Opini

Mengapa Alfonso Ditarik Keluar Saat Melawan Perseru?

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr

Pada pertandingan uji tanding PSS vs Perseru akhir pekan lalu, ada kejadian menarik. Hal itu adalah ketika pemain asing PSS, Alfonso de la Cruz harus ditarik keluar di babak pertama setelah mengalami benturan kepala. Akibat benturan kepala tersebut, Alfonso harus mendapatkan beberapa jahitan di kepala. Tim Medis memutuskan tidak memperbolehkan Alfonso melanjutkan pertandingan.

Di belahan dunia lain, di Semifinal Leg pertama Liga Champion antara Tottenham Hotspur vs Ajax, terdapat insiden yang hampir mirip dengan yang dialami oleh Alfonso. Jan Vertonghen beradu kepala dengan Toby Alderweireld, Vertonghen sempat pingsan dan mengeluarkan darah dari kepalanya. Namun tim medis Tottenham tetap memperbolehkan pemain Belgia ini melanjutkan permainan.

Yang menjadi pertanyaan, dengan dua kejadian yang hampir mirip, mengapa mendapat dua perlakuan yang berbeda? Keputusan tim medis mana yang tepat?

Kejadian benturan di kepala dapat mengakibatkan suatu kondisi yang disebut concussion, atau cidera kepala ringan. Menurut NCAA (2011), concussion dijelaskan sebagai sebuah proses patopsikologi kompleks pada otak, yang dipicu oleh sebuah trauma Biomekanikal. Secara sederhana, adalah kondisi ketika kepala mengalami benturan, menyebabkan bagian otak terguncang sehingga bagian otak terlibat kontak dengan tengkorak bagian dalam.

Concussion adalah trauma kepala yang paling sering terjadi dalam dunia olahraga. Masih menurut NCAA, di Amerika 1,6 – 3,2 juta kejadian concussion akibat olahraga tercatat tiap tahun. Secara statistik, angka kejadian concussion di American Football adalah 3,1 per 1000 pemain. Sedangkan pada sepakbola, kejadiannya lebih rendah yaitu 1,4 per 1000 pemain.

Walaupun hanya benturan ringan, segala bentuk cidera kepala harus mendapatkan perhatian yang serius dari tim medis. Hal ini dikarenakan sebuah cidera kepala kepala ringan terkadang tidak menimbulkan gejala, segera setelah kejadian. Namun, jika pemain dipaksakan untuk tetap bermain, dikhawatirkan terjadi gejala lanjutan yang lebih berat.

Gejala yang timbul dari concussion adalah efek langsung dari benturan otak terhadap bagian dalam tengkorak. Hal ini akan menyebabkan onset cepat dari penurunan fungsi kognitif, seringnya tanpa adanya kerusakan struktural. Hal ini menyebabkan temuan normal pada pemeriksaan MRI atau CT Scan pasca trauma.

Untuk menegakkan diagnosis secara tepat, tim medis harus memeriksa pemain secara holistik. Mulai dari gejala, tanda dan adanya perubahan perilaku. Gejala yang bisa timbul antara lain pusing, mual, muntah, kesulitan konsentrasi, emosi tidak stabil, juga bisa terjadi kehilangan ingatan.

Untuk tanda, yang bisa ditemukan pada pasien adalah hilang kesadaran, dan gangguan keseimbangan. Adanya gangguan kognitif bisa terlihat ketika pemain terlihat kebingungan, dan waktu bereaksi terhadap rangsang berkurang.

Setelah diagnosis ditegakkan, tim medis harus bisa menentukan keputusan dalam waktu singkat. Apakah seorang pemain mengalami concussion atau tidak. Kesalahan pada diagnosis awal, bisa menyebabkan kesalahan dalam pengambilan keputusan dan akan berdampak buruk pada kondisi pemain.

Makdisi, et al (2014) dalam Updated guidelines for the management of sports-related concussion in general practice, menjelaskan bahwa setiap pemain yang mengalami cidera kepala ringan tidak diperbolehkan untuk kembali bermain di hari mereka terkena cidera tersebut. Untuk memastikan kapan pemain bisa bermain kembali, dibutuhkan pemeriksaan lebih lanjut oleh pihak medis dan dilakukan follow up terhadap kemungkinan gejala lanjutan.

Poin inilah yang menjadi dasar untuk tidak memaksakan pemain yang mengalami concussion, untuk kembali bermain di lapangan. Jika kita melihat kasus yang dialami oleh Alfonso, keputusan yang diambil tim medis adalah sesuatu yang tepat. Mengingat Alfonso juga mengalami luka robek di area kepala. Jika dipaksakan untuk tetap bermain, dikhawatirkan akan terjadi benturan susulan yang akan berakibat lebih fatal bagi sang pemain.

 

Sumber:

Kolssner, D., Sports Medicine Handbook. Twenty-second Edition, July, 2011

Makdisi et al. Updated guidelines for the management of sports-related concussion in general practice. Volume 43, No.3, March 2014.

Komentar
Ahmad Indra Pranata

Dokter muda yang mencintai sepakbola, bisa kamu hubungi di akun Twitter @mamas_ahmad

Comments are closed.