Uncategorized

Nostalgia Taktikal: Penampilan Gemilang di Kandang Persebaya

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr

Gelora Bung Tomo, kandang Persebaya, menjadi salah satu stadion yang menjadi bukti penampilan apik PS Sleman saat bermain away pada Liga 1 2019. Anak asuh Seto Nurdiyantoro berhasil mengalahkan tuan rumah yang kala itu dilatih oleh Wolfgang Pikal dengan skor tipis 2-3.

Sebelum pertandingan tersebut, kedua tim sebenarnya sedang berada pada situasi yang berbeda. Persebaya tidak pernah menang dalam empat pertandingan terakhirnya. Sedangkan PSS berada dalam trend positif. Super Elja tidak terkalahkan pada empat pertandingan terakhirnya.

Tidak diperkuat oleh Brian Ferreira, PSS tetap bermain dengan formasi 433. Bagus Nirwanto, Ikhwan Ciptadi, Asraq Gufron, dan Jajang Sukmara mengisi lini belakang. Menjadi lini terakhir untuk melindungi Ega Rizky yang mengawal gawang PSS.

Di lini tengah, Ocvian Chanigio mengantikan Brian dengan dibantu oleh Dave Mustaine dan Guilherme Batata. Haris Tuharea di sisi kanan dan Jefri Kurniawan di sisi kiri membantu Yehven Bokhashvili di lini depan.

Di sisi lain, Pikal memainkan formasi yang sama, 433. Pos penjaga gawang diisi oleh Miswar Saputra. Kuartet lini belakang diisi oleh Abu Rizal, M. Syaifuddin, Hansamu Yama, dan Ruben Sanadi.

Muhammad Hidayat, Fendi Eko Utomo, dan Diogo Campos menjadi trio di lini tengah. David da Silva diapit oleh Irfan Jaya dan Oktafianus Fernando di lini depan.

Gambar 1. Sebelas Pertama Persebaya vs PSS

Persebaya yang berusaha memperbaiki catatannya di beberapa pertandingan terakhir langsung bermain agresif. Mendominasi penguasaan bola dan menyerang pertahanan PSS. Hal itu membuat laga ini secara umum menjadi pertarungan antara daya serang Bajol Ijo melawan benteng pertahanan Super Elja.

Persebaya Gagal Tembus Pertahanan PSS

Pressing PSS dalam blok menengah dan rendah membuat Persebaya kesulitan membangun serangan. Bajol Ijo yang banyak mengandalkan wide rotation untuk progresi bola sering menemui jalan buntu untuk melepaskan diri dari penjagaan pemain Super Elja.

Pada saat membangun serangan, kedua fullback Persebaya, Ruben dan Abu Rizal langsung mengambil posisi yang cukup tinggi. Progresi bola dari lini pertama menjadi tugas stopper dan Hidayat sebagai pivot tunggal.

Fandi Eko atau Diogo sering bergantian turun menjadi opsi umpan tambahan ke ruang di depan lini untuk membantu proses bangun serangan ini.

Gambar 2. Bangun serangan Persebaya vs Blok Menengah PSS

PSS memilih bertahan dalam blok menengah hingga rendah dengan formasi 4141. Tidak terlalu aktif untuk mengganggu bangun serangan Persebaya di ruang depan lini.

Umumnya, anak asuh coach Seto berusaha menghambat progresi serangan lawan dengan penjagaan dengan man-to-man marking, terutama terhadap gelandang lawan.

Tergantung situasi, umumnya Batata menjaga Diogo, Dave mengikuti aksi Fandi Eko, dan Ocvian menjaga Hidayat. Komitmen Ocvian dalam melakukan man marking yang kemudian membuat formasi bertahan PSS sering berubah antara 4141 dan 4411.

Bajol Ijo sering berhasil menembuh blok menengah pertahanan PSS melalui beberapa cara. Pertama, stopper, biasanya Hansamu, melakukan drive setelah Persebaya melakukan sirkulasi.

Unggul jumlah pemain pada proses bangun serangan ini biasanya membuat Hansamu memiliki ruang kosong yang bisa digunakan untuk drive ke depan.

Gambar 3. Solusi bangun serangan Persebaya dengan Hansamu melakukan drive (kiri) dan respons PSS dengan menurunkan blok bertahannya (kanan)

Respons PSS jika Hansamu melakukan drive membuat mantan stopper Barito Putera tersebut kesulitan dalam memilih opsi umpan yang harus dipilih. Super Elja langsung menurunkan blok menengahnya ke blok rendah dengan cukup cepat.

Dengan penjagaan yang lebih man oriented, terkadang formasi PSS bisa berubah menjadi 631, dengan pemain sayap mengikuti fullback lawan yang naik tinggi. Jika pemain sayap terlambat turun, Batata selalu siap melakukan cover pada Bagus atau Jajang. Menjaga jarak antara stopper dan fullback.

Cara kedua, Diogo lepas dari penjagaan memanfaatkan skill individu dan timing saat turun ke ruang di depan lini. Cara ini biasanya dilanjutkan dengan masuknya pemain sayap ke ruang apit dan fullback overlap di ruang sayap. Diogo kemudian melepaskan umpan diagonal kepada fullback.

Menghadapi hal ini, fullback PSS, Jajang dan Bagus tampil cukup apik pada pertandingan ini. Momen kedua fullback tersebut dalam tetap menjaga pemain sayap Persebaya atau bergerak ke ruang sayap cukup baik. Situasi tersebut membuat serangan mereka juga mampu sering berhasil digagalkan oleh penggawa Super Elja.

Gambar 4. Solusi bangun serangan Persebaya dengan Diogo drop ke ruang di depan lini (kiri) dan respons lini belakang PSS (kanan)

Terdapat hal-hal lain yang menjadi faktor suksesnya PSS meredam serangan Persebaya. Dari sisi tuan rumah, Diogo yang sering turun membantu proses bangun serangan dan berada di depan lini PSS menyulitkan tim kebanggaan Surabaya tersebut melakukan kombinasi di area yang lebih berbahaya.

Dari tim tamu, Ega Rizky tampil cukup apik dalam memotong crossing pemain Persebaya terutama saat corssing diarahkan ke ruang di belakang lini. Ikhwan dan Gufron juga tampil gemilang dalam menjaga ruang antar lini dan ruang di belakang lini.

Menyerang dengan dua fullback yang agresif naik membuat terdapat ruang kosong di lini belakang Persebaya. Ditambah dengan lemahnya cover dari gelandang saat fullback melakukan overlap.

Ruang tersebut berhasil dimanfaatkan oleh PSS dan berkontribusi pada gol pertama dan gol ketiga yang dicetak oleh Jefri dan Yehven.

Gambar 5. PSS berhasil mencetak dua gol dengan memanfaatkan ruang yang ditinggalkan oleh fullback Persebaya

Pada lima menit terakhir, PSS memasukkan Purwaka Yudi dan bermain dengan tiga bek untuk mempertahankan keunggulan. Hingga akhir pertandingan, Persebaya tetap gagal untuk menciptakan peluang berbahaya untuk membalikkan keadaan.

Bajol Ijo gagal memenangkan pertandingan dan memutus trend buruknya. Penampilan gemilang Super Elja, terutama di babak pertama sukses membuat tim kebanggaan Sleman ini mencatatakan lima pertandingan tanpa kekalahan.

Komentar
Dani Rayoga

Football Addict | Physics Lovers | @DaniBRayoga

Comments are closed.