Opini

Piala Indonesia: Derbi DIY Jilid Tiga dan Kompetisi yang Tak Kompetitif

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr

Butuh hampir separuh musim bagi Wahyu Sukarta untuk meneteskan keringatnya di jersey nomor 6 PSS Sleman tahun ini. Laga melawan PSD Demak di Piala Indonesia jadi debut baginya setelah kesulitan bersaing dengan pemain tengah lainnya di ajang liga.

Pada pertandingan itu, Laskar Sembada berhasil menghempaskan tuan rumah melalui gol tunggal Adi Nugroho dari titik putih dan meloloskan PSS Sleman ke babak 64 besar. Seto beralasan faktor lapangan di Stadion Citarum, Semarang tidak begitu rata sehingga anak asuhnya kesulitan mengembangkan pertandingan dan hanya bisa menang tipis.

Keadaan seperti itu lazim terjadi pada kompetisi piala liga seperti Piala Indonesia. Apalagi di Indonesia tidak semua stadion memiliki lapangan yang dalam kondisi apik. Kewajiban tim di kasta yang lebih tinggi bertandang ke kandang klub yang berada di kasta bawah membuat mereka harus beradaptasi dengan lapangan seadanya.

Namun, justru di situlah kesempatan bagi tim di kasta bawah untuk merepotkan tim yang memiliki kelas di atas mereka. Kompetisi Piala Indonesia bisa dijadikan ajang unjuk gigi bagi tim yang berada di kasta bawah untuk menunjukkan eksistensinya dalam kancah persepakbolaan Indonesia.

Sekjen PSSI, Ratu Tisha Destria, pernah mengatakan bahwa babak 64 besar akan diadakan pada akhir September. Namun, baru hari Sabtu (10/11) Piala Indonesia mendapat kepastian setelah melewati masa-masa hidup segan mati tak mau. Menggandeng Kratingdaeng sebagai sponsor, akhirnya pengundian babak 64 besar diumumkan juga.

Sejatinya, beberapa bulan lalu, desas-desus hasil undian babak 64 besar sudah muncul. Tak sekadar rumor belaka, beberapa laga hasil undian saat itu sama persis dengan yang diumumkan oleh PSSI hari ini. Misalnya saja, laga antara PSS Sleman menghadapi Persibara Banjarnegara.

Berdasarkan bagan yang digambarkan oleh Jawa Pos TV, tampaknya ada peluang jilid ketiga dari Derbi DIY dilaksanakan. Pertandingan itu dapat terwujud jika saja Super Elja dapat mengalahkan Persibara Banjarnegara, sedangkan PSIM Yogyakarta menang lawan tetangga satu kontrakan di musim ini, PS TIRA.

Derbi DIY selalu menjadi laga yang menarik. Atmosfer laga ini selalu terasa di kota madya dan kabupaten paling utara dari Daerah Istimewa Yogyakarta, bahkan sejak jauh-jauh hari. Rivalitas historis kedua tim ini menjadi penyebabnya. Gesekan pun tak jarang terjadi anatara kedua kubu suporter.

Jilid ketiga dari Derbi DIY di tahun ini bisa jadi ajang revans bagi PSIM Yogyakarta yang dipermalukan empat gol tanpa balas di Maguwoharjo. Namun, dalam suasana bangga setelah menghajar rival di laga itu, PSS Sleman tetap di atas angin. Yang jelas, bagi kedua tim, laga ini adalah harga diri sama seperti jilid-jilid sebelumnya sebagaimana pula derbi panas di belahan dunia manapun.

Selain ada peluang terlaksananya Derbi DIY jilid tiga, ada pula yang menarik dari Piala Indonesia musim ini. Kompetisi yang diikuti oleh peserta Liga 3, Liga 2, dan Liga 1 tersebut, kini harus menghadapi tantangan berupa kebiasaan khas klub-klub di Indonesia, yakni pembubaran tim.

Mayoritas kesebelasan di Indonesia, terutama yang berada di kasta bawah, terbiasa melakukan pembubaran tim setelah dipastikan tak melangkah ke babak selanjutnya dalam ajang liga. Keputusan itu juga tak sepenuhnya bisa disalahkan. Perencanaan anggaran tim sepakbola di negara ini memang menggantungkan diri pada tiket.

Jika sudah dipastikan tak melangkah ke babak selanjutnya di ajang liga, tidak ada lagi pertandingan yang digelar secara reguler. Artinya tidak ada pendapatan yang masuk secara rutin. Tak ada pemasukan berarti tak ada dana untuk membayar gaji pemain.

Selain itu, mayoritas tim juga memberi kontrak pemain terbatas dengan durasi 10 bulan. Jika harus menunggu hingga kompetisi liga berakhir, berarti kontrak pemain harus diperpanjang. Anggaran menjadi membengkak sementara tak ada lagi pemasukan dari tiket. Memangnya ada yang mau menutup defisit anggaran tersebut? Membubarkan tim adalah solusi bagi mereka.

Pihak PSSI sendiri mengatakan bahwa babak 64 besar PIala Indonesia berlangsung pada November hingga Desember. Sementara itu, babak 32 besar hingga final dilaksanakan pada Januari hingga Maret 2019 setelah liga usai. Padahal, hingga saat ini beberapa klub peserta babak 64 besar sudah membubarkan timnya, dan jumlahnya akan terus bertambah ketika ada peserta lain gugur di liga.

Yang jadi pertanyaan adalah apabila banyak tim sudah membubarkan skuatnya karena himpitan ekonomi, lalu siapa yang akan bermain dalam Piala Indonesia? Apakah tim yang telah bubar diwajibkan mengumpulkan kembali pemainnya dengan ancaman dicabut haknya bermain di liga seperti yang terjadi kepada PPSM Magelang, Sragen United, dan Persih Tembilahan?

Beginilah kenyataan Piala Indonesia. Kompetisi yang diproyeksikan menjadi piala liga, namun tidak berlangsung bersamaan dengan liga itu sendiri. Walaupun membangkitkan gairah tersendiri karena ada peluang untuk bersua tetangga dalam tajuk Derbi DIY, tetapi di sisi lain atmosfer ajang ini tak terlalu kompetitif akibat beberapa pesertanya sudah membubarkan diri.

Lalu, bagaimana dengan target PSS Sleman?

Komentar
Andhika Gilang

Dapat dihubungi secara personal melalui akun @AndhikaGila_ng

Comments are closed.