Analisis

Nostalgia Taktikal: Serangan Balik di Batakan

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr

Selama Liga 2 2018, PS Sleman menjalani 15 partai tandang dengan catatan 4 menang, tiga hasil imbang, dan kalah sebanyak 8 kali. Salah satu pertandingan terberat yang dijalani Super Elja adalah saat menjalani away ke Kalimantan.

Super Elja sempat dihajar tiga gol tanpa balas saat melawan Martapura FC. Saat berkunjung ke Kalimantan Tengah, Bagus Munyeng dan kawan-kawan juga harus tunduk dari Kalteng Putra FC.

Satu-satunya hasil baik PSS dari lawatan ke tanah Borneo adalah kala menghadapi Persiba Balikpapan di Stadion Batakan. Kala itu, anak asuh Seto Nurdiyantoro berhasil menyudahi perlawanan tuan rumah dengan skor 4-1.

Menariknya adalah tiga dari empat gol yang dicetak oleh Laskar Sembada berasal dari serangan balik. Oleh karena itu, tulisan kali ini tidak akan membahas jalannya pertandingan secara keseluruhan, melainkan fokus pada cara Super Elja menerkam Beruang Madu lewat counter attack.

Momen Transisi Menyerang dan Serangan Balik

Dalam sepakbola, terdapat empat momen utama: menguasai bola, transisi bertahan, tidak menguasai bola, dan transisi menyerang. Keempat momen itu tidak terpisahkan dan selalu berhubungan saat pertandingan berjalan.

Serangan balik adalah serangan yang dilakukan pada momen transisi menyerang. Umumnya serangan akan dilakukan dengan lebih cepat dibandingkan pada momen menguasai bola.

Situasi itu berkaitan dengan adanya momen singkat saat tim yang baru saja kehilangan bola melakukan perubahan organisasi dari menyerang ke posisi bertahan.

Perubahan organisasi tersebut membuat tim yang menguasai bola tidak perlu merusak organisasi pertahanan lawan karena mereka sudah berada dalam situasi yang belum terorganisir.

Dalam pertandingan melawan Persiba, tiga gol serangan balik PSS lahir dari dua keadaan transisi yang berbeda: saat serangan lawan gagal dan pada situasi tendangan bebas. Salah satu contoh situasi yang pertama adalah ketika Laskar Sembada mencatatkan gol kedua di Stadion Batakan.

Gambar 1. Skema serangan balik pada proses gol kedua PSS saat melawan Persiba

Crossing dari fullback lawan yang melakukan overlap mengenai Zamzani. Dave Mustaine dengan cerdik menguasai bola dengan dua sentuhan sambil memutar untuk menghadap ke gawang lawan.

Dengan struktur bertahan 4411, Super Elja memiliki dua opsi umpan untuk keluar dari pressing lawan: Ichsan Pratama yang berada di ruang antar lini dan Budiono yang memanfaatkan ruang yang ditinggalkan oleh fullback lawan.

Dave pada akhirnya memutuskan memberikan bola kepada Budi setelah gelandang lawan berusaha menutup jalur umpan ke Ichsan.

Begitu bola diberikan kepada Budi di ruang sayap, Tambun bergerak naik mengisi ruang tengah. Sedangkan Rifal Lastori berlari untuk mengisi ruang sayap di sisi jauh dari bola. Serangan balik diakhiri dengan umpan Budi kepada Lastori di sisi jauh. Sejurus kemudian, robek lagi gawang Stadion Batakan.

Gambar 2. Skema serangan balik pada proses gol ketiga PSS saat melawan Persiba

Sementara itu, gol ketiga Laskar Sembada pada pertandingan ini bisa terjadi lebih karena buruknya organisasi lawan. Saat gelandang Persiba melepaskan umpan panjang ke depan, lini belakang mereka terlambat untuk ikut naik.

Umpan panjang berhasil diintersep oleh Hisyam Tolle dan bola dikuasai oleh Vandy Prayoga. Setelah berhasil menghindari pressure yang diberikan oleh lawan, Vandy terus naik untuk membawa bola hingga mendapatkan situasi 2v1 (Vandy dan Budi melawan fullback lawan).

Memanfaatkan keadaan itu, Budi mendapatkan ruang yang sangat luas untuk membawa bola setelah menerima umpan dari Vandy. Akhirnya, pemain sayap bernomor punggung 41 tersebut dengan mudah menceploskan bola.

Gambar 3. Skema serangan balik pada proses gol keempat PSS saat melawan Persiba

Gagalnya eksekusi tendangan bebas menjadi awal dari proses gol keempat PSS di Stadion Batakan. Saat eksekusi tendangan bebas berhasil dihalau oleh barisan pertahanan Super Elja, bola masih dikuasai oleh pemain Beruang Madu.

Saat banyak pemain masih di daerah pertahanan Laskar Sembada, bola buru-buru dilepaskan ke depan. Akibatnya, Persiba tidak bisa antisipasi serangan balik lawan. Umpan dari penggawa Beruang Madu berhasil disundul oleh Zamzani untuk kemudian diteruskan ke Adi yang bermain sebagai penyerang.

Adi kemudian memberikan lay off kepada Lastori yang berlari ke depan dan menghadap ke gawang lawan. Budi memberikan support dengan mengisi koridor di sisi jauh dan kemudian mencetak angka.

Terdapat beberapa catatan dari ketiga gol melalui serangan balik ini. Struktur bertahan yang mengakomodasi terciptanya serangan balik seperti yang terjadi pada gol pertama merupakan salah satunya. Gelandang yang memberikan cover kepada fullback yang melakukan overlap justru harus berada di situasi kalah jumlah.

Hal itu memang memudahkan Dave untuk memulai serangan balik. Namun, yang lebih penting adalah cara memanfaatkan lubang-lubang yang tercipta akibat buruknya organisasi lawan, dalam menyerang ataupun antisipasi transisi bertahan. Pemain sayap Super Elja yang bertipe pelari dan mau untuk berlari dengan dan tanpa bola juga merupakan faktor penting untuk mengeksploitasi lubang-lubang tersebut.

Laskar Sembada di bawah komando Seto memang menekankan pada permainan berbasis penguasaan bola. Akan tetapi, untuk menjadi tim yang kuat PSS juga harus unggul di momen-momen yang lain. Tidak ada tim hebat yang hanya apik dalam salah satu momen sepakbola.

Seperti yang pernah dikatakan Jose Mourinho saat menjadi pundit di skysports. “Tim yang bagus harus menguasai empat momen dalam pertandingan. Menguasai bola, tidak menguasai bola, transisi bertahan, dan transisi menyerang,” jelasnya.

“Tim milikmu bisa bermain menyerang, bisa tidak terlalu menyerang. Kamu harus ulung di setiap momen. Itu adalah hal dasar,” lanjut pelatih asal Portugal itu.

Di Stadion Batakan, Super Elja menunjukkan bahwa mereka terus berkembang menuju tim yang hebat dengan memaksimalkan momen transisi menyerang untuk memburu lawannya.

Komentar
Dani Rayoga

Football Addict | Physics Lovers | @DaniBRayoga

Comments are closed.