Analisis

Nostalgia Taktikal: PSS Menangi Duel Adu Serangan Atas Persebaya

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr

PS Sleman asuhan Seto Nurdiayntoro bertemu dengan Persebaya arahan Djadjang Nurdjaman pada lanjutan Shopee Liga 1 2019.

Pertandingan yang digelar di Stadion Maguwoharjo pada Sabtu (13/7/19) malam itu berlangsung ketat. Kedua tim saling bergantian menyerang. Hangatnya atmosfer pertandingan berkat dukungan kedua kelompok suporter seakan mendorong pemain untuk tampil maksimal.

Super Elja bermain dengan formasi 433. Posisi penjaga gawang diisi oleh Tri Hamdani. Kuartet lini belakang diisi oleh Bagus Munyeng, Purwaka Yudhi, Asyraq Guforn, dan Derry Rachman.

Guilherme Batata, Dave Mustaine, dan Brian Ferreira menempati lini tengah. Irkham Mila dan Haris Tuharea mengapit Yehven Bokhashville di lini depan.

Kubu Bajul Ijo menerapkan formasi yang sama, 4231. Miswar Saputra mengawal lini belakang bersama Novan Sasongko, M. Syaifuddin, Otavio Dutra, dan Ruben Sanadi. Trio lini tengah diisi oleh M. Hidayat, Fandi Eko Utomo, dan Damian Lizio. Osvaldo Haay dibantu oleh Irfan Jaya dan M. Dzhalilov di lini depan.

Gambar 1. Sebelas Pertama PSS vs Persebaya

Penggunaan formasi yang mirip di kedua tim membuat pertandingan ditentukan melalui transposisi yang dilakukan saat membangun serangan dan saat melakukan pressing untuk mengganggu bangun serangan.

Terlebih kedua tim sama-sama mengandalkan penguasaan bola progresif untuk menyerang. Dari aspek ini, PSS lebih efektif dibandingkan dengan Bajol Ijo. Hal ini juga yang kemudian menentukan kemenangan tuan rumah dengan skor 2-1.

Serangan Persebaya Lewat Ruang Sayap

Saat bertahan, formasi PSS berubah menjadi 442 atau 4411. Perubahan ini salah satunya terjadi akibat orientasi bertahan Super Elja, terutama para gelandangnya yang fokus pada penjagaan orang. Posisi Hidayat yang sering turun ke ruang di depan lini membuat Brian sering berdiri sejajar dengan Yehven.

Untuk mengatasi blok pertahanan Super Elja ini, Bajul Ijo mencoba memprogresi serangan melalui ruang sayap.

Hidayat sering turun, secara vertikal di antara stopper atau secara diagonal di samping stopper Persebaya untuk membantu membangun serangan. Fandi Eko kemudian akan mengisi posisi yang ditinggalkan Hidayat di lini tengah.

Posisi turunnya Hidayat mempengaruhi cara Persebaya untuk melakukan progresi bola. Namun, tujuannya tetap sama, menciptakan segitia atau persegi di ruang sayap untuk masuk ke sepertiga akhir.

Salah satu penyebabnya adalah jarangnya stopper Persebaya melakukan drive ke depan, walaupun dalam keadaan menang jumlah di lini belakang.

Gambar 2. Bangun serangan Persebaya saat Hidayat turun secara vertikal

Saat Hidayat turun secara vertikal di antara stopper, progresi bola untuk melewati garis pressing pertama PSS umumnya dilakukan melalui fullback dan Fandi Eko.

Kesuksesan cara ini kemudian bergantung pada pressing yang dilakukan oleh PSS di ruang sayap. Berbeda ketika Hidayat turun secara diagonal di samping stopper. Fullback biasanya akan naik di posisi yang lebih tinggi karena Hidayat lebih sering melakukan drive ke depan.

Gambar 3. Bangun serangan Persebaya saat Hidayat turun secara diagonal

Jarangnya Persebaya melakukan sirkulasi di lini pertama membuat serangan yang coba dibangun sering gagal. Padahal satu-satunya gol Bajul Ijo pada pertandingan ini diawali dengan proses sirkulasi di lini pertama.

Bangun serangan Persebaya dari sisi kiri menarik Dave dan Batata untuk bergeser ke kanan. Dutra kemudian melakukan sirkulasi dengan melepaskan umpan ke Syaifuddin di sisi kanan. Sirkulasi yang membuat Lizio bebas menerima bola dan melanjutkan serangan ke pertahanan PSS.

Gambar 4. Proses sirkulasi bola di lini pertama Persebaya yang memudahkan Lizio menerima dan memprogresi bola pada proses gol Persebaya

Saat mengejar ketertinggalan, Persebaya juga berusaha menyerang melalui umpan langsung ke Osvaldo yang memang kuat dalam menahan bola. Selain itu, beberapa kali fullback mereka juga melepaskan early cross. Namun, lini belakang PSS masih tampil cukup apik untuk mengatasinya.

PSS Menyerang dari Tengah Ke Sayap

Jika Persebaya berusaha membangun serangan langsung dari ruang sayap, PSS mengambil jalan berbeda. Brian dan kawan-kawan memilih membangun serangan melalui gelandang di ruang tengah sebelum melanjutkannya ke ruang sayap.

Persebaya bertahan tetap dengan formasi 4231. Intensitas pressing yang tidak terlalu tinggi juga memudahkan PSS untuk membangun serangan.

Transposisi sedikit dilakukan Super Elja untuk membangun serangan, terutama dari single pivot ke double pivot yang dilakukan Batata dan Dave. Sementara Brian tetap fokus untuk mencari celah di ruang antar lini.

Saat membangun serangan, Batata umumnya akan diikuti oleh Lizio. Batata biasanya bergerak mendekati sisi bola dan menjauhkan Lizio dari ruang tengah.

Dave kemudian akan muncul, menawarkan dirinya untuk menjadi opsi umpan. Fandi Eko tidak mengikuti pergerakan Dave dan memilih menutup jalur umpan ke Yehven. Sementara Hidayat menjaga Brian.

Gambar 5. Proses bangun serangan PSS melalui gelandang (ruang tengah)

Dari ruang tengah ini, Dave memiliki banyak pilihan untuk progresi bola. Ke ruang antar lini untuk mencari Brian sebelum menngalirkannya lagi ke ruang sayap atau langsung melepaskan umpan ke ruang sayap kepada winger atau fullback. Banyaknya variasi serangan ini membuat serangan Super Elja menjadi lebih sulit diprediksi oleh Bajul Ijo.

Keunggulan lain yang dimiliki oleh PSS adalah kemampuan Brian untuk memanfaatkan ruang di belakang bek lawan. Proses gol pertama PSS melibatkan Brian yang memanfaatkan jarak antara fullback dan stopper.

Gambar 6. Proses gol pertama PSS. Dimulai dari ruang tengah dan kecerdikan Brian memanfaatkan celah antara fullback dan stopper Persebaya
Brian dan Serangan Balik

Senjata lain yang dimiliki oleh PSS adalah serangan balik. Salah satu faktor yang kemudian membuat serangan balik Super Elja menjadi berbahaya adalah Brian. Pemain asal Argentina tersebut menjadi outlet utama saat PSS mencoba memanfaatkan momen transisi.

Hal ini secara langsung juga dipengaruhi oleh formasi bertahan yang diterapkan oleh PSS. Dengan formasi 442, Brian sering tidak lagi terlibat aktif membantu pertahanan ketika lini pressing pertama terlewati oleh Persebaya.

Pemain berpaspor Irak tersebut memilih bergerak menempati posisi yang menguntungkan bagi dirinya saat menerima umpan untuk melakukan serangan balik.

Gambar 7. Skema serangan balik PSS dengan Brian sebagai outletnya. Proses gol kedua PSS (gambar kanan) berasal dari serangan balik yang dimulai oleh Brian

Dave dan kawan-kawan mendapatkan gol kedua melalui proses serangan balik, dengan Brian sebagai outletnya. Begitu penguasaan bola berpindah, Brian langsung menjadi opsi umpan pertama saat momen transisi ini.

Dengan skill-nya, Brian akan menahan bola terlebih dahulu, menunggu pemain sayap atau penyerang berada pada posisi yang lebih baik sebelum melepaskan umpan.

Kurang efektifnya serangan Persebaya dan cukup apiknya lini belakang PSS dalam mengatasi crossing yang dilepaskan oleh Osvaldo dan kawan-kawan membuat tim tamu kesulitan menciptakan peluang berbahaya.

Hal berbeda bagi tuan rumah. Bangun serangan yang dilakukan membuat Super Elja memiliki serangan yang cukup bervariasi. Selain itu, PSS juga memiliki senjata lain yang gagal diantisipasi Persebaya, yaitu serangan balik.

Komentar
Dani Rayoga

Football Addict | Physics Lovers | @DaniBRayoga

Comments are closed.