Opini

Mendedah Playing Style Super Elja Method

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr

Beberapa hari yang lalu, Guntur Cahyo Utomo selaku pentolan Departemen PSS Development Center mengunggah empat halaman dari ebook berjudul Super Elja Method di akun twitternya.  Tentu hal itu menarik mengingat di departemen itulah para Elang Muda mendapat pendidikan.

Lalu, apa itu Super Elja Method?

Berdasarkan kata pengantar yang tertulis, Super Elja Method berisi cara memainkan sepak bola serta langkah menuju cara bermain tersebut. Metode itu diterapkan untuk pemain muda Laskar Sembada di bawah naungan PSS Development Center.

Super Elja Method sendiri diformulasikan berdasarkan proses dan hasil eksperimen yang dilakukan PSS Development Center selama kurang lebih setahun terakhir. Di dalamnya termasuk playing style yang merupakan cara sebuah tim bermain atau dengan kata lain adalah gaya bermain.

PSS Development Center yang memang berfokus pada pengembangan penggawa muda, memilih gaya bermain yang dianggap memfasilitasi perkembangan pemain itu sendiri. Ada empat hal yang mendasari playing style dalam Super Elja Method: Proaktif, Konstruktif, Intensif dan Adaptif.

Proaktif

Proaktif artinya mengambil inisiatif permainan ketika menyerang ataupun bertahan. Dalam praktiknya, pemain harus terus menerus melakukan observasi dan mengambil keputusan.

Ketika menyerang, tim harus berusaha menciptakan situasi menguntungkan. Set up dilakukan untuk menggulirkan bola dengan mengincar area berbahaya dari tim lawan. Di sini, penguasaan bola bisa digunakan sebagai salah satu cara untuk menciptakan situasi yang menguntungkan tadi.

Sementara itu, ketika bertahan, proaktif juga berarti mencoba merebut ulang penguasaan bola. Salh satu caranya adalah dengan sesegera mungkin menutup pergerakan lawan dengan pressing intensif terencana.

Untuk melakukan itu, ruang dan lawan kudu dipertimbangkan. Di lapangan, pemain wajib menutup jalur passing lawan dan di saat yang bersamaan juga kudu mengidentifikasi potensi aliran bola setelahnya.

Konstruktif

Ketika menyerang, konstruktif berarti mengalir dari belakang menuju area penciptaan peluang secara bertahap. Serangan yang dilakukan merupakan hasil dari proses yang tersusun dan terhubung dengan rapi. Bola digulirkan mulai dari area bertahan perlahan menuju area penyerangan.

Untuk mencapai tujuan tersebut, kuncinya adalah pandangan soal ruang dan koneksi. Selama didasarkan kepada pemahaman atas dua hal itu, pilihan untuk melakukan umpan pendek atau passing jauh ke depan tidak jadi persoalan.

Sementara itu, proses konstruktif dalam bertahan berarti mekanisme yang dilakukan pemain untuk membangun lapisan-lapisan pertahanan. Beberapa kelompok pemain tersebut memiliki tujuan untuk menghambat laju bola.

Pemain paling dekat dengan bola harus segera berpikir untuk menghentikan rencana serangan dari lawan dengan melakukan pressing intensif. Kemudian, lapisan selanjutnya bertugas merespon dengan menutup kemungkinan aliran bola yang dilakukan lawan.

Intensif

Intensitas merupakan salah satu unsur penting dalam sepak bola. Berbeda dengan tempo, intensitas berarti kerapatan aksi yang benar dalam satu satuan waktu tertentu. Bermain intensif artinya para pemain harus melakukan aksi-reaksi secara konsisten sepanjang pertandingan.

Saat menyerang, intensitas berkaitan dengan keputusan cepat dan tepat dalam meperlakukan si kulit bulat atau menempatkan diri di lapangan.

Bagi pemain yang membawa bola kebijakan itu bisa berarti mengumpan atau menembak. Sedangkan bagi pemain yang sedang memberikan support, keputusan tersebut berarti penempatan posisi untuk memperbesar peluang terjadinya gol.

Kemudian, prinsip intensif ketika bertahan terwujud dari mekanisme pressing dan mentalitas pemain dalam melakukan pressing ketika lawan menguasai bola. Mekanisme pressing menekankan pada kecepatan pengambilan keputusan dan pengambilan aksi.

Adaptif

Adaptif artinya memiliki kemampuan mengumpulkan informasi dengan cepat, lalu mengolah dan mengambil keputusan dengan cepat dan tepat atas situasi tertentu. Kemampuan itu memungkinkan rencana permainan berubah dari strategi awal akibat perubahan kondisi di lapangan.

Sebagai contoh, saat pemain lawan yang awalnya banyak menumpuk pemain digaris pertahanan berubah cara bertahan dengan lebih banyak melakukan pressing. Adaptasi yang dapat dilakukan adalah mengubah siasat menyerang menjadi lebih banyak melepaskan crossing alih-alih melakukan penetrasi.

Adaptasi hanya mengganti cara bertahan atau menyerang saja tanpa mengubah tujuan. Oleh karena itu, andai siasat di lapangan berubah akibat adaptasi, taktik itu tidak boleh mengubah maksud.

Tujuan menyerang tetap membongkar pertahanan lawan untuk menciptakan peluang dan gol. Begitu pula saat bertahan, tujuannya sama saja, yakni menghentikan serangan dan merebut penguasaan bola sesegera mungkin.

Komentar

Comments are closed.