Editorial

Perkara Gaya Bermain Super Elja

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr

Di sini tak ada yang melarang untuk melantunkan suara sumbang soal permainan. Termasuk yang berujung pada kampanye #DejanOut misal. Namun, apalah arti sebuah kritik jika tidak kontekstual.  Untuk mendapatkan latar belakang atas perkara itu, mari mendekatkan diri kepada si kulit bulat.

Sepak Bola Proaktif dan Reaktif dalam Teori

Menyerang dan bertahan — serta transisi — dalam permainan sepak bola merupakan kesinambungan dalam suatu siklus tertutup. Sayang, pada satu waktu tertentu, sebuah kesebelasan hanya bisa menitikberatkan satu di antaranya.

Mereka yang memilih melimpahkan banyak fokus terhadap fase menyerang, menghasilkan gaya bermain proaktif. Tim yang mengambil jalan ini akan mengambil inisiatif serangan terlebih dahulu. Sebelas penggawa di atas rumput berusaha menguasai bola sedominan mungkin.

Logikanya sederhana. Kesebelasan yang menguasai bola lebih banyak, memiliki kesempatan yang lebih banyak pula untuk menciptakan peluang. Karena punya segudang peluang, kemungkinan untuk mencetak gol juga lebih banyak.

Pep Guardiola membaptiskan diri di jalan tersebut. Pelatih-pelatih yang seperguruan dengannya di Barcelona pun begitu. Spanyol bisa menguasai sepak bola dari 2008 hingga 2012 juga memakai cara yang sama. Contoh yang lebih dekat, Seto Nurdiyantoro menggunakan gaya itu pula.

Bersisihan dengan model proaktif, lahir gaya reaktif. Orang-orang di dalamnya menitikberatkan permainan pada fase bertahan. Style inilah yang publik sering diasosiasikan dengan sepak bola pragmatis, walau Sir Dalipin dengan tegas menolak menyebutnya seperti itu. Begitu pula dengan kami.

Sederhanyanya, tim dengan gaya reaktif memilih mengamankan terlebih dahulu rumahnya (baca: gawang). Mereka membiarkan kesebelasan lawan membawa bola. “Toh, musuh tak akan bisa menembus pertahanan,” pikir tim reaktif.

Lalu, bagaimana mencetak golnya kalau tidak pernah menguasai bola?

Jose Mourinho, pentolan sepak bola reaktif pernah memaparkan hal itu. Logikanya tim yang menguasai bola, cenderung memiliki kemungkinan yang lebih besar untuk melakukan kesalahan. Padahal, kesebelasan yang banyak melakukan kesalahan punya banyak peluang untuk kebobolan.

Jika bertanya bagaimana mencetak golnya, ya tinggal manfaatkan kesalahan lawan dengan counter-attack. Oleh karena itu, gaya reaktif lekat dengan skema defend-counter. Bertahan dahulu, menyerang balik kemudian.

Mourinho dan Diego Simeone merupakan pengikut setia model itu. Kejutan Leicester City pada 2016 juga melalui jalan tersebut. Prancis menggondol Piala Dunia 2018 menggunakan gaya reaktif pula.

Bahkan, PS Sleman era Seto dihajar PSIS Semarang dua kali di Stadion Maguwoharjo juga karena Laskar Mahesa Jenar memainkan sepak bola tersebut.

Adu mulut perkara model mana yang lebih baik, memang kerap terjadi. Namun, karena menyerang dan bertahan merupakan sebuah siklus, perdebatan tersebut tak ubahnya cek-cok perkara lebih dahulu ayam atau telur. Omong kosong itu tidak akan membawa Anda ke mana-mana.

Dua gaya tersebut berakar pada landasan yang sama. Pendekatan logika dari keduanya pun masuk akal, meski berbeda 180 derajat. Perkara prestasi, keduanya juga bersaing. Jadi, pada level setara, tak ada yang lebih baik maupun lebih buruk di antara gaya proaktif maupun reaktif.

Cukup teorinya.

Problem Terkini Laskar Sembada

Dejan Antonic memang punya track record dalam memainkan sepak bola reaktif. Seperti yang baru saja dipaparkan di atas, mudah untuk mengambil kesimpulan bahwa di tataran filosofi, tak ada yang salah dengan pelatih kelahiran Serbia itu.

Kemudian, turun ke ranah eksekusi dari ide defend-counter di kepala Dejan.

Ketika PSS bermain reaktif, berarti memang sejak awal tak ingin banyak menguasai bola. Konsekuensinya, frekuensi aksi pemain dengan bola juga akan lebih sedikit. Aksi tersebut hanya akan terjadi pada saat transisi positif, ketika tim melakukan serangan balik.

Salah satu karakteristik dari serangan balik adalah kecepatan. Artinya, fase transisi tersebut harus memakan waktu sesedikit mungkin, dengan tujuan utama mencetak gol. Dengan begitu, pemain PSS dituntut mengambil keputusan yang tepat dengan kualitas eksekusi sempurna dalam tempo singkat.

Itu baru bicara satu kesempatan counter-attack. Dalam sebuah kompetisi dengan 30-an kali pertandingan, mungkin akan terjadi ratusan kali serangan balik. Konsistensi penggawa Super Elja untuk melakukan aksi yang tepat dengan kualitas tanpa cela sangat amat dibutuhkan.

Jika butuh contoh, lihat laga Barcelona vs Chelsea pada semifinal Liga Champions tahun 2012. Peluang Si Biru bisa dihitung jari selama laga. Namun, di menit terakhir, Fernando Torres punya kesempatan. Dalam waktu beberapa detik, keputusan dan kualitas aksinya sempurna untuk mencetak gol.

Bayangkan bila ia gagal saat itu. Pasti yang dilemparkan publik adalah cemoohan bukan?

Ketiadaan ruang untuk melakukan kekeliruan tersebut menjadi akar masalah. Problemnya, jika pemain melakukan kesalahan setitik saja, penonton akan mudah mengingat kealpaan itu, karena sedikitnya aksi dengan bola dalam satu laga. Itulah alasan mengapa PSS terlihat ambyar saat ini.

Benang merahnya cukup jelas. Agar permainan dapat terlihat bagus dengan skema defend-counter, PSS butuh pemain dengan pengambilan keputusan dan kualitas eksekusi sempurna, setidaknya untuk level sepak bola indonesia. Boleh tengok kesebelasan lain yang sukses dengan sepak bola reaktif jika ragu.

Prancis juara Piala Dunia 2018 dengan kecepatan dan dribble tanpa cela Kylian Mbappe. Leicester City pada musim 2016 punya Riyadh Mahrez dan Jamie Vardy. PSIS Semarang tahun 2019 menjungkalkan Super Elja dengan Claudir Marini, Bruno Lopez, Hari Nur, serta Septian David.

Persimpangan yang Dilematis

Ujung dari kasus tersebut menempatkan PSS di persimpangan yang dilematis. Super Elja harus menyelesaikan salah satu problem klasik sepak bola: pemain beradaptasi dengan filosofi pelatih atau ide pelatih menyesuaikan pemain.

Andai tetap ingin bermain defend-counter seperti ide Dejan, penggawa Super Elja harus naik level dari segi kualitas. Terdapat dua cara untuk mencapai tujuan itu: cari pemain dengan kapasitas lebih baik, atau metode yang lebih arif dengan meningkatkan mutu pemain yang tersedia.

Namun, jika ingin tetap memakai pemain yang dimiliki sekarang, PSS bisa mulai melirik alternatif gaya bermain lain — meski pada akhirnya peningkatan mutu pemain juga diperlukan.

Untuk melakukan hal tersebut, ada dua jalan: ganti pelatih dengan gaya bermain berbeda, atau cara yang lebih bijak adalah menurunkan ego Dejan untuk menyesuaikan idenya dengan pemain yang ada saat ini.

Keputusan yang harus diambil Super Elja memang tak mudah. Saking peliknya perkara teknis sekarang ini, muncul sebuah kelakar bahwa PSS bisa selamat jika dan hanya jika Nico Velez dan Irfan Jaya bisa bermain layaknya Harry Kane dan Son Heung-min di bawah Mourinho.

Begitulah. Sudut pandang sepak bola akan membawa problem Laskar Sembada sampai ke titik yang sudah dipaparkan. Namun, “sepak bola” di mana PSS bergelut saat ini tidak hanya melulu soal pergulatan di atas rumput hijau antar kesebelasan.

Sepak bola tersebut terkait pula dengan elemen-elemen lain yang mana suara mereka boleh jadi perlu didengarkan — andai tak dianggap sebagai ekosistem di luar klub, eh. Misalnya saja suporter yang terkesan tidak sreg dengan gaya bermain Super Elja saat ini.

Atau yang masih sama-sama di ranah teknis adalah mengenai PSS Development Center. Departemen tersebut menerbitkan Super Elja Method di mana mereka menggunakan gaya bermain proaktif. Sementara itu, tim senior justru menerapkan playing style reaktif.

Memang, pemain usia muda sebenarnya belajar prinsip yang dapat diterapkan baik dalam gaya proaktif maupun reaktif ketika menginjak level senior. Namun, jika tujuannya ingin membangun ekosistem, apakah tidak lebih baik di ranah development hingga senior menggunakan gaya bermain yang sama?

Apalagi, dalam satu kasus yang pernah terjadi, keputusan untuk tidak memperpanjang kontrak pemain didasarkan pada filosofi. Jangan sampai pemain muda berkualitas jebolan PSS Development Center akhirnya hanya menjadi giveaway untuk klub lain.

Semoga saja manajemen sudah — atau paling tidak sedang — membicarakan dan mencarikan solusi atas perkara-perkara tersebut. Jangan sampai PSS justru terkesan seperti tim yang terlalu banyak drama kurang diskusi.

Komentar
Andhika Gilang

Dapat dihubungi secara personal melalui akun @AndhikaGila_ng

Comments are closed.