Analisis

Nostalgia Taktikal: Tiket PS Sleman Menuju Liga 1

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr

Sore itu (28/11/2018), setiap sudut tribun Stadion Maguwoharjo sesak dipenuhi oleh Sleman Fans. Mereka seolah berebut ingin menjadi saksi langsung sejarah perjalanan PSS Sleman di Liga 2 2018.

Perjalanan terjauh dan langkah terdekat PSS menuju Liga 1 dalam beberapa tahun terakhir perjuangannya mentas dari Liga 2. Jika pada musim-musim sebelumnya Sleman Fans harus menutup musim dengan dada sesak penuh kesedihan, maka hal berbeda terjadi di musim 2018.

Sejarah tidak berulang. Suasana haru dan kebahagiaan menyelimuti Stadion Maguwoharjo setelah PSS berhasil mengalahkan Kalteng Putra dengan skor 2-0 pada pertandingan leg kedua semifinal Liga 2 2018.

Kemenangan yang mengantarkan Laskar Sembada promosi ke Liga 1. Mari kita menyegarkan kembali ingatan akan jalannya pertandingan bersejarah tersebut.

Seto Nurdiyantoro menurunkan skuat dan formasi terbaiknya. Ega Rizky mengawal lini belakang Super Elja bersama kuartet Bagus Munyeng, Zamzani, Asyraq Gufron, dan Aditya Putra Dewa.

Trio lini tengah diisi oleh Amarzukih, Dave Mustaine, dan Ichsan Pratama. Rangga Muslim dan Rifal Lastori mengapit penyerang gaek, Cristian Gonzales, di lini depan.

Di kubu tim tamu, Kas Hartadi juga tidak banyak mengubah susunan pemainnya dan tetap memainkan formasi 433 andalannya. Pos penjaga gawang diisi oleh Riki Pambudi.

Budhiar Riza, Fandy Edy, Heri Susilo, dan Yericho Christiantoko mengawal lini belakang. Trio lini tengah diisi oleh Dendi Maulana, Dadang Apridianto, dan Ugiex Sugianto. Siswanto dan Hari Yudo mengapit Made Wirahadi di lini depan.

Gambar 1. Sebelas Pertama PSS vs Kalteng Putra

Cara PSS Atasi Man-Marking Kalteng Putra

Kalteng Putra bertahan dengan formasi 14141. Tiga gelandang Laskar Iseng Mulang bertugas menjaga tiga gelandang Laskar Sembada.

Orientasi penjagaan ketiga gelandang Kalteng Putra kepada lawannya adalah man-oriented atau melakukan penjagaan dengan cara man-to-man marking. Ugik menjaga Amarzukih, Dadang mengikuti Dave, dan Dendi mencoba menghentikan Ichsan.

PSS masih mampu menghadapi situasi tersebut, terutama dalam membangun serangan. Zamzani dan kawan-kawan mampu memaksimalkan jumlah pemain di lini belakang dengan cukup baik. Zamzani dan Gufron berhadapan dengan Wirahadi.

Situasi menjadi 3v1 jika Ega Rizky ikut terlibat. Sirkulasi di lini belakang cukup untuk melewati Wirahadi sebagai garis pressing pertama Kalteng Putra. Hal ini dipermudah dengan tidak terlalu agresifnya pressing yang diberikan oleh Wirahadi kepada pembawa bola.

Gambar 2. Bangun serangan PSS untuk melewati Wirahadi sebagai garis pressing pertama Kalteng Putra

Selanjutnya, progresi bola akan dilakukan melalui area tengah, dengan mencari gelandang, antara Amarzukih atau Dave, yang bebas.

Jika kedua pemain tersebut tidak terakses karena masih mendapat penjagaan dari lawan, Zamzani atau Gufron akan mendapatkan ruang untuk membawa bola ke depan. Cara ini cukup sukses untuk melewati pertahanan dari Kalteng Putra.

Gambar 3. Bangun serangan PSS, mencari gelandang yang bebas atau stopper naik membawa bola ke depan

Terdapat beberapa kecenderungan dalam aksi progresi selanjutnya untuk mendapatkan pemain bebas. Skema wide rotation dengan tujuan untuk menciptakan ruang di belakang fullback lawan.

Ruang tersebut kemudian dapat dimanfaatkan oleh gelandang serang untuk melakukan run in behind coba dilakukan. Hal ini umumnya dilakukan di sisi kanan dengan melibatkan Lastori, Ichsan, dan Bagus Munyeng.

Skema di atas hanya dilakukan saat fullback lawan keluar dari posisinya untuk menjaga Lastori. Jika fullback lawan tetap dalam posisinya atau terlambat mengikuti pergerakan pemain sayap, Amarzukih atau Zamzani akan memberikan bola kepada Lastori.

Saat fullback lawan mencoba memberikan pressure kepada Lastori, Ichsan baru akan melakukan run in behind untuk memanfaatkan ruang yang ditinggalkan fullback lawan.

Ada dua kemungkinan akibat aksi ini. Bola diumpan kepada Ichsan atau Lastori melakukan cut inside memanfaatkan ruang yang ditinggalkan Dendi yang menjaga Ichsan secara man-oriented.

Gambar 4. Kecenderungan serangan PSS dari sisi kanan

Serangan dari sisi kiri sedikit berbeda. Hal ini disebabkan oleh Dave yang lebih aktif ikut naik membantu serangan di ruang tengah dan ruang apit sebelah kiri.

Saat Dave mampu melepaskan diri dari penjagaan lawan dan menerima bola, dia tidak akan langsung mengumpan pada Ichsan atau Rangga. Dave akan membawa bola ke depan kemudian memberikan bola kepada Ichsan di ruang antar lini atau kepada Rangga yang tinggal berhadapan dengan fullback lawan.

Gambar 5. Kecenderungan serangan PSS dari sisi kiri

Dari skema serangan yang dilakukan ini, PSS sering mendapatkan situasi langsung berhadapan dengan backline lawan. Dari sisi kanan, pergerakan Ichsan sering diikuti oleh salah satu stopper lawa.

Oleh karena itu, Gonzales tinggal berhadapan dengan satu stopper saja. Ichsan yang sering mendapat bola di ruang antar lini dari Dave juga bisa langsung berhadapan dengan backline lawan.

Beberapa situasi ini tidak dimaksimalkan dengan cukup baik. Selain karena eksekusi crossing atau final pass yang kurang baik, minimnya gerakan dukungan dari pemain yang tidak membawa bola untuk mengacaukan backline lawan juga membuat penciptaan peluang menjadi tidak maksimal.

Dua gol yang dicetak oleh El Loco tidak berawal dari bangun serangan yang terencana. Gol pertama berawal dari sapuan bola pemain Kalteng yang diterima oleh Amarzukih dan gol kedua berasal dari situasi bola mati.

Antisipasi Serangan Balik dan Bola Panjang

PSS mengendurkan serangan setelah gol kedua. Dua gol dirasa sudah cukup aman. Hal ini dimanfaatkan oleh Kalteng Putra untuk berusaha mengejar ketertinggalan. Selain pada momen ini, Laskar Isen Mulang mencoba mencuri gol dengan memanfaatkan serangan balik dan long ball.

Beberapa peluang emas berhasil didapatkan oleh Yudo dan kawan-kawan memanfaatkan momen tersebut. PSS beruntung, Ega tampil apik untuk mementahkan semua tendangan yang mengarah ke gawangnya.

Saat mengantisipasi serangan direct Kalteng Putra dengan umpan panjang melambung, barisan pertahanan PSS beberapa kali kecolongan.

Wirahadi yang menjadi target serangan Kalteng Putra turun untuk mengambil posisi disekitar Amarzukih. Sementara itu, Dadang, Ugiex, Siswanto, dan Yudo langsung bersiap untuk mengantisipasi lay-off atau bola kedua.

Masalah yang sering muncul adalah sering ikutnya salah satu stopper untuk mengikuti Wirahadi. Hal ini meninggalkan lubang di lini belakang PSS. Saat Wirahadi mampu memenangkan duel udara dan meneruskan bola kepada Yudo, pemain sayap itu akan berada dalam situasi yang menguntungkan.

Gambar 6. Long Ball Kalteng Putra beberapa kali merepotkan pertahanan PSS

Sedangkan pada momen transisi bertahan, jarak antara lini depan dan lini belakang Super Elja sering terlalu jauh. Hal ini membuat PSS sedikit kesulitan jika ingin kembali menguasai bola. Kalteng Putra pun menjadi nyaman dalam melakukan serangan balik.

Pembagian posisi yang sudah cukup baik menjadi percuma jika jarak antar lini cukup lebar. Pemain Kalteng Putra yang membawa bola dan menginisiasi serangan balik menjadi mendapat lebih banyak waktu untuk mengacaukan struktur bertahan PSS dan menunggu rekannya menempati posisi yang lebih baik.

 

Gambar 7. Jarak antar lini yang lebar menyulitkan PSS dalam mengantisipasi serangan balik Kalteng Putra

Pada akhirnya pertandingan selesai dengan skor 2-0 untuk tuan rumah. Pertandingan yang lebih penting dibandingkan partai final Liga 2.  Seto bahkan menyebutkan bahwa pertandingan melawan Kalteng Putra adalah pertandingan final sebenarnya.

PSS tampil mendominasi hingga gol kedua, namun Kalteng Putra tetap beberapa kali mampu mengancam gawang PSS. Lini belakang Super Elja memang beberapa kali melakukan kesalahan, namun semua terselamatkan oleh Ega yang tampil tanpa celah.

Kemenangan yang bersejarah bagi PS Sleman. Kemenangan yang mungkin akan selalu diingat oleh Sleman Fans. Entah jalannya pertandingan atau luapan emosinya saat peluit panjang dibunyikan. Sebuah kemenangan yang juga membuat kita semua optimis bahwa PSS bisa menjadi klub yang lebih baik lagi.

Komentar
Dani Rayoga

Football Addict | Physics Lovers | @DaniBRayoga

Comments are closed.