Analisis

Nostalgia Taktikal: Atasi Man Marking PSM, PSS Comeback

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr

Jumat malam, 23 Agustus 2019, mungkin menjadi salah satu malam yang istimewa di Stadion Maguwoharjo. PS Sleman harus meladeni tamunya, PSM Makassar, pada hari tersebut.

Super Elja dan Juku Eja seolah berbagi babak pada pertandingan itu. Babak pertama, PSM tampil dominan dan berhasil mencetak dua gol. Di babak kedua, giliran PSS yang bangkit dan berhasil mencetak tiga gol.

Seto Nurdiyantoro bermain dengan formasi 433 seperti biasanya. Bersama Ega Rizky di posisi penjaga gawang, Bagus Nirwanto, Alfonso de la Cruz, Asraq Gufron, dan Jajang Sukmara mengawal pertahanan PSS.

Trio lini tengah diisi oleh Guilherme Batata, Brian Ferreira, dan Dave Mustaine. Yehven Bokhashvili dibantu oleh Haris Tuharea dan Irkham Mila di sisi kiri dan kanan.

Di sisi lain, Darije Kalezic memainkan formasi 4231. Pos penjaga gawang diisi oleh Rivki Mokodompit. Kuartet lini belakang dipercayakan pada Asnawi Bahar, Abdul Rahman, Aaron Evans, dan Beny Wahyudi.

Marc Klok dan Muhammad Arfan sebagai pivot ganda menopang kerja lini depan yang diisi oleh Wiljan Pluim, Zulham Zamrun, Rahmat Syamsuddin, dan Eero Makkanen.

Gambar 1. Sebelas Pertama Madura United vs PSS

Secara natural, tumbukan kedua formasi membuat banyak situasi dalam keadaan sama jumlah. Situasi menang jumlah 2v1 hanya terjadi di lini belakang bagi kedua tim, dua bek bertemu satu penyerang.

Lalu, apa yang terjadi di babak pertama sehingga PSM bisa tampil lebih dominan? Bagaimana PSS berusaha bangkit di babak kedua? Mari sedikit kita bahas.

PSS Gagal Lindungi Ruang-Ruang Penting Saat Bertahan

Ruang di sepakbola secara umum dapat dibagi menjadi dua. Ruang dalam koridor vertikal (dari gawang ke gawang) dan ruang dalam koridor horisontal.

Pada tulisan ini, akan sedikit dibahas mengenai ruang sepakbola dalam koridor horisontal dan hubungannya dengan penampilan PSS pada babak pertama saat melawan PSM, terutama saat fase bertahan.

Saat tidak menguasai bola, suatu tim akan membentuk formasi tertentu untuk menghalangi lawan untuk memrogresi bola dan melepaskan tembakan. Saat menghadapi Juku Eja, Super Elja menggunakan formasi 4411 atau 442, dengan Brian melakukan penjagaan kepada Klok.

Dalam formasi 442 tersebut, terdapat empat ruang dalam koridor horisontal. Pertama, ruang di depan lini, yaitu ruang di depan dua penyerang.

Selanjutnya adalah ruang antar lini, yakni ruang antara lini depan dan lini tengah dan ruang antara lini tengah dan lini belakang. Ketiga, ruang di belakang lini yang menunjukkan ruang di belakang bek. Terakhir, jarak antar pemain di dalam formasi.

Gambar 2. Ruang dalam koridor horisontal

Untuk tim yang sedang menguasai bola, ruang-ruang tersebut harus dimanfaatkan untuk melakukan progresi bola dan mendekat ke gawang lawan. Sementara itu, tim yang sedang tidak menguasai bola harus melindungi dan menguasai ruang-ruang tersebut untuk menghalangi lawan mengalirkan bola.

Pada babak pertama, Batata dan kawan-kawan cukup kesulitan dalam melindungi ruang antar lini dan ruang di belakang lini. Situasi tersebut juga yang memudahkan PSM untuk mencetak gol dan menciptakan beberapa peluang.

Pada gol pertama, skil individu Pluim membuatnya mampu melewati Batata dan bergerak di ruang antar lini dengan bebas. La Pausa dari Pluim menarik Gufron untuk keluar dari posisinya.

Sialnya, ruang yang ditinggalkan Gufron langsung dimanfaatkan oleh Eero. Super Elja gagal melindungi ruang antar lini dan ruang di belakang lini.

Gambar 3. Pluim lolos dari pressing Batata dan bebas di ruang antar lini (kiri). Eero memanfaatkan ruang yang ditinggalkan Gufron yang memilih menekan Pluim (kanan)

Hal serupa juga terjadi pada proses gol kedua. Terlambatnya Dave menekan Arfan dan cukup pasifnya blok bertahan PSS membuat Pluim bebas memilih opsi umpan yang akan dipilihnya.

Saat kedua stopper seperti fokus untuk mengantisipasi tembakan jarak jauh yang mungkin dilepaskan Pluim, Jajang tertarik untuk menjaga Eero yang bergerak sedikit melebar. Hal yang justru membuka opsi umpan ke Zulham.

Gambar 4. Pluim bebas di ruang antar lini dan Zulham memanfaatkan ruang di belakang lini yang gagal dilindungi lini belakang PSS
Cara PSS Atasi Man Marking PSM di Babak Kedua

Saat fase bertahan, PSM menggunakan formasi 4231 yang bisa berubah menjadi 442 karena penjagaan pemain yang berorientasi man marking. Umumnya, Pluim yang mengikuti apabila ada pemain PSS yang turun di ruang depan lini.

Man marking dari PSM pula yang menyulitkan PSS untuk menciptakan peluang di babak pertama. Brian yang biasanya bisa bebas di ruang antar lini terus mendapatkan penjagaan dari Klok. Pemain asal Argentina tersebut jarang bisa menerima bola dengan menghadap gawang lawan.

Secara individu, anah asuh coach Seto kesulitan untuk melakukan dismarking atau lepas dari penjagaan lawan. Minimnya usaha secara kelompok seperti rotasi, mengurangi cover lawan, dan menarik pressing lawan juga menyulitkan PSS untuk memprogresi bola dengan nyaman.

Gambar 5. Man marking PSM yang sulitkan PSS untuk bangun serangan

Pada babak kedua, Yehven dan kawan-kawan mencoba lebih aktif untuk membebaskan diri dari man marking lawan. Beberapa cara coba dilakukan untuk mampu mengalirkan bola dan menciptakan peluang yang lebih berbahaya.

Di lini belakang, stopper lebih bersabar untuk menahan bola dan melakukan sirkulasi untuk menggerakkan lawan dan menciptakan jarak antar pemain untuk opsi progresi.

Selain itu, Alfonso dan Gufron beberapa kali juga lebih berani untuk melakukan drive ke depan saat tersedia ruang. Hal itu akan memicu pemain PSM untuk menekan pembawa bola dan melepaskan penjagaan ke pemain yang lain.

Gambar 6. PSS melakukan sirkulasi saat tidak ada opsi umpan untuk melakukan progresi. Alfonso melakukan drive memanfaatkan ruang yang tersedia (kiri). Alfonso melakukan la pausa, menunggu Batata bergerak di ruang antar lini

Kombinasi untuk menemukan orang ketiga juga dicoba oleh PSS untuk melepaskan diri dari man marking lawan dan mendapatkan pemain bebas dengan posisi yang lebih menguntungkan. Proses gol pertama Brian juga diawali dengan kombinasi tersebut.

Mila yang bergerak ke dalam membuat Klok tertarik untuk menjaganya, meninggalkan Brian di ruang apit sisi jauh. Alfonso yang sedang menguasai bola (orang pertama), memberikan umpan pada Yehven (orang kedua) di lini depan.

Selanjutnya, Yehven meneruskan bola pada Brian yang bebas dan dengan posisi badan yang menghadap ke gawang lawan.

Selanjutnya, Brian mengumpan pada Haris di ruang sayap. Setelahnya, Brian memperlambat larinya untuk mendapatkan jarak terhadap Klok. Sentuhan pertama yang apik ditambah dengan penjagaan dari Klok yang justru seolah mempersilahkan Brian untuk melepaskan tembakan berbuah gol pertama bagi PSS.

Gambar 7. Skema kombinasi umpan untuk menemukan orang ketiga (Brian)

Gol kedua juga dari kombinasi umpan serupa. Pergerakan Brian tidak hanya menarik Abdul Rahman dan Evans, Klok pun juga malah fokus pada pergerakannya. Selain membuka opsi umpan diagonal dari Mila di ruang sayap ke Haris di ruang tengah, hal itu juga membuka ruang di depan lini belakang PSM.

Mila langsung melepaskan umpan ke Haris, dengan Bagus bergerak ke dalam ke ruang kosong di depan lini belakang lawan sebagai opsi orang ketiga. Penalti didapat setelah Klok menjatuhkan Brian.

Gambar 8. Skema kombinasi umpan untuk menemukan orang ketiga (Bagus). Pergerakan Brian membuka jalur umpan diagonal dari Mila ke Haris

Kita memang belum bisa kembali menyaksikan secara langsung klub kebanggaan bertanding dalam waktu dekat. Kondisi memang belum memungkinkan.

Mengenang letupan emosi saat Yudo berhasil mencetak gol mungkin bisa sedikit menjaga nyala semangat untuk kembali mendukung para penggawa secara langsung.

Komentar
Dani Rayoga

Football Addict | Physics Lovers | @DaniBRayoga

Comments are closed.