut bisa dipicu andai pemain lawan melakukan protes berlebihan, tak mau mengakui kesalahannya di mata wasit, dan membuang banyak waktu. Barulah Suket Teki dinyanyikan sebagai sebuah sindiran bagi mereka.

Seiring berjalannya waktu, laga demi laga dijalani Super Elja, situasi serupa bermunculan dan Stadion Maguwoharjo sudah punya jurus andalannya. Dari teras seolah berseru, “kita ini mau menonton guliran bola, bukan sekelompok orang adu mulut.”

Sungguh sebuah kritik yang amat asik dari atas tribun.

Kemudian, melihat siapa yang bernyanyi di atas teras memberi konteks tersendiri yang menjurus kepada kesimpulan bahwa lagu itu juga istimewa. Tembang tersebut menjadi bukti adanya akulturasi dua budaya yang tumbuh terpisah ribuan kilometer jauhnya.

Bagaimana tidak, kelompok suporter yang menjadikan ultras dari eropa sebagai kiblat, melantunkan campursari di atas tribun. Tidak mengapa juga. Toh, keberadaan mereka di tribun juga berkat PS Sleman, sebuah klub yang berada di jantung kultur Jawa.

Tidak ada salahnya juga memakai kebudayaan ibu. Nyanyian tembang itu yang bersandingan dengan chant lain yang berbahasa Indonesia, Inggris, bahkan Italia menjadi unik. Keunikan yang justru menunjukkan bahwa di sini tak ada kehilangan identitas sebagai masyarakat yang berakar di Jawa.

Diakui atau tidak, lantunan Suket Teki dari tribun Stadion Maguwoharjo tersebut sudah memenuhi tiga syarat untuk diberi label spesial.

Pertama, special singer, bahwa tembang itu diciptakan oleh seorang legenda, Didi Kempot. Kedua, special song, bahwa lagu itu adalah bukti asimilasi budaya. Ketiga, special occasion, bahwa chant itu butuh situasi khusus untuk dapat dilantunkan.

Kini, pencipta lagu campursari tersebut telah berpulang. Kehadiran Didi Kempot secara fisik telah menjadi fana, tetapi karyanya tak bisa mati. Suket Teki tetap hidup di teras-teras rumah Laskar Sembada dan di benak para penguhuninya.

Selamat jalan, Legenda!

Komentar
Andhika Gilang

Dapat dihubungi secara personal melalui akun @AndhikaGila_ng

Comments are closed.